Honda Panggil Aleix Espargaro untuk MotoGP Indonesia, Ini Alasan di Baliknya
Baca dalam 60 detik
- Cedera Joan Mir dan Takaaki Nakagami memaksa Honda menarik Aleix Espargaro dari masa pemulihan untuk turun di MotoGP Indonesia.
- Espargaro sebenarnya dijadwalkan menjalani operasi tulang belakang bagian bawah pada Senin depan setelah kecelakaan tes di Sepang April lalu.
- Kehadiran Espargaro krusial untuk pengembangan motor RC214V bermesin 850cc yang akan diuji di Valencia akhir musim.

Honda Racing Corporation (HRC) resmi memanggil kembali Aleix Espargaro untuk memperkuat tim di MotoGP Indonesia akhir pekan ini. Keputusan mendesak itu diambil setelah Joan Mir masih dilanda masalah kesehatan dan Takaaki Nakagami mengalami patah tulang selangka kiri dalam sesi latihan bebas di Motegi, Jepang, Jumat (3/10). Cedera Nakagami memerlukan tindakan operasi dan membuat Honda kehabisan pilihan pembalap.
Espargaro, yang kini berstatus test rider Honda, sejatinya tengah menjalani pemulihan panjang dari cedera parah di pangkal tulang belakang akibat kecelakaan saat tes di Sepang, Malaysia, pertengahan April lalu. Operasi untuk cedera tersebut bahkan sudah dijadwalkan pada Senin pekan depan. Namun, situasi darurat di tim membuat rencana itu harus ditunda. Menurut informasi yang dihimpun Motorsport.com, pembalap asal Katalonia itu telah diminta segera mengatur perjalanan ke Lombok.
Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Honda sempat berencana menurunkan Somkiat Chantra, pembalap yang bernaung di bawah operasi World Superbike mereka, untuk mengisi kursi Mir di Motegi. Akan tetapi, Chantra harus berlaga di ajang Estoril pada akhir pekan yang sama. Ditambah cedera Nakagami, HRC tidak memiliki alternatif lain selain memanggil Espargaro.
Bagi Honda, tekanan sesungguhnya bukan sekadar mengejar hasil di sisa musim. Prioritas utama adalah menyelesaikan pengembangan motor untuk musim depan yang dirancang mengikuti regulasi baru dan mesin 850cc. Motor bernama RC214V itu akan diuji Fabio Quartararo di Valencia pada Selasa setelah seri terakhir. Pengembangan motor tersebut telah dipercayakan kepada Nakagami sejak musim panas, dan dengan absennya pembalap Jepang itu, Honda kehilangan figur kunci.
Stefan Bradl sebenarnya masih terikat kontrak sebagai test rider. Namun, kontribusinya diragukan karena saat ini ia juga bekerja sebagai komentator televisi. Kondisi ini memaksa HRC mengelola beban kerja Espargaro secara hati-hati. Meski demikian, pembalap bernomor 41 itu tidak menutup kemungkinan harus turun di lebih banyak grand prix, bergantung pada perkembangan pemulihan Mir.
"Situasi ini memaksa Honda mengambil langkah cepat di tengah jadwal yang padat. Kembalinya Espargaro lebih tentang kebutuhan teknis jangka panjang daripada sekadar mengisi kursi kosong," ujar sumber internal tim yang tidak ingin disebutkan namanya.
Kembalinya Espargaro ke lintasan MotoGP menjadi ujian tersendiri. Ia belum pernah berlaga sejak musim lalu, ketika menjalani lima balapan bersama Honda dengan finis terbaik di posisi 16 di Assen. Cedera tulang belakang yang dideritanya termasuk kategori serius, dan pemulihan lima bulan belum sepenuhnya mengembalikan performa terbaiknya. Pada sesi tes di Mugello dua pekan lalu, ia memang mampu menyelesaikan sesi, tetapi catatan waktunya masih jauh di bawah level sebelum kecelakaan di Sepang.
MotoGP Indonesia di Mandalika menjadi momen krusial bagi Honda untuk mengumpulkan data berharga. Sirkuit jalan raya di Lombok itu memiliki karakter tikungan dan permukaan yang menuntut kestabilan motor, sehingga masukan dari pembalap berpengalaman seperti Espargaro sangat berarti. Apalagi, Honda tengah berlomba dengan waktu untuk menyiapkan motor 850cc yang akan menjadi tulang punggung mereka di musim 2026.
Jika Espargaro mampu tampil kompetitif di Mandalika, bukan tidak mungkin ia kembali dipercaya menguji motor di Malaysia. Namun, jika kondisi fisiknya belum pulih sepenuhnya, Honda harus mencari solusi lain. Yang jelas, keputusan memanggil Espargaro menunjukkan betapa rapuhnya kedalaman skuad Honda saat ini. Akankah langkah darurat ini menyelamatkan pengembangan motor mereka, atau justru memperpanjang masalah cedera yang sudah ada?



