Gayle King: Hayden Panettiere Masih Berjuang Tiga Bulan Sebelum Meninggal
Baca dalam 60 detik
- Pembawa acara CBS Mornings, Gayle King, mengungkapkan bahwa aktris Hayden Panettiere masih menunjukkan tanda-tanda perjuangan internal saat wawancara tiga bulan sebelum kematiannya.
- Panettiere, yang dikenal lewat perannya di 'Heroes' dan 'Nashville', ditemukan tak sadarkan diri di Greenville, Carolina Selatan, dan meninggal pada usia 36 tahun.
- Otopsi awal tidak menemukan trauma, namun penyebab pasti kematian masih menunggu penyelidikan lebih lanjut, menyisakan banyak pertanyaan.

Gayle King, presenter CBS Mornings, mengaku masih dihantui perasaannya saat mengingat pertemuannya dengan Hayden Panettiere tiga bulan sebelum aktris berusia 36 tahun itu ditemukan tak bernyawa di kediamannya di Greenville, Carolina Selatan, pada Minggu, 16 Agustus. Meski Panettiere saat itu mengaku berada di "titik yang baik", King menilai ada sesuatu yang belum selesai dari diri bintang serial Heroes dan Nashville tersebut.
Dalam wawancara yang direkam pada Mei lalu untuk mempromosikan memoar berjudul This Is Me: A Reckoning, Panettiere sempat berbicara di luar kamera dengan King. Saat itu, ia menyebut dirinya sedang berada dalam kondisi yang lebih baik dan lebih sehat daripada sebelumnya. Namun, King menangkap kecemasan yang tidak terucap. "Dia bilang dia berada di tempat yang baik, tapi saya bisa merasakan bahwa dia masih berjuang," ujar King dalam episode CBS Mornings pekan ini, seraya menyebut kabar duka itu sebagai sesuatu yang memilukan.
Kehidupan Panettiere memang tidak pernah jauh dari sorotan. Selain kariernya yang cemerlang di layar kaca, ia harus menghadapi pergulatan pribadi yang berat: perpisahannya dengan mantan tunangan, petinju kelas berat asal Ukraina, Wladimir Klitschko, yang membuat putri semata wayangnya, Kaya (11 tahun), tinggal bersama sang ayah. Keputusan melepas hak asuh itu, menurut King, adalah salah satu hal tersulit yang pernah diambil Panettiere, meski ia yakin itu demi kebaikan sang buah hati. "Putrinya adalah segalanya baginya," tambah King.
Dalam memoarnya, Panettiere juga mengungkap keterasingannya dari sang ibu dan kehilangan mendalam atas kematian adik satu-satunya, Jansen Panettiere, yang wafat di usia 28 tahun. Rangkaian duka itu, ditambah tekanan industri hiburan yang kerap menuntut kesempurnaan, menjadi beban yang terus membayangi. Saat wawancara dengan King, Panettiere mengaku menjadi "versi paling mentah dari diriku" dan kewalahan dengan materi yang dibahas. Namun, ia tetap berusaha tegar: "Saya terus memperbaiki diri sepanjang waktu... Saya lebih baik, lebih sehat daripada yang sudah lama."
Kepergian Panettiere meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan penggemar, tetapi juga bagi industri hiburan yang kehilangan salah satu bintangnya yang paling rentan namun gigih. Ayahnya, Alan "Skip" Panettiere, dalam pernyataan resmi mengenang putrinya sebagai "cahaya yang luar biasa dan kekuatan alam" yang membawa cinta dan kebahagiaan bagi banyak orang.
Di Indonesia, kabar ini menyentuh banyak penggemar yang tumbuh bersama serial Heroes yang sempat populer di awal 2000-an. Kisah Panettiere juga menjadi pengingat bahwa tekanan mental tidak mengenal status selebritas. Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental di Tanah Air, kasus ini menegaskan pentingnya dukungan psikologis yang berkelanjutan, terutama bagi mereka yang berada di bawah sorotan publik.
Hingga kini, penyebab pasti kematian Panettiere masih menjadi misteri. Pihak berwenang setempat masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Pertanyaan yang menggantung: apakah ada tanda-tanda yang terlewat, dan bagaimana industri hiburan dapat lebih peka terhadap kesehatan mental para bintangnya? Kisah ini mungkin akan menjadi bahan refleksi panjang bagi banyak pihak.



