Perintah Darurat PM Vietnam: Respons Banjir dan Ancaman Badai di Utara
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Vietnam, Le Minh Hung, mengeluarkan arahan mendesak untuk percepatan pemulihan banjir dan kesiapsiagaan menghadapi depresi tropis di Teluk Tonkin.
- Banjir dan tanah longsor telah menelan korban jiwa di wilayah utara dan utara-tengah Vietnam, memutus akses jalan dan mengisolasi desa-desa terpencil.
- Pemerintah Vietnam memerintahkan evakuasi proaktif warga di zona rawan dan memastikan kesiapan logistik untuk tanggap darurat pascabencana.

Perdana Menteri Vietnam, Le Minh Hung, mengeluarkan arahan mendesak pada Jumat (21/8) untuk mempercepat pemulihan pascabanjir dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi depresi tropis yang berpotensi menjadi badai di Teluk Tonkin. Instruksi ini dikirim ke 19 provinsi dan kota di wilayah utara serta utara-tengah, termasuk Hanoi, Hai Phong, dan Quang Ninh, menyusul hujan deras yang memicu banjir, angin puting beliung, dan sambaran petir yang telah merenggut nyawa warga.
Dalam surat edaran resmi yang juga ditujukan kepada Komite Nasional Penanggulangan Bencana dan kementerian terkait, PM Hung menekankan perlunya respons cepat terhadap depresi tropis yang bergerak lambat di Teluk Tonkin. Badan Meteorologi Vietnam memperkirakan sistem cuaca ini dapat menguat menjadi badai dan membawa hujan lebat ke kawasan timur utara dalam beberapa hari ke depan. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari edaran sebelumnya pada 17 Agustus, menunjukkan eskalasi kewaspadaan pemerintah terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Di Provinsi Nghe An, banjir telah merendam jalan, menyapu jembatan darurat, dan memutus akses transportasi, sehingga mengisolasi desa-desa terpencil di Komune Tam Thai. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi warga, tetapi juga mengancam kelancaran tahun ajaran baru karena siswa berisiko tidak dapat bersekolah. Pemerintah pusat meminta pemerintah daerah untuk memastikan keselamatan kapal dan perahu di sungai serta laut, terutama di Teluk Tonkin, dan meninjau ulang rencana evakuasi bagi penduduk yang tinggal di zona rawan banjir bandang dan longsor.
Perintah ini menggarisbawahi tantangan besar Vietnam dalam menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Negara ini termasuk salah satu yang paling rentan di Asia Tenggara terhadap bencana alam, dengan garis pantai panjang dan wilayah pegunungan yang rawan longsor. Langkah evakuasi proaktif dan kesiapan logistik yang diminta PM Hung menjadi kunci untuk meminimalkan korban jiwa, sebagaimana pengalaman Vietnam dalam menghadapi badai dahsyat seperti Typhoon Yagi pada 2024 yang menewaskan ratusan orang.
Bagi Indonesia, respons Vietnam ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang juga mengancam banyak wilayah, terutama di musim hujan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia kerap menghadapi tantangan serupa dalam hal evakuasi dan logistik di daerah terpencil. Koordinasi lintas sektor dan kecepatan respons yang ditunjukkan Vietnam dapat menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat sistem peringatan dini dan manajemen darurat di tanah air.
Pemerintah provinsi diminta untuk terus memantau situasi, mengevakuasi warga dari daerah rawan, dan memberikan dukungan kepada keluarga korban, terutama yang kehilangan anggota keluarga. Selain itu, keselamatan lalu lintas di jalur-jalur yang rawan banjir dan longsor harus dijamin, serta personel, perlengkapan, dan peralatan harus disiagakan untuk pemulihan cepat pascabencana.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa efektif langkah-langkah ini dalam mengurangi dampak badai yang mungkin datang. Dengan pengalaman pahit bencana sebelumnya, Vietnam tampaknya berusaha belajar dari kesalahan dan meningkatkan ketahanan. Namun, perubahan iklim yang terus berlanjut menuntut adaptasi yang lebih radikal, tidak hanya di Vietnam, tetapi juga di seluruh kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.



