Mantan Bintang Strictly Come Dancing Buka Suara: Bulimia Hampir Merenggut Kariernya
Baca dalam 60 detik
- Vito Coppola, penari profesional Strictly Come Dancing, mengaku sempat mengalami bulimia parah yang membuatnya pingsan di atas panggung.
- Tekanan untuk memiliki tubuh sempurna dan komentar pedas juri menjadi pemicu gangguan makan yang dideritanya selama beberapa bulan.
- Kini, Coppola fokus pada pola makan teratur dan istirahat, serta berbagi pengalaman untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya gangguan makan.

Vito Coppola, penari profesional yang dikenal luas lewat ajang Strictly Come Dancing, membuka lembaran kelam hidupnya. Pria berusia 33 tahun itu mengaku pernah bergulat dengan bulimia, gangguan makan serius yang bahkan membuatnya kolaps saat tampil di kejuaraan dunia. Pengakuannya ini menjadi sorotan, mengingat tekanan fisik dan mental yang dihadapi para penari profesional sering kali luput dari perhatian publik.
Dalam wawancara dengan The Sun, Coppola menuturkan bahwa gangguan makan yang dideritanya dipicu oleh lingkungan kompetisi dansa yang menurutnya "toksik". Ia merasa terus-menerus dinilai dan dibandingkan dengan penari lain, terutama soal bentuk tubuh. Komentar pedas dari juri dan rekan seprofesi tentang bahu yang terlalu lebar, bokong yang terlalu besar, atau kaki yang terlalu berisi, perlahan menggerus kepercayaan dirinya.
"Di dunia kompetisi, selalu ada yang lebih baik, lebih kuat, lebih cepat, atau lebih ramping dari kita. Kita terus mendorong diri sendiri," ujar Coppola. Ia menambahkan bahwa ia merasa tertekan untuk memiliki "struktur tubuh yang sempurna" seperti yang diidealkan oleh para juri. Perasaan tidak pernah cukup ini membuatnya terjebak dalam siklus makan berlebihan lalu memuntahkannya, sebuah perilaku yang ia sadari sangat berbahaya.
Puncak krisis terjadi saat ia pingsan di tengah tarian jive yang cepat di Kejuaraan Dunia di Toronto, Kanada, ketika usianya masih awal 20-an. "Saya pingsan karena tidak punya energi," kenangnya. Peristiwa itu menjadi titik balik yang menyadarkannya bahwa ia harus berhenti. "Menjadi kuat berarti menjauh dari situasi yang toksik dan merusak," tegasnya.
Keluarga, terutama ibunya, menjadi pihak yang paling merasakan perubahan Coppola. Sang ibu curiga ada yang tidak beres ketika paket makanan yang rutin dikirimnya selalu ditemukan utuh saat ia berkunjung. "Ibu punya indra keenam. Dia sahabat terbaikku," kata Coppola. Meski keluarga khawatir, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya ia membuka diri.
Coppola juga menyoroti subjektivitas dalam dunia dansa yang kerap dianggap sebagai olahraga. Menurutnya, dansa lebih merupakan bentuk seni, di mana kemenangan atau kekalahan sangat bergantung pada selera pribadi juri. Hal ini membuat penari rentan terhadap tekanan psikologis yang tidak selalu terlihat dari luar.
Kisah Coppola membuka mata tentang bahaya gangguan makan yang sering kali disembunyikan, terutama di industri hiburan dan olahraga yang menuntut penampilan fisik ideal. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental dan gangguan makan memang terus meningkat, namun masih banyak stigma yang melekat. Kisah seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa tekanan untuk tampil sempurna bisa berdampak serius pada kesehatan, dan penting untuk mencari bantuan profesional sejak dini.
Coppola sendiri kini mengaku telah pulih dan menjalani hidup yang lebih sehat. Ia rutin makan dan tidur cukup, serta menjadikan kesejahteraan mental sebagai prioritas. "Saya sangat berempati dan ingin berbagi pengalaman. Untuk menerima, kita harus memberi," ujarnya. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi orang lain yang mengalami hal serupa untuk berani berbicara dan mencari pertolongan.
Ke depannya, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana industri dansa dan hiburan dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan suportif bagi para penampilnya. Apakah pengakuan berani Coppola akan memicu perubahan dalam cara juri dan pelatih memperlakukan para penari? Atau justru akan menjadi catatan kelam lain yang terlupakan? Yang jelas, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, ada manusia yang rentan terhadap tekanan.



