Singapura Luncurkan Program Rehabilitasi Parkinson Senilai Rp40 Miliar: Target 2.000 Pasien
Baca dalam 60 detik
- Program KEEP menawarkan pendekatan proaktif dengan fisioterapi dan dukungan psikososial bagi pasien Parkinson tahap awal-menengah.
- Investasi S$4,48 juta dari Lien Foundation mencakup pelatihan pengasuh dan kampanye publik untuk mengurangi stigma.
- Keberhasilan program ini dapat menjadi model bagi negara dengan populasi menua, termasuk Indonesia.

Singapura meluncurkan program rehabilitasi komunitas senilai S$4,48 juta (sekitar Rp40 miliar) yang dirancang khusus untuk menangani penyakit Parkinson, sebuah langkah yang diharapkan dapat menjangkau 2.000 pasien dalam lima tahun ke depan. Inisiatif ini muncul di tengah meningkatnya jumlah penderita penyakit neurodegeneratif kedua terbanyak di negara tersebut, yang diperkirakan mencapai lebih dari 10.000 orang.
Program bernama Kickstart Exercise and Empower Parkinsonโs (KEEP) ini merupakan kolaborasi antara Lien Foundation, Parkinson Society Singapore (PSS), Tan Tock Seng Hospital, National Neuroscience Institute (NNI), serta sejumlah institusi kesehatan lainnya. Dimulai sejak Januari lalu, KEEP secara bertahap diterapkan di 13 pusat rehabilitasi harian. Pendekatan yang ditawarkan berbeda dari penanganan konvensional: pasien pada tahap awal hingga menengah kini mendapat intervensi kebugaran dan rehabilitasi lebih dini, bukan menunggu gejala memburuk.
Para perancang program, yang terdiri dari fisioterapis, terapis okupasi, pekerja sosial medis, dan spesialis gangguan gerak, menyadari bahwa Parkinson tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga sosial dan psikologis. Karena itu, KEEP memasukkan sesi kelompok untuk mengatasi isolasi sosial yang kerap dialami pasien. Dr Chloe Chung, fisioterapis senior di TTSH, menjelaskan bahwa latihan difokuskan pada teknik berjalan dengan langkah lebih lebar dan aman saat berbelok untuk mencegah jatuh. Pasien juga akan menjalani asesmen rutin setiap enam bulan hingga dua tahun untuk menyesuaikan rencana rehabilitasi dan kesehatan mental mereka.
Di balik pendekatan proaktif ini, ada kekhawatiran tentang beban sistem kesehatan jika penanganan tetap reaktif. Associate Professor Tay Kay Yaw dari NNI menegaskan bahwa pasien yang lebih bugar cenderung mengalami penurunan lebih lambat. "Mengapa tidak mengambil langkah proaktif dengan memperkuat kondisi pasien?" ujarnya. Data menunjukkan bahwa intervensi dini dapat menekan angka jatuh, rawat inap, dan komplikasi yang selama ini membebani layanan kesehatan.
Aspek psikososial juga menjadi perhatian serius. Phyllis Lim, direktur eksekutif PSS, mengungkapkan bahwa banyak pasien merasa depresi karena takut dihakimi masyarakat akibat tremor yang mereka alami. "Mereka bahkan takut keluar rumah," katanya. Untuk itu, KEEP menyediakan dukungan bagi pengasuh melalui enam sesi pelatihan. Tujuannya membantu pengasuh memahami penyakit ini dan menyesuaikan rutinitas harian, sehingga kualitas hidup pasien dan pengasuh meningkat.
Program ini dijalankan melalui enam penyedia layanan komunitas, termasuk AWWA, Care Corner Seniors Services, dan NTUC Health. PSS berperan sebagai pelatih utama untuk meningkatkan standar rehabilitasi. Selain itu, kampanye kesadaran publik tengah disiapkan untuk membangun empati dan mengurangi stigma. Sebuah simposium publik dijadwalkan pada 31 Oktober di kampus Singapore Institute of Technology, Punggol Digital District.
Bagi Indonesia, inisiatif ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan populasi menua yang terus bertambah, prevalensi Parkinson diproyeksikan meningkat. Pendekatan berbasis komunitas seperti KEEP dapat diadaptasi, terutama di daerah dengan akses terbatas ke rumah sakit. Namun, tantangan pendanaan dan pelatihan tenaga kesehatan menjadi PR yang harus dijawab. Apakah Indonesia siap mengadopsi model serupa sebelum gelombang pasien neurodegeneratif mencapai puncaknya?



