AS-Iran di Ambang Perang Baru: Trump Tolak Perpanjang Gencatan Senjata dan Ancam Bom Oman
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menolak memperpanjang nota kesepahaman gencatan senjata dengan Iran yang berakhir 17 Agustus 2026, memicu eskalasi konflik.
- Washington mengancam akan membom Oman jika negara itu menghalangi kepentingan AS, menyusul kesepakatan Iran-Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz.
- Ketegangan ini berpotensi mengguncang pasar minyak global dan menimbulkan risiko bagi ekonomi Indonesia yang bergantung pada impor energi.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara tegas menolak memperpanjang nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata dengan Iran yang resmi berakhir pada Senin, 17 Agustus 2026. Keputusan ini diumumkan di Gedung Putih ketika Trump menjawab pertanyaan wartawan mengenai kelanjutan perundingan damai kedua negara. Penolakan ini menandai babak baru dalam konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan sejak pecah pada 28 Februari lalu, dan memicu kekhawatiran akan eskalasi militer yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
MoU yang disepakati sebelumnya memuat gencatan senjata selama 60 hari dan pembukaan sebagian Selat Hormuz, yang dimaksudkan sebagai ruang bagi upaya diplomasi. Namun, hingga batas waktu berakhir, tidak ada kemajuan signifikan yang dicapai untuk menghentikan perang. Trump menyatakan bahwa Washington tidak akan berupaya memperpanjang kesepakatan tersebut, menegaskan bahwa tanpa kesepakatan damai yang konkret, perpanjangan hanya akan menjadi formalitas tanpa arti.
Di tengah kebuntuan negosiasi, Trump mengklaim telah menjalin jalur komunikasi rahasia dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Dalam wawancara dengan Fox News, ia menggambarkan komunikasi tersebut sebagai 'langsung' dan 'rahasia', serta menegaskan bahwa Washington 'tidak terburu-buru' untuk mengakhiri perang. Namun, klaim ini langsung dibantah oleh IRGC. Juru bicara militer Iran menyebut pernyataan Trump sebagai 'kebohongan' dan 'fantasi yang berasal dari delusi' akibat kekalahan dan keputusasaan dalam perang. Mereka menegaskan tidak ada pembicaraan dengan Amerika, bahkan di tingkat yang paling rendah sekalipun.
Sementara itu, isu Selat Hormuz menjadi titik api baru. Iran dan Oman dilaporkan telah mencapai kesepahaman untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut, yang selama ini menjadi jalur perdagangan seperlima komoditas energi dunia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa 'kesepahaman telah tercapai mengenai peta rute transit' dan detail kesepakatan sedang diselesaikan sebelum pernyataan bersama dirilis. Namun, beberapa jam sebelum kesepahaman itu diumumkan, Trump telah melontarkan ancaman keras terhadap Oman. Dalam wawancara yang sama, ia menyatakan, 'Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan.' Ancaman ini bukan yang pertama; pada Mei lalu, Trump juga pernah mengancam akan 'meledakkan' Oman jika negara itu tidak patuh pada kepentingan AS.
Ancaman terhadap Oman mengejutkan banyak pihak, mengingat Oman selama ini dikenal sebagai mediator netral di kawasan Timur Tengah. Langkah ini juga menunjukkan bahwa AS tidak segan-segan menekan sekutunya sendiri demi mengamankan kepentingan strategisnya. Namun, apa yang dimaksud Trump dengan 'menghalangi' masih belum jelas, dan ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia yang dipicu oleh ketidakstabilan di Selat Hormuz. Penutupan selat tersebut sebelumnya telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dan komoditas lainnya, yang berimbas pada inflasi dan biaya hidup di dalam negeri. Jika AS benar-benar melancarkan serangan ke Oman, risiko gangguan pasokan minyak akan semakin besar, dan Indonesia harus bersiap menghadapi potensi lonjakan harga energi.
Di tengah ketidakpastian ini, pertanyaan besar yang menggantung adalah: apakah AS benar-benar akan menyerang Oman, atau ini hanya taktik tekanan politik? Dan bagaimana respons Iran dan Oman terhadap sikap agresif Washington? Yang jelas, jalan menuju perdamaian di Timur Tengah semakin terjal, dan dunia harus bersiap menghadapi konsekuensi dari kebuntuan diplomasi ini.



