Donna Rose: Gangguan Kepribadian Ambang sebagai 'Kekuatan Super' di Lapangan Rugby
Baca dalam 60 detik
- Pemain rugby Wales, Donna Rose, mengubah stigma borderline personality disorder menjadi keunggulan kompetitif di lapangan.
- Diagnosis BPD sejak usia 21 tahun tidak menghalangi kariernya; ia kini menjadi pilar utama timnas dan Saracens.
- Rose menegaskan bahwa dukungan tim dan rutinitas rugby adalah kunci untuk mengelola gejolak emosi harian.

Donna Rose, pemain rugby profesional asal Wales, membuktikan bahwa hidup dengan borderline personality disorder (BPD) bukanlah akhir dari segalanya. Di usia 35 tahun, ia berdiri sebagai salah satu pilar utama tim nasional Wales dan klub Saracens, dengan 42 caps internasional serta dua gelar Premiership Women's Rugby. Namun, di balik gemerlap prestasi itu, Rose bergulat setiap hari dengan gejolak emosi yang dua kali lebih intens dibanding orang lain.
Diagnosis BPD diterimanya saat berusia 21 tahun, setelah masa-masa sulit yang membawanya ke tim krisis kesehatan mental. Tumbuh di komunitas traveller, Rose merasa berbeda sejak kecil dan sering dianggap nakal karena kesulitan berkonsentrasi di sekolah. Kini, ia justru menyebut BPD sebagai "kekuatan super" yang membuatnya lebih disiplin dan agresif di lapangan.
"Saya tidak pernah pandai menangkap atau mengoper bola, tapi saya hebat dalam menerobos pertahanan lawan," ujarnya. Energi berlebih yang sering menjadi beban justru tersalurkan melalui rugby. "Ada banyak adrenalin yang tersimpan di kepala saya, dan rugby membantu mengeluarkannya," tambahnya.
Perjalanan Rose tidak selalu mulus. Ruang ganti yang riuh dengan lebih dari 30 orang sering menjadi pemicu kecemasan. Pada Piala Dunia tahun lalu, ia harus benar-benar menjaga kesehatan mentalnya dengan dukungan tim, staf, dan dokter. "Kami melakukan check-in harian. Jika saya merasa akan kehilangan kendali, saya akan keluar untuk minum kopi dan membicarakannya," jelasnya.
Ketakutan akan ditinggalkan menjadi salah satu pemicu utama BPD. Rose bersyukur memiliki rekan setim seperti Marlie Packer dan Carys Phillips yang memahami kondisinya. "Kadang saya merasa sendirian di tengah keramaian, tapi tim saya sangat baik memberi saya waktu sendiri, atau justru pelukan saat saya membutuhkannya," katanya.
Kelahiran putrinya, Margot, 18 bulan lalu menjadi titik balik. "Saat saya pulang dan melihat senyumnya, semua beban seakan hilang," ungkap Rose. Ia kini berbicara terbuka tentang kondisinya, menekankan bahwa ia "hidup dengan" BPD, bukan "menderita" karenanya. "Saya ingin menunjukkan bahwa gangguan mental bukanlah titik akhir. Kita bisa berkembang dan menjadi siapa pun yang kita inginkan," tegasnya.
Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental di kalangan atlet masih menjadi pekerjaan rumah. Kisah Rose menjadi pengingat bahwa dukungan lingkungan dan strategi koping yang tepat dapat membantu atlet dengan kondisi serupa tetap berprestasi. Pertanyaannya, akankah federasi olahraga di Tanah Air mulai serius membangun sistem pendukung psikologis bagi atletnya?



