Bakteri Sungai di Jepang Terbukti Mampu Mengurai 'Bahan Kimia Abadi' PFAS: Harapan Baru Dekontaminasi Lingkungan
Baca dalam 60 detik
- Tim peneliti Universitas Kobe menemukan bakteri di sedimen Sungai Samondo, Osaka, yang efektif menurunkan konsentrasi PFOS dan PFOA, dua jenis PFAS yang paling banyak dikhawatirkan.
- Temuan ini membuka peluang metode bioremediasi berbasis bakteri alami yang lebih murah dan ramah lingkungan dibandingkan teknologi penanganan limbah konvensional.
- Jika skala uji coba berhasil ditingkatkan, teknologi ini berpotensi diadopsi di Indonesia untuk membersihkan kontaminasi PFAS di kawasan industri dan militer.

Tim peneliti dari Universitas Kobe, Jepang, berhasil mengidentifikasi strain bakteri pada sedimen sungai yang mampu menghilangkan zat per- dan polifluoroalkil (PFAS), atau yang kerap dijuluki 'bahan kimia abadi'. Penemuan ini menjadi angin segar bagi upaya global membersihkan lingkungan dari senyawa yang dikenal sangat sulit terurai tersebut.
PFAS telah menjadi momok lingkungan karena ikatan karbon-fluorinnya yang sangat kuat, membuat senyawa ini bertahan lama di alam. Akumulasinya ditemukan di perairan, tanah, hingga satwa liar, terutama di sekitar kawasan militer dan industri. Di Indonesia, kekhawatiran serupa mulai mengemuka seiring maraknya penggunaan PFAS pada produk tekstil, busa pemadam kebakaran, hingga peralatan dapur antilengket.
Studi yang dipublikasikan di Journal of Water Process Engineering edisi Agustus ini mengambil sampel sedimen dari Sungai Samondo di Prefektur Osaka. Dari sana, para peneliti mengisolasi bakteri yang secara signifikan mampu mengurangi konsentrasi PFOS (asam perfluorooctanesulfonic) dan PFOA (asam perfluorooctanoic), dua jenis PFAS yang paling banyak dipelajari dan diregulasi.
Menariknya, uji lanjutan menunjukkan bahwa salah satu strain bakteri tersebut juga efektif menurunkan kadar PFAS dalam air lindi dari tempat pembuangan akhir limbah industri. Ini mengindikasikan bahwa metode ini tidak hanya bekerja di laboratorium, tetapi juga berpotensi diaplikasikan pada kondisi nyata di lapangan.
"Jika kita dapat mengkultur dan memanfaatkan bakteri dari lingkungan alami, kita bisa melakukan dekontaminasi dengan biaya lebih rendah," ujar Hideyuki Inui, profesor asosiasi di Universitas Kobe yang terlibat dalam penelitian ini. Pernyataan ini menggarisbawahi harapan akan solusi yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi pengolahan air yang ada saat ini.
Mekanisme utama yang ditemukan adalah adsorpsi PFAS pada sel bakteri, bukan degradasi. Hal ini penting karena selama ini penelitian lebih banyak berfokus pada kemampuan bakteri untuk memecah senyawa tersebut. Temuan ini membuka perspektif baru bahwa penyerapan oleh biomassa juga bisa menjadi strategi efektif untuk memindahkan kontaminan dari lingkungan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat belum adanya regulasi ketat mengenai PFAS, sementara penggunaan bahan tersebut cukup luas di sektor industri. Pencemaran PFAS di perairan Indonesia berpotensi mengancam kesehatan masyarakat dan ekosistem. Adopsi teknologi bioremediasi seperti ini bisa menjadi solusi yang tepat, terutama di kawasan industri yang tercemar.
Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa masih banyak yang belum diketahui, seperti jenis bakteri lain yang terlibat dan peran degradasi versus adsorpsi dalam proses pembersihan. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi strain yang paling efisien dan memahami kondisi optimal untuk aplikasi skala besar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah metode ini dapat ditingkatkan dari skala laboratorium ke tingkat komersial, dan bagaimana regulasi di berbagai negara akan merespons teknologi baru ini. Dengan meningkatnya kesadaran global akan bahaya PFAS, inovasi seperti ini tidak hanya menjanjikan bagi Jepang, tetapi juga bagi negara-negara berkembang yang menghadapi tantangan pencemaran serupa.



