Minum Minuman Manis Setiap Hari Meningkatkan Risiko Kanker Lambung Lebih dari Dua Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Studi observasional terhadap 112.000 orang dewasa AS menemukan konsumsi harian minuman berpemanis gula dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung hingga 2,45 kali lipat.
- Risiko relatif ini paling menonjol pada perempuan yang mengonsumsi lebih dari satu porsi per hari, sementara minuman berpemanis buatan tidak menunjukkan kaitan serupa.
- Para ahli menekankan bahwa temuan ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat, namun mengurangi asupan gula tetap langkah bijak untuk mencegah berbagai penyakit kronis.

Kebiasaan menenggak minuman manis kemasan setiap hari—mulai dari soda, teh manis botolan, hingga minuman berenergi—berpotensi menggandakan lebih dari dua kali risiko seseorang terkena kanker lambung. Temuan ini terungkap dari analisis data kesehatan lebih dari 112.000 orang dewasa Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances, menambah daftar panjang dampak buruk gula bagi tubuh.
Riset yang digawangi para peneliti Mass General Brigham ini mengolah informasi dari dua studi jangka panjang, Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-up Study. Partisipan dikelompokkan berdasarkan frekuensi konsumsi minuman berpemanis gula, termasuk minuman berkarbonasi, minuman rasa buah, dan minuman olahraga. Selama periode pengamatan, tercatat 278 partisipan didiagnosis menderita kanker lambung atau gastric cancer.
Setelah mengontrol berbagai faktor risiko, mereka yang mengonsumsi minuman manis setiap hari memiliki risiko relatif 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang minum kurang dari satu porsi per bulan. Menariknya, kaitan ini paling kuat terlihat pada perempuan yang minum lebih dari satu porsi per hari. Selain itu, asupan fruktosa total yang lebih tinggi juga berhubungan dengan peningkatan insiden kanker lambung.
Penulis senior studi, Andrew Chan, MD, MPH, ahli gastroenterologi dan epidemiologi dari Mass General Brigham Cancer Institute, menyatakan bahwa temuan ini didasarkan pada data puluhan ribu orang selama puluhan tahun. "Kami menemukan bahwa mengonsumsi setidaknya satu minuman berpemanis gula per hari dikaitkan dengan risiko lebih dari dua kali lipat terkena kanker lambung dibandingkan mereka yang tidak pernah mengonsumsinya," ujarnya. Sebaliknya, minuman dengan pemanis buatan tidak menunjukkan peningkatan risiko serupa.
Meski angka tersebut terdengar mengkhawatirkan, para peneliti mengingatkan bahwa ini adalah ukuran risiko relatif, bukan risiko absolut. Dengan hanya 278 kasus dari 112.284 partisipan, kanker lambung tergolong penyakit yang relatif jarang terjadi pada populasi tersebut. Artinya, meskipun risikonya berlipat, peluang absolut seseorang terkena penyakit ini tetap kecil.
Belum diketahui secara pasti mekanisme biologis yang menghubungkan minuman manis dengan kanker lambung. Chan menjelaskan beberapa jalur yang mungkin berperan, seperti penambahan berat badan, resistensi insulin, peradangan kronis, dan perubahan mikrobiota usus. "Kami tidak tahu mekanisme pastinya, tetapi beberapa jalur biologis telah diusulkan," katanya. Ia juga menyoroti peran fruktosa, terutama sirup jagung fruktosa tinggi, yang mungkin memicu peradangan dan perkembangan tumor.
Namun, studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Sebagai penelitian observasional, ia tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Data infeksi Helicobacter pylori—faktor risiko utama kanker lambung—hanya tersedia untuk sebagian kecil partisipan, sehingga sulit menilai pengaruhnya. Selain itu, mayoritas partisipan berkulit putih, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk populasi lain, termasuk Indonesia.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini relevan mengingat tingginya konsumsi minuman manis di tanah air. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi konsumsi minuman berpemanis terus meningkat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Kebiasaan ini berkontribusi pada melonjaknya kasus diabetes dan obesitas, yang juga merupakan faktor risiko berbagai jenis kanker.
Menanggapi hasil studi ini, Chan menyarankan langkah pencegahan yang sederhana. "Mengurangi konsumsi minuman manis adalah langkah yang masuk akal dan berisiko rendah," ujarnya. Mengganti minuman manis dengan air putih atau minuman tanpa gula, atau mengencerkan soda dengan air soda, bisa menjadi awal yang baik. Membaca label kemasan dan memilih produk rendah gula juga membantu.
Ke depan, pertanyaan yang masih menggantung adalah apakah benar ada hubungan kausal antara gula dan kanker lambung, atau apakah faktor gaya hidup lain yang ikut berperan. Penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih ketat, termasuk pengukuran infeksi H. pylori dan keragaman populasi yang lebih luas, diperlukan untuk memperkuat bukti ini. Sementara itu, mengurangi asupan gula tetap menjadi rekomendasi yang tidak pernah salah, baik untuk mencegah kanker maupun penyakit kronis lainnya.



