Studi Oxford: Primata Ternyata 'Memelihara' Hewan Lain, dari Tikus hingga Rusa
Baca dalam 60 detik
- Riset di jurnal Primates mengungkap 427 kasus interaksi sosial antarspesies yang melibatkan 88 jenis primata dan 127 spesies hewan lain, dari bermain hingga saling menyisik.
- Perilaku ini diduga menjadi cikal bakal kebiasaan manusia memelihara hewan peliharaan, meski sebagian besar interaksi primata bersifat singkat dan tidak seintensif hubungan manusia-hewan.
- Temuan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut tentang asal-usul domestikasi hewan, sekaligus mengingatkan bahwa tidak semua interaksi berakhir damai.

Perilaku sosial primata ternyata tidak hanya terbatas pada sesama jenis. Sebuah studi internasional yang dipimpin peneliti University of Oxford dan dipublikasikan di jurnal Primates pada Juli 2026 mengungkap bahwa kera, monyet, dan primata lain kerap menjalin kedekatan dengan hewan dari spesies berbeda—mulai dari tikus, anjing, hingga rusa—sebuah fenomena yang mengingatkan pada kebiasaan manusia memelihara hewan peliharaan.
Tim peneliti mengumpulkan 427 kasus interaksi antarspesies dari literatur ilmiah, laporan media, dan survei terhadap para ahli primata di berbagai negara. Data tersebut mencakup 88 spesies primata yang berinteraksi dengan 127 spesies hewan lain, baik di habitat liar maupun di penangkaran. Temuan ini menjadi salah satu bukti paling komprehensif bahwa perilaku sosial lintas-spesies pada primata jauh lebih umum daripada perkiraan sebelumnya.
Sejumlah contoh menarik terekam dalam studi ini. Di Kebun Binatang Shanghai, seekor owa berpipi putih justru memungut dan membelai tikus yang masuk ke kandangnya, alih-alih menjadikannya mangsa. Di Thailand, kera ekor pendek terlihat menyisik bulu anjing liar di area kuil. Sementara di Jepang, monyet macaca telah lama dikenal gemar menunggangi dan merawat rusa sika. Fenomena serupa juga ditemukan di Sri Lanka, di mana seekor lutung membelai tupai raksasa.
Mayoritas interaksi yang tercatat bersifat ramah, didominasi aktivitas bermain dan saling menyisik. Menariknya, pola perilaku ini berkaitan dengan usia dan jenis kelamin. Primata muda lebih sering terlibat dalam permainan dengan hewan lain, sementara betina dewasa lebih cenderung menyisik. Sebaliknya, jantan dewasa paling jarang menunjukkan sikap bersahabat terhadap spesies lain. Hampir semua interaksi dimulai oleh primata itu sendiri, bukan oleh hewan lain, dan kedekatan lebih sering terjadi antara spesies yang masih berkerabat, meski ada pula kasus yang melibatkan hewan yang jauh berbeda seperti anjing dan burung.
Namun, tidak semua interaksi berjalan damai. Sebanyak 26 kasus tergolong kasar, termasuk seekor babon jantan di Arab Saudi yang membawa anak anjing dalam waktu lama. Dari seluruh kasus, 13 berakhir dengan kematian hewan yang berinteraksi, seperti burung, trenggiling, dan kucing. Peneliti menduga kematian tersebut bukan akibat niat jahat primata, melainkan karena cara mereka 'merawat' yang tidak tepat—sebuah pengingat bahwa naluri mengasuh pada primata tidak selalu sejalan dengan keselamatan hewan lain.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi besar. Sebagai negara dengan megabiodiversitas, Indonesia adalah rumah bagi berbagai spesies primata endemik seperti orangutan, bekantan, dan tarsius. Riset ini membuka peluang bagi para peneliti lokal untuk mengamati perilaku serupa di habitat alami, yang dapat memperkaya pemahaman tentang etologi primata Nusantara. Selain itu, fenomena ini juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan konservasi dan ekowisata, terutama di kawasan yang sering terjadi interaksi antara primata dan hewan domestik.
Para peneliti menekankan bahwa perilaku ini tidak sepenuhnya sama dengan memelihara hewan peliharaan pada manusia. Sebagian besar interaksi antarspesies pada primata bersifat singkat dan tidak berkelanjutan, sementara hubungan manusia dengan hewan peliharaan umumnya berlangsung lama dan penuh perhatian konsisten. Meski demikian, studi ini memberikan petunjuk bahwa rasa ingin tahu, toleransi, dan keinginan merawat makhluk lain mungkin telah mengakar jauh sebelum manusia modern berevolusi.
Keterbatasan studi ini adalah data yang terkumpul hanya berasal dari kasus yang berhasil diamati ilmuwan atau terekam kamera, sehingga belum menggambarkan frekuensi sebenarnya di alam. Peneliti berharap temuan ini mendorong pengamatan sistematis di masa depan, baik pada primata liar maupun di penangkaran. Apakah perilaku 'memelihara' ini merupakan warisan evolusioner yang juga membentuk ikatan manusia dengan hewan peliharaan? Atau justru sekadar fenomena kebetulan yang langka? Penelitian lebih lanjut akan menjadi kunci untuk menjawab teka-teki ini.



