Gempa M7,2 Guncang NTT: Trauma 1992 Kembali, 53 Tewas dan Ribuan Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Guncangan magnitudo 7,2 di Flores Back-Arc Thrust memicu tsunami kecil dan menewaskan sedikitnya 53 orang, dengan kerusakan tersebar di tujuh kabupaten.
- BMKG mencatat hampir seribu gempa susulan dalam dua hari, memperpanjang masa tanggap darurat dan menghambat pemulihan psikologis warga yang masih trauma dengan bencana 1992.
- Pemerintah menargetkan transisi darurat ke pemulihan dalam 2โ3 minggu, namun desakan penetapan status bencana nasional masih menggantung.

Guncangan dahsyat berkekuatan magnitudo 7,2 menghantam pesisir utara Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu pagi, memaksa ribuan warga berlarian ke perbukitan dan mengulang kembali trauma tsunami 1992 yang menewaskan lebih dari 2.500 orang. Hingga Minggu sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 53 korban jiwa, 135 luka-luka, serta ratusan rumah dan fasilitas umum rusak, sementara gempa susulan masih terus berlanjut.
Episenter gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman dangkal 15 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sumbernya adalah sesar naik Flores Back-Arc Thrust, segmen patahan yang sama yang memicu bencana mematikan pada Desember 1992. Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan dan dicabut sekitar pukul 07.30 WITA, setelah gelombang setinggi 0,94 meter tercatat di Maurole, Ende.
Di Maumere, empat orang tewas di Pelabuhan Laurens Say: tiga tertimpa reruntuhan terminal penumpang milik Pelindo, satu lainnya jatuh ke laut saat tangga kapal ambruk. Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur pelabuhan yang menjadi pintu gerbang logistik antar pulau. Sementara itu, di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat, puluhan warga masih tertimbun reruntuhan dan proses evakuasi terus dilakukan hingga hari kedua.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menggarisbawahi bahwa busur belakang Flores menyimpan potensi gempa maksimum hingga M7,9. Ia menilai pelepasan energi besar kali ini adalah siklus yang nyaris berulang setelah tiga dekade jeda. Kepala BMKG, Teuku Faisal, memperkirakan proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu, merujuk pola gempa merusak di Maluku Utara sebelumnya. Hingga Minggu sore, total gempa susulan tercatat 995 kali, meski hanya 46 yang dirasakan warga.
Gubernur NTT, Melkias Laka Lena, mendesak pemerintah pusat menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional. Desakan ini muncul karena dampak yang meluas: 87 unit sekolah, 18 fasilitas kesehatan, dan 5 tempat ibadah rusak. Pemerintah pusat telah mengirimkan 50.000 paket sembako, dengan 4.925 paket telah tiba dan sisanya dalam proses distribusi melalui posko di Labuan Bajo dan Maumere. Lima unit pesawat dari TNI AL, TNI AD, dan BNPB disiagakan untuk mobilisasi logistik dan personel ke daerah terpencil.
Di balik angka-angka, trauma mendalam masih membayangi warga pesisir. Siti Zulfiah Bira, warga Kelurahan Kota Uneng, mengaku belum berani pulang ke rumahnya yang dekat pantai. Ia memilih bertahan di pengungsian bersama ribuan lainnya, mengingat suasana mencekam saat tsunami 1992. Psikolog dan tim trauma healing dari kepolisian telah diterjunkan, namun pemulihan mental diperkirakan berjalan lebih lama daripada perbaikan fisik.
BNPB menargetkan penanganan tanggap darurat selesai dalam dua hingga tiga minggu, dengan syarat kondisi lapangan mendukung. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apakah status bencana nasional akan segera ditetapkan, dan bagaimana memastikan rekonstruksi tidak mengulang kesalahan tata ruang yang membuat warga kembali membangun di zona rawan? Jawabannya akan menentukan apakah Flores mampu bangkit lebih tangguh dari sebelumnya, atau kembali terpuruk dalam siklus bencana yang sama.



