Gempa NTT: 2.768 Kali Susulan, Korban Tewas Tembus 70 Jiwa
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas seismik di Flores masih tinggi dengan lebih dari 2.700 kali gempa susulan sejak guncangan utama magnitudo 7,7.
- Data korban menunjukkan perbedaan signifikan antara Basarnas dan BNPB, mencerminkan perbedaan metodologi penghitungan.
- BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan akan berlangsung hingga 3-4 minggu ke depan, menuntut kewaspadaan berkelanjutan.

Guncangan dahsyat magnitudo 7,7 yang merobek Flores, Nusa Tenggara Timur, pada pekan lalu menyisakan duka mendalam: hingga Selasa (18/8), korban jiwa telah mencapai 70 orang, sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 2.768 kali gempa susulan yang terus mengguncang wilayah tersebut.
Rangkaian gempa susulan itu, menurut keterangan tertulis BMKG yang dirilis Rabu (19/8), memiliki kekuatan bervariasi antara magnitudo 1,1 hingga 6,2. Dari jumlah tersebut, 81 di antaranya tergolong gempa yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Intensitas yang masih tinggi ini membuat potensi bahaya susulan belum mereda, dan BMKG mengimbau warga untuk tetap waspada.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyatakan bahwa berdasarkan data sementara, aktivitas gempa susulan diperkirakan akan berlangsung selama 3-4 minggu ke depan. "Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan yang masih terjadi," ujarnya, menekankan pentingnya kesiapsiagaan di tengah ketidakpastian.
Guncangan utama yang terjadi pada 18 Agustus lalu juga memicu gelombang tsunami yang tercatat menyebar di 16 lokasi perairan di empat provinsi: NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. BMKG mencatat ketinggian tsunami tertinggi mencapai 1,605 meter di Pota, Manggarai Timur, pada pukul 05.03 WIB, sementara yang terendah 0,14 meter di Bakalang, Alor, pada pukul 05.41 WIB.
Dari sisi tektonik, BMKG menjelaskan gempa ini merupakan dampak aktivitas di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Hal ini mengindikasikan akumulasi energi di zona subduksi yang masih aktif, sehingga potensi gempa susulan besar tidak bisa dikesampingkan.
Perbedaan data korban antara Basarnas dan BNPB menjadi sorotan. Basarnas melaporkan total 202 korban, dengan 70 tewas dan 132 luka-luka. Sementara BNPB mencatat angka luka-luka yang jauh lebih besar, yakni 1.182 orang. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan perbedaan ini muncul karena perbedaan klasifikasi: Basarnas menghitung korban yang ditemukan selama evakuasi, sedangkan BNPB menggunakan data pasien yang telah mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan.
Data BNPB yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 1.000 korban kini menjadi pasien di fasilitas kesehatan setempat. Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan korban luka terbanyak (955 orang), disusul Manggarai (119), Ngada (34), Nagekeo (22), Sikka (19), dan Ende (20). Konsentrasi korban di Manggarai Timur mengindikasikan tingkat kerusakan yang parah di wilayah tersebut, sekaligus menjadi prioritas utama dalam penanganan medis dan logistik.
Bencana ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan Indonesia terhadap gempa bumi dan tsunami. Dengan perkiraan gempa susulan yang masih berlanjut, pertanyaan mendesak adalah: apakah sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana sudah cukup optimal? Evaluasi menyeluruh terhadap respons kebencanaan, termasuk koordinasi antarlembaga dan akurasi data, menjadi krusial untuk meminimalkan dampak di masa mendatang.



