Duka Model India: Suami dan Ibu Mertua Jadi Tersangka, Kasus Kematian Twisha Sharma Mengguncang Publik
Baca dalam 60 detik
- Biro Investigasi Pusat India (CBI) menetapkan suami dan ibu mertua Twisha Sharma sebagai tersangka atas tuduhan menghasut bunuh diri dan kekerasan dalam rumah tangga.
- Kasus ini memicu perdebatan nasional tentang integritas peradilan, mengingat ibu mertua adalah mantan hakim, serta menyoroti praktik mahar yang masih mengakar.
- CBI berencana melakukan penyelidikan lanjutan, membuka kemungkinan adanya tersangka baru di tengah bantahan keluarga tersangka yang menyebut tuduhan itu tidak berdasar.

Kematian Twisha Sharma, model dan aktris India berusia 33 tahun, pada 12 Mei lalu di kediaman mertuanya di Bhopal, kini memasuki babak baru. Biro Investigasi Pusat India (CBI) secara resmi mengajukan dakwaan terhadap suami dan ibu mertuanya, Samarth Singh dan Giribala Singh, atas tuduhan menghasut bunuh diri dan tindak kekerasan. Kasus yang hanya berjarak lima bulan setelah pernikahan ini telah menyita perhatian publik India, memicu perdebatan sengit tentang keadilan, prasangka gender, dan integritas institusi peradilan.
Samarth Singh, seorang pengacara, dan Giribala Singh, mantan hakim, membantah semua tuduhan. Namun, dalam dakwaan setebal 600 halaman yang diajukan pekan lalu, CBI menyatakan bahwa Twisha mengalami kekerasan mental yang terus-menerus dari keduanya, sehingga ia merasa tidak punya pilihan selain mengakhiri hidupnya. Pernyataan ini menjadi inti dari kasus yang telah memicu gelombang simpati dan kemarahan publik, terutama karena latar belakang keluarga tersangka yang notabene bagian dari sistem peradilan.
Kematian Twisha tidak hanya menjadi berita kriminal biasa, tetapi juga cermin dari persoalan sosial yang lebih dalam. Keluarga Twisha menuding adanya permintaan mahar yang tidak pernah berhenti, sebuah praktik yang meski dilarang, masih lazim di banyak wilayah India. Mereka juga mengungkapkan bahwa konflik memuncak ketika Twisha hamil pada April lalu. Suami dan ibu mertuanya disebut mempertanyakan kesetiaan Twisha, menuduhnya mengandung anak orang lain, dan memaksanya melakukan aborsi pada awal Mei. Tuduhan ini langsung dibantah oleh pihak Giribala, yang menyebut justru Twisha yang bersikeras aborsi karena tidak ingin memiliki anak.
Kontroversi semakin memanas ketika Giribala, yang pensiun sebagai hakim, memberikan konferensi pers dan wawancara media setelah kematian menantunya. Ia menyebut Twisha memiliki masalah kesehatan mental dan menyebutnya sebagai pribadi yang "liberal"โsebuah istilah yang kemudian ia kaitkan dengan "pergaulan bebas". Pernyataan ini memicu kemarahan publik, dan ayah Twisha menilai hal itu sebagai upaya untuk mencemarkan nama baik putrinya. Pengacara keluarga Twisha, Ankur Pandey, menegaskan bahwa dengan diterapkannya pasal tentang hasutan bunuh diri, penyidikan mengindikasikan kematian Twisha dianggap sebagai bunuh diri, bukan pembunuhan seperti yang diklaim keluarga korban.
Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan, pengacara Giribala, Inosh George Carlo, menyatakan bahwa penyidikan tidak menemukan bukti tentang tuduhan mahar dan pembunuhan. Ia mengkritik media yang dianggapnya tidak seimbang dalam memberitakan kasus ini. Sementara itu, Samarth Singh, yang awalnya sulit dilacak, akhirnya menyerahkan diri dan kini ditahan bersama ibunya. CBI sendiri telah meminta izin pengadilan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, yang bisa saja membuka peluang penetapan tersangka baru jika ditemukan bukti tambahan.
Kasus Twisha Sharma mengguncang India karena melibatkan sosok yang seharusnya menjadi teladan dalam penegakan hukum. Seorang mantan hakim yang justru terlibat dalam dugaan kekerasan rumah tangga memicu pertanyaan besar tentang efektivitas perlindungan hukum bagi perempuan, terutama di dalam institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan keadilan. Di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa kekerasan berbasis gender dan praktik mahar masih menjadi tantangan serius, meskipun regulasi telah ada. Pertanyaannya, apakah penegakan hukum akan benar-benar berpihak pada korban, atau justru tersandera oleh status sosial pelaku? Kasus ini masih akan terus bergulir, dan publik menunggu apakah keadilan benar-benar akan ditegakkan.



