El Nino Terbesar Seabad Diprediksi Landa Dunia, 2027 Berpotensi Jadi Tahun Terpanas
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi Inggris (Met Office) memprediksi El Nino tahun ini akan menjadi yang terkuat dalam lebih dari satu abad, dengan anomali suhu permukaan laut Pasifik diperkirakan menembus 3 derajat Celsius.
- Fenomena ini diproyeksikan memicu kekeringan parah di sejumlah kawasan tropis, termasuk Asia Tenggara, dan berpotensi mengerek suhu global sehingga menjadikan 2027 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah.
- Para ilmuwan memperingatkan bahwa kombinasi El Nino ekstrem dan perubahan iklim akan memperparah dampak cuaca ekstrem, menuntut kesiapsiagaan negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Badan Meteorologi Inggris (Met Office) mengeluarkan peringatan yang mengguncang dunia: fenomena El Nino yang sedang berlangsung diprediksi menjadi yang terbesar dalam lebih dari satu abad terakhir. Anomali suhu permukaan laut di Pasifik tropis diperkirakan akan melampaui 3 derajat Celsius di atas normal, sebuah angka yang belum pernah tercatat dalam sejarah modern. Jika prediksi ini akurat, 2027 berpotensi menggusur rekor tahun terpanas yang baru saja dipecahkan pada 2024.
Kepala prakiraan jangka panjang Met Office, Adam Scaife, dalam wawancara dengan BBC menyebut peristiwa ini "belum pernah terjadi sebelumnya" dan "tidak terdengar dalam catatan iklim modern". Ia menjelaskan bahwa pemanasan air laut di Pasifik timur akan memicu perubahan besar pada pola angin, tekanan atmosfer, dan curah hujan di seluruh dunia. Bahkan kenaikan 2 derajat Celsius saja sudah dianggap sebagai peristiwa besar, apalagi prediksi yang menyebut angka 3,9 derajat Celsius pada puncaknya di bulan November mendatang.
Data dari dashboard Climate Brink yang merujuk pada Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menunjukkan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik saat ini sudah 2,6 derajat Celsius di atas rata-rata 30 tahun. Angka ini jauh melampaui anomali 3 derajat Celsius yang terdeteksi pada El Nino 2015. Para ilmuwan menegaskan bahwa meskipun El Nino adalah siklus alami yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun, perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia memperkuat dampaknya secara signifikan.
Dampak El Nino tahun ini diprediksi akan sangat terasa di kawasan tropis. Scaife menyebutkan bahwa kekeringan parah berpotensi melanda Amerika Selatan dan Pasifik Barat, sementara India telah mengalami curah hujan di bawah normal. Di sisi lain, wilayah seperti Tanduk Afrika, Peru, dan Ekuador justru berisiko mengalami peningkatan curah hujan dan badai. Inggris sendiri diperkirakan akan menghadapi musim gugur yang lebih basah dan berangin pada November mendatang.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi alarm yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara kepulauan yang terletak di kawasan Pasifik Barat, Indonesia berpotensi mengalami kemarau panjang yang dapat mengganggu produksi pangan, memicu kebakaran hutan dan lahan, serta memperparah kualitas udara. Kementerian Pertanian dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu segera menyusun langkah antisipasi, termasuk memastikan ketersediaan air untuk irigasi dan mengoptimalkan sistem peringatan dini kebakaran hutan.
Ilmuwan Met Office lainnya, Nick Dunstone, memperkirakan bahwa karena El Nino mendorong kenaikan suhu rata-rata global, tahun 2027 "sangat mungkin" akan memecahkan rekor 2024 sebagai tahun terpanas. Pada 2024, suhu global telah melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius yang disepakati dalam Perjanjian Paris. Sementara itu, Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, Carlo Buontempo, sejak Januari lalu telah memperingatkan bahwa 2026 bisa menjadi "tahun pemecah rekor lainnya".
Fenomena El Nino sendiri bukanlah hal baru. Istilah ini berasal dari nelayan Peru dan Ekuador pada abad ke-19 yang menyebut arus laut hangat yang datang menjelang Natal sebagai "El Nino" atau "Anak Kristus". Siklus alami ini telah berlangsung ribuan tahun, bergantian dengan La Nina yang justru mendinginkan suhu. Namun, yang membedakan kali ini adalah intensitasnya yang luar biasa dan fakta bahwa ia terjadi di tengah krisis iklim yang sedang berlangsung.
Pertanyaan yang kini menggantung adalah seberapa siap negara-negara di kawasan tropis, termasuk Indonesia, menghadapi gempuran cuaca ekstrem ini. Akankah sistem peringatan dini dan infrastruktur pertanian mampu bertahan? Atau justru krisis pangan dan kebakaran hutan akan menjadi momok yang kembali menghantui? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: dunia tidak bisa lagi menunda aksi nyata untuk mitigasi perubahan iklim.



