Bataviasche Nouvelles: Koran Pertama di Nusantara yang Dibredel VOC
Baca dalam 60 detik
- Terbit 7 Agustus 1744, Bataviasche Nouvelles menjadi surat kabar publik pertama di Hindia Belanda, namun hanya bertahan dua tahun sebelum dibredel.
- Pembredelan oleh Heeren XVII pada 1745 menunjukkan ketakutan VOC terhadap ruang publik yang bisa mengancam monopoli kekuasaannya.
- Peristiwa ini menjadi preseden kontrol pers yang berlanjut hingga era kolonial, baru ditantang oleh pers bumiputera awal abad ke-20.

Pada 7 Agustus 1744, sebuah lembaran bernama Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen terbit di Batavia, menandai kelahiran surat kabar publik pertama di Nusantara sekaligus menjadi korban pertama pembredelan oleh VOC. Dua tahun kemudian, tepatnya 20 Juni 1746, edisi terakhirnya terbit menyusul larangan dari dewan tertinggi kompeni di Amsterdam. Peristiwa ini bukan sekadar catatan kaki sejarah, melainkan fondasi dari hubungan rumit antara pers dan kekuasaan di Indonesia yang masih terasa hingga kini.
Kemunculan koran ini tak lepas dari kebutuhan informasi komunitas dagang Eropa di Batavia, pusat kendali VOC di Asia. Sejak awal abad ke-17, kompeni sebenarnya telah memiliki Memorie der Nouvelles, lembaran tulisan tangan yang diedarkan terbatas untuk kalangan internal. Namun, kebutuhan akan informasi yang lebih terstruktur dan menjangkau publik yang lebih luas semakin mendesak, terutama dengan hadirnya mesin cetak di Batavia sejak 1668.
Jan Erdman Jordens, sekretaris Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, melihat peluang itu. Dengan posisi gandanya sebagai pegawai VOC dan pengusaha, ia memahami betul kebutuhan informasi komunitas bisnis sekaligus cara birokrasi bekerja. Nama yang dipilihnya sarat ambisi: "Nouvelles" dari bahasa Prancis berarti kebaruan, sementara "Politique Raisonnementen" menegaskan bahwa koran ini bukan sekadar wadah iklan, melainkan forum diskusi—sebuah gagasan yang terinspirasi semangat Pencerahan Eropa.
Namun, ambisi itu berbenturan dengan realitas politik kolonial. Meski awalnya hanya memuat iklan, jadwal kapal, dan pengumuman resmi, Bataviasche Nouvelles mulai menyentuh isu sensitif seperti korupsi dan perbudakan. Kabar ini sampai ke Heeren XVII di Amsterdam, yang segera mengirim surat perintah pembredelan pada 20 November 1745. Alasan resminya adalah kekhawatiran bocornya informasi strategis seperti jadwal kapal dan muatan dagang ke pesaing Inggris dan Prancis. Namun, sejarawan menilai alasan itu hanyalah dalih; ketakutan sesungguhnya adalah tumbuhnya ruang publik yang bisa mengganggu monopoli kekuasaan VOC.
Menurut Kasijanto, sejarawan yang mengutip catatan G.H. von Faber, debat politik yang dijanjikan dalam nama koran itu tidak pernah benar-benar terjadi. "Mungkin Jordens juga 'tahu diri' dengan menghindari isu-isu yang tergolong sensitif seperti korupsi di kalangan pejabat VOC pada waktu itu," ujarnya. Ironisnya, justru pemberitaan tentang korupsi dan perbudakan yang kecil porsinya itulah yang memicu pembredelan, menunjukkan betapa rapuhnya kebebasan pers di bawah kekuasaan absolut.
Pembredelan Bataviasche Nouvelles menjadi preseden yang mengerikan. Selama lebih dari satu abad setelahnya, pers di Hindia Belanda dipaksa tunduk pada kepentingan penguasa. Vendu Nieuws yang terbit pada 1776 hanya berisi iklan lelang dan pengumuman komersial, tanpa ambisi politik. Baru pada 1810, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels menerbitkan Bataviasche Koloniale Courant, yang secara tegas menjadi corong pemerintah dengan redaktur yang wajib membayar pajak dan mendahulukan kepentingan negara. Pola ini—eksperimen otonom, pembredelan, pembatasan fungsional, dan kooptasi—menjadi cetakan yang bertahan hingga awal abad ke-20.
Konteks Indonesia saat ini menarik untuk direnungkan. Meski era reformasi telah membuka ruang kebebasan pers yang luas, kasus Bataviasche Nouvelles mengingatkan bahwa kontrol terhadap media tidak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk. Regulasi seperti UU ITE dan tekanan ekonomi pada media kerap menjadi alat halus untuk membungkam kritik, mirip dengan alasan keamanan yang dipakai VOC. Pertanyaannya, apakah sejarah akan berulang, atau justru pers Indonesia kini lebih tangguh menghadapi tekanan? Jawabannya bergantung pada keteguhan insan pers dan kesadaran publik untuk menjaga kemerdekaan informasi.



