ISPA di Jawa Timur Tembus 200 Ribu Kasus, Dinkes Bantah Wabah Influenza A
Baca dalam 60 detik
- Kasus ISPA di Jawa Timur melonjak hingga lebih dari 200 ribu pada Agustus 2026, dipicu kemarau ekstrem, polusi, dan karhutla.
- Dinas Kesehatan Jatim menegaskan lonjakan ini bukan wabah Influenza A, melainkan pola musiman yang diperparah faktor lingkungan.
- Kunjungan rumah sakit naik 40-60 persen, namun layanan kesehatan masih dinilai mampu menangani lonjakan pasien.

Jawa Timur mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang signifikan sepanjang musim kemarau 2026. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr. Erwin Astha Triyonno, mengungkapkan bahwa rata-rata kasus bulanan melonjak dari 117 ribu pada 2025 menjadi 147 ribu pada 2026, dengan puncak di Agustus 2026 yang menembus lebih dari 200 ribu kasus. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan memicu kekhawatiran akan kapasitas layanan kesehatan.
Menurut Erwin, cuaca ekstrem selama kemarau menjadi pemicu utama, diperparah oleh polusi udara dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah. "Pada bulan Agustus itu ada peak-nya, kurang lebih 200.000 sekian. Dan itu pola di mana berkaitan dengan musim kemarau. Dibarengi juga dengan polusi mungkin, atau kebakaran hutan, atau yang lain-lain," ujarnya, Jumat (2/10).
Lima daerah menyumbang kasus terbanyak: Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, serta Kabupaten dan Kota Malang. Konsentrasi kasus di wilayah padat penduduk ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan urbanisasi turut berperan dalam penyebaran ISPA.
Di tengah lonjakan ini, Dinkes Jatim membantah keras kabar yang menyebut puluhan ribu warga terjangkit Influenza A. Erwin menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki data khusus tingkat provinsi untuk penyakit tersebut. "Jatim enggak punya data untuk Influenza A. Itu data site, data nasional, tapi site sentinel-nya ada di Kota Malang. Itu enggak bisa terus dijadikan mewakili Kota Malang, mewakili Jawa Timur," tegasnya. Data yang ada berasal dari pemantauan fasilitas kesehatan, termasuk RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang sebagai site sentinel nasional.
ISPA sendiri dapat disebabkan oleh berbagai agen, mulai dari virus, bakteri, hingga jamur. Gejala umum seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan perlu diwaspadai, terutama pada kelompok rentan: bayi, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Penularan melalui droplet dapat dicegah dengan disiplin memakai masker, terutama di tempat kerumunan.
"Yang sakit khususnya pakai masker. Yang kedua, di tempat kerumunan, meskipun kita sehat, upayakan pakai masker." โ dr. Erwin Astha Triyonno
Meski kasus melonjak, Dinkes Jatim memastikan fasilitas kesehatan dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan masih mampu menangani pasien. Erwin menyebut kenaikan kunjungan rumah sakit sekitar 40-60 persen, namun masih dalam batas terkendali. "Teman-teman rumah sakit relatif memang ada kenaikan, tapi sekitar 40 sampai 60 persen. Dalam tanda kutip masih mampu laksana," jelasnya.
Masyarakat diimbau tidak panik dan tetap waspada. Pencegahan menjadi kunci utama: gaya hidup sehat, nutrisi seimbang, istirahat cukup, dan menghindari rokok. "Jangan sampai panik. Kuncinya cuma satu: kita enggak boleh lengah, tetap harus hati-hati, tapi juga jangan sampai panik," pungkasnya.
Ke depan, lonjakan ISPA di Jawa Timur menyoroti perlunya kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan publik. Dengan musim kemarau yang diprediksi semakin ekstrem, penguatan sistem surveilans dan edukasi masyarakat menjadi semakin mendesak. Apakah pemerintah daerah akan meningkatkan anggaran mitigasi kesehatan lingkungan, atau justru mengandalkan respons kuratif semata?



