Jenazah Remaja Thailand dalam Koper: Polisi Pastikan Korban Tewas Akibat Sesak Napas
Baca dalam 60 detik
- Otopsi menunjukkan Tunchanok Donhomla, 17 tahun, meninggal karena sesak napas, bukan karena cedera otak yang ditemukan pada tubuhnya.
- Polisi Pattaya menjerat Simon Peter Carman, warga Australia, dengan empat dakwaan termasuk pembunuhan dan penculikan anak di bawah umur.
- Berkas perkara ditargetkan diserahkan ke kejaksaan pekan ini, dengan batas akhir penahanan tersangka pada 18 September.

Polisi Pattaya, Thailand, memastikan bahwa remaja perempuan berusia 17 tahun yang ditemukan tewas di dalam koper dekat rel kereta api pada akhir Juni lalu meninggal akibat sesak napas. Hasil otopsi yang diumumkan Rabu (10/7) mengungkap penyebab kematian Tunchanok Donhomla, sekaligus memperkuat dugaan keterlibatan warga Australia, Simon Peter Carman, yang telah ditetapkan sebagai tersangka utama.
Kepala Polisi Pattaya, Anek Srathongyoo, mengungkapkan bahwa selain sesak napas, korban juga mengalami cedera otak. Namun, ia menegaskan cedera tersebut bukanlah penyebab kematian. "Kemungkinan cedera itu terjadi setelah korban meninggal, saat tersangka memindahkan jenazahnya ke dalam koper," ujarnya. Temuan ini sekaligus menjawab spekulasi yang sempat beredar mengenai penyebab kematian korban yang dijuluki "Cake" itu.
Kronologi bermula pada 25 Juni dini hari, ketika rekaman CCTV menunjukkan Carman memasuki sebuah kondominium bersama Tunchanok pada pukul 03.34 waktu setempat. Beberapa jam kemudian, ia terlihat keluar sendirian sambil membawa koper besar. Polisi menduga Carman membuang jenazah korban di dekat jalur kereta api, hanya 15 menit sebelum ia ditangkap pada 27 Juni. Penangkapan dilakukan saat Carman diduga sedang bersiap melarikan diri dari Thailand.
Polisi telah menjerat Carman dengan empat dakwaan berat, termasuk pembunuhan dan penculikan anak di bawah umur. Kepala Polisi Anek menyatakan keyakinannya bahwa alat bukti yang dikumpulkan sudah cukup kuat untuk menuntut Carman, meskipun tersangka sempat mengklaim bertindak karena membela diri. "Dia tidak sepenuhnya menyangkal semua tuduhan pada awalnya," kata Anek. "Dia mengakui membawa korban keluar. Namun, meskipun nanti dia menyatakan tidak bersalah di pengadilan, saya yakin kami telah mengumpulkan semua bukti secara menyeluruh dan menutup semua celah dalam kasus ini."
Menurut laporan, Carman mengaku telah membayar Tunchanok sebesar 1.000 baht (sekitar Rp450 ribu) untuk layanan seksual, namun terjadi pertengkaran saat ia hanya memberikan 500 baht. Dalam sebuah video yang direkam saat ditahan, Carman menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban. "Saya merasa bersalah atas apa yang terjadi pada putri Anda. Itu di luar kendali saya," katanya. Ia juga mengimbau para remaja perempuan untuk lebih berhati-hati.
Keluarga Tunchanok, yang berasal dari Provinsi Kalasin, sekitar 480 kilometer timur laut Pattaya, mengaku sangat terpukul. Ayah korban, Thongchai Donhomla, menggambarkan putrinya sebagai anak yang mandiri. "Putri saya tidak memiliki ibu, jadi setiap kali dia menginginkan sesuatu, dia akan mencari caranya sendiri, dan dia selalu membantu saya juga," tuturnya. Ibu tiri korban, Oradee Bussarakum, meluapkan kemarahannya dan mengaku sempat meminta polisi untuk mengizinkannya memukul tersangka.
Kasus ini menyoroti kerentanan remaja perempuan terhadap eksploitasi seksual, terutama di kawasan wisata seperti Pattaya. Di Indonesia, kasus serupa juga kerap terjadi, mengingat maraknya praktik prostitusi terselubung yang menyasar anak di bawah umur. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah memiliki Undang-Undang Perlindungan Anak, namun penegakan hukum yang lemah dan minimnya pengawasan seringkali membuat pelaku lolos dari jerat hukum. Kasus ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas, baik di tingkat nasional maupun regional.
Polisi menargetkan berkas perkara akan diserahkan ke kejaksaan pada Jumat (12/7) ini, jauh sebelum batas akhir penahanan pada 18 September. Jika terbukti bersalah, Carman menghadapi hukuman mati. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah kasus ini menjadi momentum bagi Thailand untuk memperketat pengawasan terhadap kejahatan seksual yang melibatkan warga asing, dan bagaimana negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, merespons fenomena serupa di wilayahnya?



