Menhan Sjafrie: Perawatan Hercules C-130H oleh GMF Jadi Tonggak Kemandirian Alutsista
Baca dalam 60 detik
- GMF berhasil memodifikasi besar-besaran Hercules C-130H A-1319 milik TNI AU, menandai pertama kalinya pekerjaan serupa dilakukan di luar fasilitas Lockheed Martin.
- Keberhasilan ini menjadi modal bagi Indonesia untuk mengembangkan fasilitas MRO Hercules terbesar di Asia di Bandara Kertajati, sekaligus memperkuat industri pertahanan dalam negeri.
- Dengan perpanjangan usia pakai pesawat hingga 20 tahun, langkah ini diproyeksikan menghemat anggaran pertahanan dan mengurangi ketergantungan pada pihak asing.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa Indonesia telah mengambil langkah signifikan menuju kemandirian dalam pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista), ditandai dengan suksesnya PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) melakukan perawatan berat pada pesawat angkut Hercules C-130H milik TNI AU. Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan fondasi bagi kedaulatan pertahanan nasional di masa depan.
Dalam seremoni penyerahan pesawat Hercules C-130H dengan nomor registrasi A-1319 dari GMF kepada Kementerian Pertahanan di hanggar Bandara Soekarno-Hatta, Rabu, Sjafrie menyebut momen ini sebagai "garis awal" di mana Indonesia "sudah berdiri di atas kaki kita sendiri" dalam hal modernisasi pesawat transport militer. Pekerjaan yang dilakukan GMF mencakup penggantian center wing box, peningkatan avionik, dan program integritas strukturalโsebuah paket modifikasi besar yang selama ini hanya mampu dilakukan oleh pabrikan asal Amerika Serikat, Lockheed Martin.
Keberhasilan ini tidak lepas dari transfer teknologi yang dijalankan GMF bersama Lockheed Martin. Sjafrie optimistis, dengan kapabilitas yang kini dimiliki, GMF dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan mampu merawat tidak hanya pesawat angkut, tetapi juga pesawat tempur dan pesawat intai di masa mendatang. Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk membangun fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) Hercules di Bandara Kertajati, Jawa Barat, yang ditargetkan menjadi yang terbesar di Asia.
Direktur Utama GMF, Andi Fahrurrozi, mengungkapkan bahwa penyelesaian proyek ini menjadi tonggak sejarah bagi perusahaan dan membuktikan bahwa industri dalam negeri mampu mendukung kebutuhan strategis pertahanan secara berkelanjutan. "Sebuah kebanggaan bagi GMF dapat menyelesaikan proyek modernisasi pesawat A-1319," ujarnya. Ia menambahkan bahwa seluruh proses modernisasi dilakukan sesuai dengan regulasi yang ditetapkan oleh IDAA, memastikan pesawat siap kembali bertugas mendukung operasional TNI AU.
Bagi Indonesia, pencapaian ini memiliki implikasi ekonomi dan strategis yang luas. Dengan kemampuan merawat sendiri alutsista, Indonesia dapat menghemat devisa yang selama ini dikeluarkan untuk mengirim pesawat ke luar negeri. Lebih dari itu, pengembangan MRO di Kertajati berpotensi menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja baru, sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat industri pertahanan dalam negeri. Namun, tantangan ke depan adalah memastikan keberlanjutan transfer teknologi dan peningkatan kapabilitas SDM lokal agar tidak hanya menjadi perakit, tetapi juga perancang.
Keberhasilan GMF ini juga menjadi sinyal positif bagi kepercayaan internasional terhadap kemampuan industri MRO Indonesia. Dengan reputasi yang terbangun, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi tujuan perawatan pesawat militer dari negara-negara kawasan. Pertanyaannya, akankah pemerintah dan industri dalam negeri mampu memanfaatkan momentum ini untuk melangkah lebih jauh, misalnya dalam pengembangan pesawat tempur sendiri? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah hari ini telah membuka pintu menuju kemandirian yang selama ini diidamkan.



