Berburu Beruang Kutub di Greenland: Ekspedisi Ilmiah yang Mengungkap Misteri Fiord Terpanjang di Dunia
Baca dalam 60 detik
- Sebuah kapal ekspedisi menyaksikan pertemuan langka dengan beruang kutub remaja di Scoresbysund, Greenland, menyoroti kerentanan spesies ini.
- Perjalanan ini memadukan pariwisata dengan sains, melibatkan penumpang dalam pengumpulan data plankton dan pengamatan ekosistem Arktik.
- Akses terbatas ke pemukiman terpencil Ittoqqortormiit hanya dua hingga tiga bulan per tahun, menegaskan tantangan logistik dan perubahan iklim di kawasan ini.

Di tengah gemerisik es yang berderak, sebuah kapal ekspedisi MS Spitsbergen berlabuh di perairan fjord Scoresbysund, Greenland, menyaksikan pemandangan yang langka: seekor beruang kutub remaja mendekat dengan rasa ingin tahu. Momen ini bukan sekadar tontonan wisata, melainkan pengingat akan rapuhnya spesies terbesar di darat ini yang terancam punah.
Beruang kutub, yang semula tampak sebagai titik kuning pucat di kejauhan, perlahan mendekati kapal. Dari jarak ratusan meter, ia berpindah dari satu bongkahan es ke bongkahan lain, berenang di sela-sela gumpalan, hingga akhirnya berada di dekat haluan kapal. Para penumpang yang berdiri di dek tak kuasa menahan decak kagum, menyaksikan predator puncak yang terancam oleh mencairnya es laut.
Menurut Jorgine Tobiassen, juru masak kapal yang akrab disapa JJ, kemungkinan besar beruang tersebut sedang mencari sisa-sisa paus. Penduduk asli Greenland terkadang berburu paus di fjord ini, dan sisa-sisa hewan yang dibuang ke laut menjadi santapan bagi beruang. Fenomena ini menggambarkan interaksi kompleks antara manusia, satwa liar, dan ekosistem Arktik yang rapuh.
Scoresbysund, yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai Kangertittivaq, adalah sistem fjord terbesar di dunia, membentang sepanjang 300 kilometer dengan lebar hingga 50 kilometer. Nama internasionalnya diambil dari penjelajah Inggris William Scoresby, yang berlayar di kawasan ini pada awal abad ke-19. Ekosistem unik yang terbentuk selama ribuan tahun ini relatif minim gangguan manusia, menjadikannya laboratorium alami bagi para ilmuwan.
Di ujung fjord, terdapat pemukiman Ittoqqortormiit, yang dihuni oleh sekitar 300 jiwa. Desa ini hanya dapat diakses dengan kapal selama dua hingga tiga bulan dalam setahun; selebihnya, perairan membeku total. Zoe Walker, anggota tim ilmiah di kapal, menjelaskan bahwa fjord membeku sepenuhnya, hanya menyisakan genangan air kecil di area yang pembekuannya lebih lambat. Kehidupan di sini beradaptasi dengan ritme alam yang ekstrem.
Kapal ekspedisi ini tidak hanya menawarkan pemandangan spektakuler, tetapi juga program sains yang melibatkan penumpang. Setiap hari, tim ilmiah memberikan presentasi tentang pembentukan es, perbedaan es glasial dan es laut, serta kehidupan di berbagai kedalaman Laut Greenland. Heleen Middel, ilmuwan paus asal Belanda, memaparkan tentang hiu Greenland yang misterius, yang masa kehamilannya mencapai 18 tahun—salah satu yang terlama di dunia hewan.
Walker, yang menulis tesis master tentang copepoda, mengajak penumpang dalam kegiatan citizen science. Mereka mengambil sampel plankton dari perairan Arktik untuk dianalisis di pusat sains kapal, kemudian dikirim ke ahli biologi kelautan. Copepoda, yang terlihat seperti lobster mini, memainkan peran krusial dalam ekosistem laut. "Mereka mengubah energi matahari yang diserap fitoplankton menjadi biomassa, yang menjadi makanan bagi ikan dan paus yang lebih besar," jelas Walker.
Meskipun perjalanan ini tidak menjanjikan pertemuan dengan mamalia laut besar seperti walrus atau anjing laut—yang lebih sering muncul di musim dingin—pemandangan daratan menawarkan kompensasi. Di tanjung dan pulau-pulau, penumpang dapat melihat musk oxen, rubah Arktik, dan sesekali kelinci salju. Lanskap yang luas ini dihiasi oleh batu pasir merah, granit abu-abu, dan tanaman rendah yang memancarkan warna musim gugur di awal September.
Liam Northfield, ilmuwan lingkungan dari Cambridge, menjelaskan bahwa tundra dengan lapisan es permanen tidak memungkinkan akar tanaman tumbuh dalam, sehingga tidak ada semak atau pohon. "Di sini, pegununganlah yang memberikan ketinggian, baik di darat maupun di air," katanya. Gunung es di Laut Greenland dapat menjulang hingga 90 meter di atas permukaan air, menciptakan latar belakang yang dramatis bagi beruang kutub remaja yang penasaran.
Bagi Indonesia, kisah ekspedisi ini relevan dalam konteks perubahan iklim global. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia rentan terhadap kenaikan muka air laut dan perubahan ekosistem laut. Pengalaman Greenland mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan di kutub, tetapi juga di negara tropis seperti Indonesia, di mana komunitas pesisir dan keanekaragaman hayati laut menghadapi ancaman serupa.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: bagaimana keseimbangan antara pariwisata ekspedisi dan pelestarian lingkungan dapat dijaga? Dengan semakin banyaknya kapal yang berlayar ke kawasan Arktik, akankah kehadiran manusia justru mempercepat kerusakan ekosistem yang ingin dilindungi? Atau, mungkinkah wisata sains semacam ini menjadi alat edukasi yang efektif untuk membangun kesadaran global?



