Bukan Sekadar Panik: Ilmu Perilaku Ungkap Kunci Keselamatan saat Gempa
Baca dalam 60 detik
- Keputusan manusia dalam menit pertama gempa lebih menentukan keselamatan daripada sekadar kekuatan infrastruktur.
- Studi virtual reality menunjukkan orang cenderung meniru tindakan orang lain saat situasi darurat, meski pilihan itu berisiko.
- Kebijakan kebencanaan perlu bergeser dari sekadar sosialisasi informasi menuju pembentukan kebiasaan tanggap darurat.

Ketika gempa mengguncang, detik-detik pertama menjadi penentu antara hidup dan mati. Namun, di tengah kepanikan dan kebisingan alarm, apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran manusia? Pertanyaan ini jarang menjadi fokus utama dalam upaya mitigasi bencana, padahal jawabannya bisa menjadi kunci untuk menekan jumlah korban jiwa.
Bencana gempa NTT pada 15 Agustus 2026 lalu menjadi pengingat pahit. Lebih dari 11 ribu bangunan rusak, 71 orang meninggal, dan 55 ribu warga terpaksa mengungsi. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kerugian tidak hanya ditentukan oleh magnitude gempa, tetapi juga oleh bagaimana manusia meresponsnya. Selama ini, perhatian lebih banyak tercurah pada infrastruktur tahan gempa, sistem peringatan dini, dan kesiapan logistik. Padahal, ada satu variabel yang sering terlupakan: perilaku manusia.
Ilmu perilaku menawarkan perspektif baru. Dalam situasi darurat, manusia tidak selalu bertindak rasional. Sebaliknya, mereka cenderung mencari petunjuk dari orang-orang di sekitar. Fenomena ini disebut social proof atau bukti sosial. Eksperimen dengan virtual reality yang melibatkan 42 partisipan di Florida, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa orang akan mengikuti tindakan orang lain, bahkan jika pilihan tersebut lebih berisiko. Jika semua orang diam, kita menganggap situasi belum berbahaya. Jika orang mulai berlari, kita ikut bergerak.
Temuan serupa juga muncul dari studi di Selandia Baru yang melibatkan 83 staf dan pengunjung rumah sakit. Dalam simulasi gempa yang imersif, keputusan evakuasi terbentuk dari interaksi antara informasi lingkungan dan keberadaan orang lain. Ini menegaskan bahwa dalam ketidakpastian, manusia mencari figur otoritasโguru di sekolah, tenaga medis di rumah sakit, atau petugas keamanan di gedung publik. Pertanyaan yang muncul bukan hanya "Apa yang harus saya lakukan?", tetapi juga "Siapa yang harus saya percaya?".
Anggapan bahwa manusia akan panik dan kehilangan akal saat bencana tidak sepenuhnya benar. Eksperimen-eksperimen tersebut justru menunjukkan bahwa manusia tetap memproses informasi dan mengevaluasi lingkungan sebelum bertindak. Namun, ada kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan. Seseorang mungkin tahu bahwa gempa berbahaya, tetapi bisa menunda evakuasi karena ingin mengambil barang berharga. Yang lain mungkin bingung menentukan arah evakuasi yang aman.
Riset dari gempa Yogyakarta 2006 yang dilakukan Thamarapani dan Rockmore (2022) memberikan pelajaran penting. Pengalaman gempa memang mengubah perilaku, tetapi perubahan itu tidak permanen. Setelah beberapa waktu, kewaspadaan memudar dan kehidupan kembali normal. Urgensi yang sempat terasa kuat perlahan menghilang. Ini menunjukkan bahwa edukasi kebencanaan tidak cukup dilakukan sekali, melainkan harus berkelanjutan dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kebijakan kebencanaan di Indonesia perlu bergeser dari sekadar penyampaian informasi menuju desain perilaku. Membangun infrastruktur tahan gempa saja tidak cukup. Masyarakat perlu dibiasakan dengan perilaku tanggap bencana. Simulasi evakuasi harus rutin dilakukan, bukan hanya sekadar seremonial. Jaringan informasi yang dipercaya di tingkat lokal juga perlu diperkuat, sehingga masyarakat tahu ke mana harus mencari instruksi yang jelas dan kredibel.
Ke depan, pertanyaan yang harus dijawab adalah: bagaimana kita bisa membuat perilaku tanggap bencana menjadi kebiasaan yang mendarah daging? Apakah melalui pendidikan sejak dini, pelatihan rutin, atau integrasi dalam tata kota? Jawabannya mungkin kompleks, tetapi satu hal yang pasti: keselamatan bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal keputusan manusia yang cerdas dan terlatih.



