Catatan Tangan Gandhi Laku Rp26 Miliar di Lelang Mumbai, Rekor Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Koleksi 688 pesan tulisan tangan Mahatma Gandhi terjual dengan nilai fantastis, mencetak rekor dokumen bersejarah India.
- Arsip pribadi ini mengungkap sisi personal Gandhi saat menghibur rekannya yang berduka, melampaui citra publiknya sebagai pemimpin.
- Pembeli dirahasiakan, namun arsip dipastikan tetap berada di India, menjadi aset budaya yang tak ternilai.

Lelang di Mumbai baru saja mencatat sejarah baru: setumpuk catatan harian tulisan tangan Mahatma Gandhi, tokoh kemerdekaan India, terjual dengan harga menakjubkan mencapai 1,69 juta dolar AS atau setara Rp26 miliar. Angka ini bukan sekadar nominal, melainkan rekor tertinggi yang pernah dibayarkan untuk sebuah dokumen bersejarah India di meja lelang.
Koleksi langka itu terdiri dari 688 pesan pribadi yang ditulis Gandhi antara 1944 hingga 1946. Isinya bukan pidato politik, melainkan refleksi mendalam tentang kebenaran, tanpa kekerasan, dan pengendalian diri. Yang membuatnya istimewa, pesan-pesan tersebut ditujukan kepada Anand T Hingorani, seorang pengacara dan pejuang kemerdekaan yang juga sahabat dekat Gandhi. Hingorani baru saja kehilangan istrinya, Vidya, dan Gandhi hadir sebagai penasihat serta penghibur melalui surat-suratnya.
Rumah lelang Saffronart yang menangani penjualan ini menyebut koleksi tersebut sebagai sorotan utama dari lelang bertajuk "Gandhi: From the Collection of Anand T Hingorani". Total ada 86 lot yang ditawarkan, termasuk surat, manuskrip, foto, dan benda pribadi lain yang disimpan keluarga Hingorani selama beberapa generasi. Namun, catatan harian inilah yang menjadi primadona dan berhasil memecahkan rekor.
Dinesh Vazirani, salah satu pendiri Saffronart, menilai koleksi ini memberikan perspektif baru tentang Gandhi. "Melalui lensa hubungan personal yang dekat, kita bisa melihat Gandhi sebagai manusia, bukan hanya simbol perjuangan," ujarnya. Vazirani juga menambahkan bahwa refleksi Gandhi ini menunjukkan bagaimana ia benar-benar menghidupi prinsip-prinsip yang ia khotbahkan di depan publik. Ini adalah rekaman berharga tentang pemikiran dan praktik hidupnya.
Yang menarik, lelang ini juga menawarkan benda-benda lain seperti catatan Gandhi tentang Tuhan dan kitab suci Bhagavad Gita, serta roda pemintal portabel miliknya. Ada pula dua surat yang membahas disiplin spiritual dalam memintal. Semua barang tersebut memperkaya gambaran tentang Gandhi yang tidak hanya dikenal sebagai pemimpin politik, tetapi juga seorang spiritualis yang hidup sederhana.
Bagi Indonesia, berita ini memiliki resonansi tersendiri. Kita memiliki tokoh-tokoh sejarah dengan warisan pemikiran yang serupa, seperti Soekarno dan Hatta, yang juga meninggalkan banyak tulisan tangan. Nilai historis yang tinggi pada dokumen-dokumen semacam ini seharusnya menjadi pengingat akan pentingnya pelestarian arsip. Di era digital, banyak arsip fisik yang terabaikan, padahal nilainya bisa melambung seiring waktu, baik secara finansial maupun budaya.
Pembeli catatan Gandhi ini masih dirahasiakan oleh Saffronart. Namun, mereka menegaskan bahwa koleksi tersebut akan tetap berada di India. Ini adalah keputusan yang bijak, karena menjaga warisan budaya tetap di tanah asalnya adalah hal yang penting. Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita sudah cukup serius dalam melestarikan dan menghargai warisan sejarah kita sendiri? Mungkin ini saatnya kita merenungkan kembali nilai-nilai yang ditinggalkan para pendiri bangsa, sebelum semuanya hilang ditelan zaman.



