Jenny Simpson, Mantan Juara Dunia 1.500 Meter, Didiagnosis Penyakit Jantung Langka yang Mengakhiri Karier Larinya
Baca dalam 60 detik
- Jenny Simpson, peraih medali Olimpiade, mengumumkan diagnosis ARVC, kondisi jantung bawaan yang membuatnya tidak bisa berlari lagi.
- Atlet berusia 39 tahun itu sempat kolaps dan membutuhkan CPR pada Juni lalu, yang kemudian mengarah pada pemeriksaan medis mendalam.
- Diagnosis ini tidak hanya mengubah hidup Simpson, tetapi juga menyoroti risiko kesehatan yang dihadapi atlet elite pasca-pensiun.

Jakarta, LyndHub โ Jenny Simpson, pelari jarak menengah Amerika Serikat yang pernah meraih medali emas dunia dan perunggu Olimpiade, mengumumkan bahwa ia didiagnosis menderita Arrhythmogenic Right Ventricular Cardiomyopathy (ARVC), sebuah penyakit jantung langka yang diwariskan. Kondisi ini membuatnya tidak mungkin lagi kembali berlari secara aman, sebuah pukulan telak bagi atlet yang telah mengukir sejarah di lintasan.
Pengumuman itu disampaikan Simpson melalui unggahan Instagram pada Kamis (20/8). Dalam pernyataannya, perempuan 39 tahun itu mengungkapkan bahwa diagnosis ini merupakan konsekuensi dari insiden kolaps yang dialaminya pada Juni lalu saat mengikuti acara lari komunitas yang diselenggarakan Sir Walter Running. Saat itu, ia membutuhkan pertolongan resusitasi jantung paru (CPR) dari orang-orang di sekitarnya.
ARVC adalah kelainan otot jantung yang ditandai dengan penggantian jaringan otot ventrikel kanan oleh jaringan lemak atau fibrosa. Kondisi ini dapat memicu gangguan irama jantung yang mengancam jiwa, terutama saat aktivitas fisik berat. Bagi seorang atlet seperti Simpson, diagnosis ini berarti ia harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia lari yang telah membesarkan namanya.
Simpson bukan nama sembarangan di dunia atletik. Ia meraih emas pada Kejuaraan Dunia 2011 di Daegu, Korea Selatan, untuk nomor 1.500 meter. Dua tahun kemudian, ia menambah koleksi perak di Moskow, dan kembali meraih perak pada Kejuaraan Dunia 2017 di London. Puncak kariernya terjadi di Olimpiade Rio 2016 ketika ia mempersembahkan medali perunggu untuk Amerika Serikat. Setelah pensiun dari kompetisi pada 2024, Simpson kini menghadapi babak baru yang jauh lebih berat.
Dalam pernyataannya, Simpson menegaskan bahwa masa depannya tetap penuh harapan. "Diagnosis ini adalah hadiah yang luar biasa. Masa depan saya penuh harapan dan akan terus memiliki tujuan besar. Tetapi diagnosis ini juga berarti berbahaya bagi saya untuk kembali berlari," tulisnya. Sikap positif ini patut diapresiasi, mengingat banyak atlet yang mengalami kesulitan beradaptasi setelah pensiun, apalagi dengan kondisi kesehatan yang membatasi aktivitas fisik.
Kisah Simpson menjadi pengingat akan risiko kesehatan yang dihadapi atlet elite, terutama mereka yang berlatih dengan intensitas tinggi dalam waktu lama. Di Indonesia, fenomena ini juga relevan. Banyak mantan atlet nasional yang setelah pensiun tidak mendapatkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, sehingga penyakit jantung yang mungkin sudah mengintai tidak terdeteksi dini. Padahal, deteksi dini seperti yang dialami Simpsonโmeski melalui insiden yang mengerikanโdapat menyelamatkan nyawa.
Para ahli kardiologi di tanah air menekankan pentingnya skrining jantung bagi atlet, baik aktif maupun pensiunan. "Atlet memiliki risiko lebih tinggi terkena aritmia karena perubahan struktural jantung akibat latihan berat. Pemeriksaan EKG dan ekokardiografi secara berkala sangat dianjurkan," ujar seorang kardiolog yang enggan disebut namanya. Namun, kesadaran akan hal ini masih rendah, dan biaya pemeriksaan yang tidak murah menjadi kendala tersendiri.
Bagi Simpson, babak baru hidupnya kini dimulai. Ia mungkin tidak akan lagi berlari di lintasan, tetapi warisannya sebagai salah satu pelari terbaik Amerika tetap abadi. Pertanyaannya, apakah para atlet lain, termasuk di Indonesia, akan belajar dari kasus ini dan lebih memperhatikan kesehatan jantung mereka sebelum terlambat?



