Neutrogena Akui Gagal Dukung Hayden Panettiere: Investasi Besar untuk Kesehatan Ibu
Baca dalam 60 detik
- Neutrogena akhirnya merespons kritik publik atas pemutusan kontrak Hayden Panettiere saat aktris tersebut berjuang melawan depresi pasca-melahirkan.
- Perusahaan kecantikan itu berjanji menyalurkan dana signifikan ke mitra kesehatan komunitas untuk memperluas akses perawatan depresi pasca-persalinan.
- Langkah ini menjadi uji kredibilitas bagi merek global dalam menangani isu kesehatan mental, sekaligus pelajaran bagi industri kecantikan di Indonesia.

Tekanan publik memaksa Neutrogena angkat bicara. Raksasa perawatan kulit asal Amerika Serikat itu mengakui telah membuat aktris Hayden Panettiere, mantan duta mereknya, merasa tidak didukung di masa-masa sulit. Pengakuan ini muncul setelah aktris berusia 36 tahun itu ditemukan meninggal dunia di apartemennya di Carolina Selatan, Minggu (16/8/2026), dan publik menyerukan boikot terhadap merek tersebut karena dianggap membuang Panettiere saat ia berjuang melawan depresi pasca-persalinan.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah di Instagram, Neutrogena menyampaikan duka mendalam dan mengakui bahwa keputusan mereka di masa lalu keliru. "Kami bangga pernah bermitra dengannya, tetapi kami memahami bahwa kami membuatnya merasa tidak didukung selama masa yang sangat sulit. Ini bukan nilai yang kami junjung," tulis manajemen Neutrogena. Mereka juga mengumumkan rencana investasi signifikan untuk mitra kesehatan komunitas jangka panjang, yang bertujuan memperluas akses perawatan bagi perempuan, termasuk untuk depresi pasca-persalinan.
Langkah ini merupakan respons atas gelombang kritik yang muncul setelah kematian Panettiere. Sebelumnya, aktris yang dikenal lewat serial Nashville itu pernah mengungkapkan bahwa ia dipecat sebagai duta Neutrogena setelah berbicara terbuka tentang depresi pasca-persalinan yang dialaminya. Ungkapan itu kembali viral dan memicu gerakan boikot di media sosial. Banyak netizen menilai keputusan Neutrogena saat itu sebagai bentuk stigma terhadap kesehatan mental, terutama bagi ibu baru.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting. Industri kecantikan di Tanah Air tengah tumbuh pesat, dengan banyak merek lokal dan internasional yang menggunakan duta selebriti untuk memasarkan produk. Namun, isu kesehatan mental masih kerap menjadi tabu, terutama di kalangan ibu muda. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 10-15 persen ibu di Indonesia mengalami depresi pasca-persalinan, namun banyak yang tidak mendapatkan penanganan memadai. Keputusan Neutrogena untuk berinvestasi dalam perawatan kesehatan mental bisa menjadi preseden bagi merek lain untuk lebih peduli pada kesejahteraan duta dan konsumennya, bukan sekadar citra komersial.
Reaksi Neutrogena ini tidak lepas dari desakan publik yang menuntut akuntabilitas. Dalam pernyataannya, mereka juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Panettiere. "Kami tidak ingin berbicara terlalu cepat setelah kepergiannya, demi menghormati keluarga," tulis mereka. Sementara itu, ayah Panettiere, Alan Panettiere, dalam pernyataannya menggambarkan putrinya sebagai "cahaya yang luar biasa dan kekuatan alam" yang membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Ia meminta privasi bagi keluarga yang sedang berduka.
Kematian Panettiere menyoroti betapa rentannya para selebriti, terutama perempuan, terhadap tekanan industri hiburan dan kecantikan. Kasus ini juga mengingatkan bahwa kesehatan mental adalah isu serius yang membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar basa-basi. Neutrogena, yang telah bermitra dengan Panettiere selama lebih dari satu dekade, kini harus membuktikan komitmennya dengan tindakan konkret, bukan hanya pernyataan.
Ke depan, publik akan mengawasi apakah investasi yang dijanjikan Neutrogena benar-benar berdampak atau sekadar upaya meredam krisis. Pertanyaan yang lebih mendasar: apakah industri kecantikan global, termasuk di Indonesia, akan belajar dari kasus ini untuk menempatkan kesehatan mental sebagai prioritas, bukan sekadar tanggung jawab sosial perusahaan? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi tekanan untuk berubah kini semakin nyata.



