Russell Desak FIA Intervensi Cooling Vest: Mercedes Pilih Performa, Bukan Kenyamanan
Baca dalam 60 detik
- George Russell mengungkap Mercedes menolak mengembangkan cooling vest karena alokasi sumber daya dianggap tidak sebanding dengan manfaatnya.
- FIA sebenarnya pernah berencana mewajibkan rompi pendingin saat heat hazard, tetapi resistensi pembalap membuat kebijakan tetap opsional.
- Dengan sirkuit panas beruntun di Malaysia dan Singapura, isu ini memicu perdebatan soal prioritas antara keselamatan dan kompetisi.

Pembalap Mercedes, George Russell, kembali menyoroti absennya rompi pendingin (cooling vest) di balapan panas. Ia menilai FIA perlu turun tangan memastikan perangkat tersebut digunakan secara luas, bukan sekadar menjadi opsi yang bergantung pada keputusan tim.
Pernyataan itu muncul menjelang Grand Prix Bahrain yang tahun ini digelar di Malaysia, menjadi heat hazard ketiga musim 2026. Suhu udara diprediksi melampaui 31 derajat Celsius, ambang batas yang ditetapkan FIA untuk menetapkan status bahaya panas. Pekan depan, Singapura berpotensi menjadi heat hazard keempat.
Russell mengaku ingin memakai cooling vest, tetapi Mercedes memilih tidak mengembangkannya. "Kami tidak akan memakai cooling vest karena kami belum menginvestasikan sumber daya agar cukup kuat," ujarnya kepada The Times di Kuala Lumpur. "Saat berfungsi, hasilnya luar biasa. Saya ingin memakainya minggu ini dan minggu depan. Tapi tim bilang, 'kami bisa mengembangkannya, tetapi harus mengorbankan performa'."
Isu kenyamanan pembalap di iklim panas mencuat sejak Grand Prix Qatar 2023. Saat itu, sejumlah pembalap mengalami gejala kelelahan ekstrem di sirkuit Doha yang digelar Oktober, sebelum akhirnya dijadwalkan ulang ke Desember. FIA dan tim kemudian melakukan riset untuk memperbaiki ventilasi dan pendinginan kokpit, menghasilkan rompi yang mengalirkan air melalui sistem tabung.
Namun, rompi standar itu tidak serta-merta diterima. Banyak pembalap menilai perangkat tersebut hanya efektif pada beberapa lap awal, lalu justru mengganggu. Alhasil, FIA memilih tidak mewajibkannya. Pembalap yang tidak memakai rompi harus menambahkan 0,5 kg pemberat sebagai kompensasi. Tim diberi kebebasan mengembangkan solusi sendiri dalam kerangka regulasi, tetapi karena heat hazard jarang terjadi, mayoritas tim enggan mengalokasikan sumber daya teknik.
"Saya rasa FIA perlu turun tangan dan mengatakan, 'Ini ada tambahan anggaran di cost cap,' atau ada perusahaan eksternal yang mengembangkan untuk semua orang. Karena kita semua seharusnya memakai rompi ini." — George Russell
Seruan Russell bukan tanpa dasar. Ia menyoroti dilema tim: setiap investasi pada rompi pendingin berarti mengurangi sumber daya untuk pengembangan mobil. Mercedes saat ini tengah bersaing ketat dengan McLaren, Red Bull, dan Ferrari. Prioritas jelas tertuju pada performa W17 ketimbang kenyamanan yang hanya dibutuhkan sesekali.
Meski demikian, narasi yang berkembang di sebagian kalangan—bahwa Russell melawan timnya atau dipaksa menderita oleh insinyur—dinilai tidak tepat. FIA semula memang berencana mewajibkan cooling vest saat heat hazard, tetapi karena resistensi pembalap, kebijakan itu tidak dilanjutkan. Hingga kini, tidak ada dorongan kuat untuk membuka kembali perdebatan tersebut.
Dari kacamata regulasi, kasus ini memperlihatkan tarik-menarik antara keselamatan dan kompetisi. FIA berada di posisi sulit: mewajibkan rompi berarti membebani tim dengan biaya tambahan, sementara membiarkannya opsional berisiko mengorbankan kesehatan pembalap. Di sisi lain, tim memiliki insentif terbatas untuk berinvestasi pada perangkat yang jarang dipakai.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat iklim tropis dan potensi gelaran balapan internasional di masa depan. Jika F1 atau ajang motorsport lain ingin menggelar balapan di suhu ekstrem, standar keselamatan seperti cooling vest bisa menjadi pertimbangan penting. Namun, tanpa insentif regulasi yang jelas, tim cenderung mengutamakan performa.
Ke depan, pertanyaannya apakah FIA akan kembali mendorong penggunaan cooling vest secara wajib, atau membiarkan status quo hingga ada insiden serius. Jika heat hazard semakin sering terjadi akibat perubahan iklim, tekanan untuk mengubah kebijakan bisa meningkat. Namun untuk sekarang, Mercedes dan tim lain tampaknya memilih fokus pada lintasan.



