Delapan Armada Udara Dikerahkan ke Kalbar: Strategi Ganda Padamkan Karhutla dan Modifikasi Cuaca
Baca dalam 60 detik
- Satgas udara Kalimantan Barat mengerahkan delapan armada, dengan dua unit difokuskan ke Ketapang yang memiliki titik panas tertinggi.
- Penurunan hotspot dari 521 menjadi 32 titik dalam tiga hari menjadi indikator keberhasilan operasi darat dan udara yang masif.
- Keterlibatan langsung Presiden dan penambahan pesawat modifikasi cuaca menandakan karhutla Kalbar menjadi prioritas nasional.

Pemerintah pusat mengerahkan kekuatan udara penuh untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, dengan delapan armada yang disiagakan untuk patroli, water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya titik panas yang mengancam kualitas udara dan aktivitas ekonomi warga, sekaligus menjadi ujian bagi koordinasi penanganan bencana di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Komandan Lanud Supadio, Marsekal Pertama TNI Sidik Setyono, mengungkapkan bahwa enam armada ditempatkan di pangkalan utama Pontianak untuk mendukung patroli dan pemadaman udara, sementara dua unit lainnya digeser ke Kabupaten Ketapang. Keputusan ini bukan tanpa alasan: data terbaru menunjukkan Ketapang, bersama Kubu Raya dan Mempawah, menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi. "Penempatan ini untuk merespons titik panas yang masih tinggi di daerah tersebut," ujarnya di Sungai Raya, Sabtu.
Yang menarik, operasi kali ini tidak hanya mengandalkan pemadaman langsung. Lanud Supadio juga menyiapkan bahan semai untuk modifikasi cuaca, sebuah upaya untuk memicu hujan buatan di wilayah yang membutuhkan. Langkah ini dinilai krusial karena water bombing hanya efektif untuk titik api yang sudah teridentifikasi, sementara modifikasi cuaca bisa menjangkau area yang lebih luas dan mencegah kebakaran meluas. Pada Jumat lalu, helikopter Sikorsky UH-60L telah diterjunkan untuk memadamkan api di Desa Mekar Sari, Kubu Raya, sebagai bagian dari operasi yang terus berjalan.
Di sisi lain, upaya darat tidak kalah intensif. Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, melaporkan adanya tren penurunan signifikan jumlah hotspot kategori tinggi di 12 kabupaten. Dari 521 titik pada 19 Agustus, angkanya turun menjadi 224 titik keesokan harinya, dan terus merosot menjadi 32 titik pada 21 Agustus. "Penurunan ini menjadi target kami untuk terus memasifkan keterlibatan satgas darat dan udara," kata Ridwan. Ia menambahkan, satgas darat yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, dan dinas terkait bertugas memetakan lokasi pemadaman dan pembasahan lahan gambut yang rawan api.
Konteks nasional tidak bisa dilepaskan dari kunjungan Presiden Prabowo ke Kalbar untuk memimpin langsung rapat penanganan karhutla. Kehadiran kepala negara menegaskan bahwa bencana asap lintas batas ini bukan hanya masalah daerah, melainkan isu strategis yang menyangkut kesehatan publik, hubungan diplomatik dengan negara tetangga, dan citra Indonesia di mata dunia. Penambahan pesawat CASA untuk modifikasi cuaca oleh TNI AU juga menjadi sinyal bahwa pemerintah serius mengatasi akar masalah, bukan hanya memadamkan api yang sudah membesar.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang berada di sekitar wilayah terdampak, keberhasilan operasi ini berarti udara bersih yang layak hirup dan terhindarnya gangguan aktivitas sekolah maupun penerbangan. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: akankah upaya ini berkelanjutan, atau hanya respons musiman yang berulang setiap tahun? Dengan musim kemarau yang diprediksi masih berlanjut, efektivitas modifikasi cuaca dan koordinasi antarlembaga akan terus diuji. Apakah pemerintah mampu menjaga momentum penurunan hotspot ini hingga benar-benar nol, atau justru lengah dan membiarkan api kembali menyala?



