Sabalenka Lumat Lawan dalam 54 Menit, Medvedev Amuk di Cincinnati
Baca dalam 60 detik
- Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka hanya butuh 54 menit untuk menumbangkan Wang Xinyu di babak ketiga Cincinnati Open, tanpa kehilangan satu break point pun.
- Daniil Medvedev gagal memanfaatkan tiga match point dan kalah dari Brandon Nakashima, memicu amukannya yang merusak papan elektronik di lapangan.
- Kemenangan ini memperkuat posisi Sabalenka menjelang US Open, sekaligus menambah tekanan pada Rybakina yang berusaha merebut takhta nomor satu dunia.

Laju Aryna Sabalenka di Cincinnati Open berlangsung sangat efisien. Unggulan utama itu hanya butuh 54 menit untuk menyingkirkan Wang Xinyu asal China dengan skor telak 6-1, 6-3 pada babak ketiga, Kamis (15/8) waktu setempat. Kemenangan ini menjadi sinyal kuat bagi petenis Belarusia tersebut menjelang US Open yang akan bergulir akhir bulan ini.
Sepanjang laga, Sabalenka tampil tanpa cela. Ia tidak pernah menghadapi break point, hanya kehilangan enam poin dalam delapan game servisnya, dan mencatatkan 17 winner dengan hanya lima unforced error. Penampilan seperti ini jelas berbeda dari dua turnamen sebelumnya, di mana ia tersingkir di babak keempat Wimbledon dan kalah cepat di Kanada pekan lalu.
"Memenangkan pertandingan dalam waktu kurang dari satu jam adalah hasil yang luar biasa. Saya sangat senang bisa melaju," ujar Sabalenka, yang tahun ini sudah mengoleksi empat gelar grand slam. "Saya benar-benar percaya pada diri sendiri dan bermain tanpa berpikir berlebihan. Itulah senjata utama saya malam ini."
Kemenangan ini juga menjaga jarak Sabalenka dengan Elena Rybakina dalam perebutan posisi nomor satu dunia. Sebelum turnamen, Sabalenka unggul 354 poin atas Rybakina. Namun, jika Sabalenka gagal melaju ke perempat final, Rybakina bisa merebut takhta dengan mencapai final. Sebaliknya, jika Sabalenka menembus perempat final, Rybakina harus juara untuk menjadi nomor satu.
Selanjutnya, Sabalenka akan berhadapan dengan Sara Bejlek dari Ceko untuk memperebutkan tiket ke perempat final. Jika konsisten, ia berpeluang menjadi wanita pertama sejak Serena Williams pada 2014 yang memenangkan gelar US Open tiga kali beruntun.
Sementara itu, drama justru terjadi di lapangan lain. Daniil Medvedev, unggulan keempat, harus mengakui keunggulan Brandon Nakashima setelah melalui pertarungan tiga set yang menegangkan. Medvedev sempat bangkit dari ketertinggalan 2-5 di set pertama untuk memenangkan tie-break, lalu memiliki tiga match point saat kedudukan 5-4 di set kedua. Namun, Nakashima menyelamatkan semuanya dan memenangkan tie-break kedua, sebelum akhirnya melaju mulus di set penentuan dengan skor 6-1.
Kekalahan itu membuat Medvedev kehilangan kendali emosi. Ia melempar raketnya ke papan elektronik di belakang lapangan hingga sempat merusaknya, lalu menendang layar dan menjatuhkan beberapa mikrofon. Total 51 unforced error yang ia buat menjadi bukti penampilannya yang buruk. "Saat menghadapi match point, saya hanya mencoba untuk terus berjuang untuk setiap poin," kata Nakashima. "Saya sangat senang dengan level permainan saya di set ketiga."
Bagi penggemar tenis di Indonesia, performa Sabalenka ini layak disimak. Ia adalah salah satu pemain paling dominan di tur putri saat ini, dan konsistensinya menjadi ancaman serius bagi para pesaingnya. Selain itu, persaingan ketat untuk posisi nomor satu dunia menambah bumbu jelang US Open. Pertanyaannya, mampukah Sabalenka mempertahankan performa ini hingga akhir turnamen? Atau justru Rybakina yang akan mencuri perhatian?



