Suhendar, Garda Terdepan Penengah Konflik Manusia-Orangutan di Sumatera
Baca dalam 60 detik
- Suhendar, Manager HOCRU YOSL-OIC, telah mendedikasikan 15 tahun untuk menengahi konflik antara manusia dan orangutan di Sumatera.
- Ia menekankan bahwa evakuasi adalah jalan terakhir; keberhasilan sejati adalah ketika konflik dapat diselesaikan tanpa memindahkan satwa.
- Dengan habitat yang terus menyempit, peran penengah seperti Krisna menjadi krusial bagi masa depan konservasi orangutan di Indonesia.

Telepon genggam Suhendar nyaris tak pernah sunyi. Setiap dering yang masuk, hampir dipastikan ada orangutan yang membutuhkan pertolongan—entah terluka, terisolasi, atau tersesat di kebun warga. Selama 15 tahun, pria yang akrab disapa Krisna ini menjadi garda terdepan dalam penanganan konflik manusia-orangutan di Sumatera.
Bersama tim Human-Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) di bawah naungan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), Krisna dan rekan-rekannya kerap menghabiskan waktu berhari-hari untuk melacak orangutan sumatera yang terjebak di area perkebunan atau kawasan hutan. Tidak jarang, mereka harus memanjat pohon-pohon besar demi mengevakuasi satwa yang terluka atau kelaparan.
Bagi Krisna, hutan dan kebun bagaikan dua sisi mata uang yang saling berhimpitan. Di satu sisi, manusia menggantungkan hidup dari hasil kebun; di sisi lain, orangutan yang habitatnya terus menyempit datang mencari pakan. “Ketika orangutan masuk kebun, masyarakat merasa tanamannya dirusak. Padahal, orangutan hanya mencari makan karena sumber pakan di wilayah jelajahnya semakin sulit,” ungkapnya.
Di tengah dua kepentingan yang kerap berbenturan, Krisna memilih berdiri di garis tengah. Ia tidak hanya berhadapan dengan satwa liar, tetapi juga dengan manusia yang memiliki kebutuhan dan hak untuk merasa aman. Baginya, konservasi bukanlah soal menentukan siapa yang benar atau salah, melainkan mencari solusi agar perjumpaan manusia dan orangutan tidak berakhir dengan penderitaan.
Krisna menegaskan, keberhasilan sebuah misi tidak selalu diukur dari berapa banyak orangutan yang berhasil dievakuasi. Justru, konflik yang dapat diselesaikan tanpa harus memindahkan satwa adalah pencapaian yang lebih bermakna. “Harapan saya, manusia dan orangutan bisa hidup harmonis dan evakuasi menjadi pilihan terakhir,” tuturnya.
Perjalanan Krisna di dunia konservasi tidak dimulai dengan rencana matang. Lahir di Langkat, Sumatera Utara, pada 1987, ia sempat merasakan kegelisahan yang sama seperti banyak pemuda seusianya. Syafrizaldi Jpang, Direktur YOSL-OIC, mengenang masa itu. “Krisna tumbuh dari kegelisahan yang berkecamuk di angkatan seusianya,” jelasnya.
Kesempatan datang pada 2008 ketika YOSL-OIC melakukan restorasi hutan di Desa Halaban, Kecamatan Besitang. Krisna yang saat itu masih muda, bergabung dan mulai menemukan kecintaannya pada alam. “Dari restorasi, kecintaannya pada alam berkembang,” tambah Syafrizaldi. Sejak itu, hutan, kebun, dan satwa liar menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya.
Krisna tidak berhenti pada pengalaman lapangan. Ia terus mengasah kemampuan melalui berbagai pelatihan, mulai dari mitigasi konflik manusia-orangutan, respons satwa dalam bencana, teknik penyelamatan, hingga Conservation Peacebuilding Training di Tanzania pada 2019 dan Durrell Endangered Species Management Graduate Certificate di Jersey, Inggris, pada 2025. “Dia sosok yang gigih dan berpihak pada kepentingan konservasi satwa liar,” puji Syafrizaldi.
Pada 2021, Krisna sempat meninggalkan HOCRU dan dipercaya sebagai Head Keeper serta Rescue Coordinator di Sumatran Rescue Alliance (SRA), yang menangani rehabilitasi orangutan, siamang, dan beruang. Namun, konflik manusia-orangutan memiliki tempat spesial di hatinya. Pada Juni 2022, ia kembali ke HOCRU dan sejak Januari 2023 menjabat sebagai Manager. Tanggung jawabnya kini bukan hanya penyelamatan, tetapi juga pencegahan konflik, pelibatan masyarakat, dan memastikan tim bekerja efektif.
Krisna kini bekerja di dua bentang alam penting bagi orangutan: Kawasan Ekosistem Leuser untuk orangutan sumatera dan hutan Baton Toru untuk orangutan tapanuli. Di kedua kawasan ini, ruang hidup orangutan semakin berdekatan dengan aktivitas manusia. “Tantangan terbesar kehidupan orangutan adalah konflik dengan manusia karena habitatnya rusak,” ujarnya.
Ia tidak ingin pekerjaannya berhenti pada evakuasi. Setiap orangutan yang harus diselamatkan, menurutnya, adalah tanda adanya persoalan besar di hutan. “Setiap orangutan yang harus dievakuasi merupakan tanda terganggunya ekosistem,” tegas Krisna. Ia berharap, ke depan tidak ada lagi orangutan yang terluka akibat konflik, dan tidak ada lagi satwa yang harus diambil dari rumahnya. “Orangutan tetap liar di hutan, hidup bebas di rumahnya sendiri,” pungkasnya.
Dengan populasi orangutan sumatera yang dilaporkan berkurang sekitar 2.700 individu dalam satu dekade terakhir, peran penengah seperti Krisna menjadi semakin vital. Pertanyaannya, akankah upaya-upaya kecil ini mampu menahan laju kepunahan di tengah tekanan habitat yang kian sempit?



