Mata Kucing di Hutan Malang: Ilmuwan IPB-BRIN Abadikan Ular Langka Bermata Khas
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Indonesia berhasil mendokumentasikan Boiga drapiezii, ular bermata mirip kucing, di Malang Selatan, menambah catatan sebaran spesies yang minim data.
- Status konservasi global 'Risiko Rendah' tidak mencerminkan kondisi populasi lokal yang belum banyak diteliti, menyoroti urgensi riset biodiversitas di Indonesia.
- Temuan ini menjadi pijakan untuk memperluas kajian dan pemetaan populasi ular endemik di wilayah yang belum terjamah penelitian.

Pertemuan singkat antara seorang peneliti dan seekor ular di hutan Malang Selatan, Jawa Timur, melahirkan temuan yang menggetarkan dunia herpetologi Indonesia. Fariq Izzudien Ash Shidiq (29), peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengabadikan Boiga drapiezii, spesies ular yang dikenal dengan julukan 'banjang tupai' karena matanya yang menyerupai kucing. Perjumpaan yang berlangsung tak lebih dari sepuluh menit ini bukan sekadar catatan lapangan, melainkan bukti bahwa kekayaan fauna Indonesia masih menyimpan banyak teka-teki yang menunggu untuk diungkap.
Fariq dan rekannya menemukan ular tersebut saat menyusuri kawasan hutan dengan vegetasi rapat, sekitar 50 meter dari titik awal perjalanan. Saat itu, langit mendung dan hujan mulai turun, memaksa mereka mempersingkat pengamatan. Meski demikian, momen tersebut cukup untuk mengabadikan perilaku unik sang ular. Berbeda dengan kebanyakan ular yang cenderung agresif saat didekati, banjang tupai justru bersikap tenang dan cenderung menjauh. "Relatif santai. Saya melihatnya seperti jenis ular yang tenang, namun tetap waspada," ujar Fariq, yang juga tercatat sebagai Research Assistant di Laboratorium Entomologi BRIN.
Yang paling memikat perhatian Fariq adalah mata ular tersebut. Bentuk dan iris matanya yang khas membuatnya teringat pada mata kucing. "Matanya sangat spesial. Seperti memotret kucing-kucingan," jelasnya. Selain mata, pola warna tubuhnya yang memadukan putih dan hitam membuatnya sulit dikenali di habitat alami. Kemampuan kamuflase ini, menurut Fariq, menjadi alasan mengapa spesies ini jarang terlihat meskipun sebarannya cukup luas.
Temuan ini menjadi penting tidak hanya karena keindahan visualnya, tetapi juga karena status konservasi spesies ini. Berdasarkan IUCN, Boiga drapiezii berstatus Least Concern atau Risiko Rendah secara global. Namun, Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung (ITB), menggarisbawahi bahwa status tersebut tidak serta-merta mencerminkan kondisi populasi di Indonesia. "Kondisi populasi kurang diketahui," tegas Ganjar. Data yang terbatas disebabkan minimnya penelitian populasi di tanah air, sehingga wilayah sebaran yang belum terdokumentasi masih sangat mungkin ada.
Temuan di Malang Selatan ini menjadi pengingat bahwa masih banyak wilayah di Indonesia yang belum terjamah penelitian biodiversitas. Setiap catatan keberadaan spesies, baik berupa foto, video, maupun spesimen, dapat membantu memperjelas peta sebaran alami. Ganjar menambahkan, "Tentunya ada wilayah yang belum terdokumentasi, karena penelitian-penelitian yang dilakukan belum menyeluruh di semua wilayah." Hal ini menegaskan bahwa upaya eksplorasi dan dokumentasi spesies harus terus didorong, terutama di daerah-daerah yang secara ekologis kaya namun minim data.
"Matanya sangat spesial. Seperti memotret kucing-kucingan." โ Fariq Izzudien Ash Shidiq, peneliti IPB-BRIN.
Ke depan, temuan ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai ekologi dan populasi banjang tupai di Indonesia. Apakah spesies ini benar-benar aman dari ancaman, atau justru terancam oleh hilangnya habitat? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab melalui riset yang lebih intensif dan kolaborasi antara akademisi, lembaga riset, dan pemerintah. Dengan semakin banyaknya data yang terkumpul, kita dapat merancang strategi konservasi yang lebih tepat sasaran, memastikan bahwa keindahan mata kucing di hutan Malang ini tidak hanya menjadi kenangan sesaat.



