Kesalahan Frekuensi Radio: Pilot Cathay Pacific Sempat Bikin Jet Tempur NATO Dikerahkan
Baca dalam 60 detik
- Investigasi resmi mengungkap pilot Cathay Pacific salah memilih frekuensi radio setelah keliru menanggapi instruksi untuk pesawat lain, memicu pengerahan jet tempur NATO.
- Insiden ini menyoroti pentingnya komunikasi yang cermat antara pilot dan pengatur lalu lintas udara, serta memicu evaluasi prosedur di Cathay Pacific.
- Dampaknya terhadap industri penerbangan global, termasuk Indonesia, menekankan perlunya pelatihan dan kewaspadaan berkelanjutan untuk mencegah kejadian serupa.

Sebuah investigasi resmi mengungkap bahwa pilot Cathay Pacific penerbangan CX257 rute Hong Kong–London sempat salah memilih frekuensi radio setelah keliru menanggapi instruksi pengatur lalu lintas udara yang ditujukan untuk pesawat lain. Kesalahan ini menyebabkan hilangnya kontak dengan menara kontrol di wilayah udara Rumania pada 4 Juli lalu, yang berujung pada pengerahan dua jet tempur Hungaria di bawah prosedur siaga cepat NATO.
Menurut pernyataan Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong (CAD) yang dirilis 14 Agustus, insiden ini bermula ketika kru penerbangan CX257 merespons instruksi yang sebenarnya untuk pesawat lain, sehingga mereka memilih frekuensi radio yang salah. Akibatnya, komunikasi dengan unit kontrol lalu lintas udara setempat terputus, dan kru tidak segera menyadari hilangnya kontak tersebut. Peralatan komunikasi pesawat sendiri dilaporkan berfungsi normal.
Insiden ini pertama kali mencuat setelah Menteri Pertahanan Hungaria, Romulusz Ruszin-Szendi, mengungkapkan di media sosial bahwa dua jet tempur dikerahkan setelah pesawat A350 yang terdaftar di China gagal menjalin kontak dengan kontrol lalu lintas udara sipil Rumania. Meskipun komunikasi akhirnya pulih dan pesawat melanjutkan perjalanan ke Heathrow sesuai rencana, CAD menyatakan keprihatinan serius atas kejadian ini.
Menanggapi insiden tersebut, Cathay Pacific telah menerapkan sejumlah langkah perbaikan sejak pertengahan Juli. Langkah-langkah itu mencakup peningkatan prosedur operasional dan pemantauan sistem komunikasi bagi kru penerbangan, serta pengingat untuk selalu waspada. CAD juga meminta maskapai untuk memberikan pelatihan tambahan dan evaluasi khusus bagi kru yang terlibat, serta menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara pilot dan pengatur lalu lintas udara demi keselamatan penerbangan.
Bagi industri penerbangan Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya ketelitian dalam komunikasi radio, terutama di wilayah udara yang padat lalu lintas. Meskipun kejadian serupa jarang terjadi, potensi risiko keselamatan yang ditimbulkan sangat besar. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air Group dapat mengambil pelajaran dari insiden ini untuk memperkuat prosedur internal mereka, khususnya dalam hal verifikasi instruksi lalu lintas udara dan manajemen kesalahan komunikasi.
Para analis keselamatan penerbangan menilai bahwa insiden ini menggarisbawahi perlunya pelatihan berkelanjutan bagi pilot dalam menghadapi situasi komunikasi yang ambigu. “Kesalahan manusia tetap menjadi faktor utama dalam kecelakaan penerbangan, dan insiden ini menunjukkan bahwa bahkan maskapai bereputasi baik pun tidak kebal,” ujar seorang pengamat penerbangan yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa teknologi modern seperti sistem komunikasi data dapat membantu mengurangi risiko, tetapi kewaspadaan kru tetap krusial.
Ke depan, CAD berjanji akan terus memantau efektivitas langkah perbaikan yang diterapkan Cathay Pacific. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan mendorong regulator di kawasan Asia, termasuk Indonesia, untuk meninjau ulang prosedur komunikasi dan pelatihan pilot mereka? Mengingat lalu lintas udara yang terus meningkat, langkah preventif yang lebih ketat mungkin menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah terulangnya insiden serupa.



