Gibran Terjunkan Mahasiswa Psikologi UI ke Lokasi Bencana NTT: Trauma Healing Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Wapres Gibran Rakabuming memfasilitasi enam mahasiswa Fakultas Psikologi UI untuk memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak korban bencana di Manggarai, NTT, selama sepekan.
- Langkah ini menandai pergeseran paradigma penanganan bencana yang tidak lagi berfokus pada infrastruktur fisik, melainkan juga pemulihan kondisi mental korban, terutama kelompok rentan.
- Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan relawan muda diharapkan menjadi model standar dalam respons bencana nasional, sekaligus menjawab tantangan koordinasi lintas sektor.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming secara langsung memantau Posko Golo Cenggo di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat, dan menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa dalam proses pemulihan pascabencana. Di tengah penanganan darurat yang masih berjalan, perhatian khusus justru diarahkan pada pemulihan psikologis anak-anak yang menjadi korban.
Dalam kunjungan tersebut, Gibran memfasilitasi enam mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) untuk memberikan layanan bantuan psikologis awal (psychological first aid) kepada anak-anak di pengungsian. Mereka akan mendampingi selama satu minggu melalui pendekatan ramah anak, seperti bermain, bercerita, bernyanyi, dan permainan kelompok. Pendekatan ini dirancang untuk menciptakan rasa aman dan nyaman, sekaligus memberi ruang bagi anak-anak mengekspresikan perasaan tanpa harus mengulang kembali peristiwa traumatis.
Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi penanganan bencana di Indonesia. Jika selama ini fokus utama selalu pada evakuasi, logistik, dan perbaikan infrastruktur, kini dimensi kesehatan mental mulai mendapat tempat. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dampak psikologis pascabencana kerap berlangsung lebih lama daripada pemulihan fisik, terutama pada anak-anak yang kehilangan rasa aman. Kehadiran mahasiswa psikologi di lapangan menjadi bukti bahwa penanganan bencana tidak lagi bisa dilakukan secara parsial.
Keterlibatan mahasiswa ini bukan kali pertama. Mereka telah membersamai rangkaian kunjungan kerja Gibran sejak di Kabupaten Sikka pada Kamis lalu, kemudian berlanjut ke Manggarai dan Manggarai Timur. Ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menjadikan relawan muda sebagai bagian integral dari tim respons bencana. Gibran sendiri mendorong agar partisipasi anak muda terus diperkuat dan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah serta pihak terkait.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki arti strategis. Negeri ini berada di kawasan rawan bencana, dengan lebih dari 3.000 kejadian bencana alam setiap tahunnya. Namun, kapasitas tenaga psikolog dan trauma healing masih sangat terbatas, terutama di daerah terpencil. Kolaborasi dengan kampus seperti UI bisa menjadi solusi jangka pendek sekaligus membangun kader-kader tanggap darurat di masa depan. Ini juga membuka peluang bagi perguruan tinggi lain untuk berkontribusi serupa, tidak hanya dalam bidang psikologi, tetapi juga kesehatan, teknik, dan sosial.
"Semoga keilmuan yang telah teman-teman dapatkan di kampus, bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat NTT," ujar Gibran dalam kesempatan tersebut, menegaskan harapannya agar mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mengaplikasikan ilmunya di tengah masyarakat.
Ke depan, tantangan yang dihadapi bukan hanya bagaimana memperluas program serupa, tetapi juga memastikan keberlanjutannya. Pendampingan psikologis tidak bisa berhenti setelah satu minggu; anak-anak yang mengalami trauma membutuhkan dukungan jangka panjang. Pertanyaannya, akankah pemerintah menyiapkan mekanisme lanjutan setelah relawan mahasiswa kembali ke kampus? Atau justru ini menjadi awal dari pembentukan tim psikososial permanen di setiap daerah rawan bencana? Jawabannya akan menentukan apakah pemulihan bencana di Indonesia benar-benar menyentuh aspek kemanusiaan yang paling dalam.



