Empat Insiden dalam Sebulan: Pengawas Penerbangan Australia Periksa Ulang Keselamatan Bandara Sydney
Baca dalam 60 detik
- Biro Keselamatan Transportasi Australia (ATSB) menyelidiki insiden keempat di Bandara Sydney dalam sebulan, melibatkan dua pesawat Qantas yang nyaris bertabrakan di darat.
- Laporan pengawas lalu lintas udara mengungkap kekhawatiran tentang kesiapan staf menghadapi perubahan prosedur setelah pembukaan bandara baru di barat Sydney.
- Investigasi awal dijadwalkan selesai dalam enam hingga delapan minggu, dengan fokus pada faktor-faktor yang mungkin berkontribusi pada serangkaian insiden serupa.

Badan Keselamatan Transportasi Australia (ATSB) kembali membuka penyelidikan setelah insiden keempat yang melibatkan pengatur lalu lintas udara di Bandara Sydney terjadi dalam waktu kurang dari sebulan. Dua pesawat Qantas nyaris bertabrakan di landasan pacu pada Selasa lalu, memicu kekhawatiran baru tentang keselamatan penerbangan di bandara tersibuk Australia itu.
Kejadian terbaru melibatkan Airbus A321 yang bersiap lepas landas menuju Gold Coast, yang terpaksa mengerem mendadak untuk menghindari Boeing 737 yang baru tiba dari Melbourne. Menurut pernyataan ATSB, Boeing tersebut diizinkan melanjutkan perjalanan di jalur taksi yang sama dengan yang akan dimasuki Airbus. Meski tidak ada risiko tabrakan langsung, penyelidikan diluncurkan untuk mencari tahu apakah ada faktor umum yang memicu serangkaian insiden serupa dalam beberapa pekan terakhir.
Ini bukan pertama kalinya Bandara Sydney menjadi sorotan. Pada 27 Juli, dua pesawat Qantas nyaris bertabrakan ketika QantasLink Dash 8 yang mendarat dan Boeing 737 yang dilaporkan diizinkan melintasi landasan yang sama. Boeing 737 baru bisa berhenti setelah melewati titik aman. Kemudian pada 9 Agustus, sebuah Jetstar A320 harus mengerem mendadak untuk menghindari Qatar Airways Boeing 777, menyebabkan awak kabin cedera. Di hari yang sama, Virgin Australia 737 yang diizinkan lepas landas melihat pesawat Qantas melintas di depannya dan berhenti sekitar satu kilometer sebelum titik tabrakan.
Yang lebih mengkhawatirkan, ATSB pada Kamis lalu menerima laporan dari seorang pengawas lalu lintas udara yang menyatakan staf bandara tidak siap menghadapi perubahan kompleks dalam prosedur dan wilayah udara, menyusul pembukaan bandara internasional baru di barat Sydney. Laporan yang dibuat pada awal Juni itu mengungkap hasil survei serikat pekerja, di mana mayoritas dari lebih dari 50 pengawas yang merespons mengeluhkan kurangnya waktu untuk mempelajari materi yang sangat detail dan rumit sebelum perubahan diberlakukan pada 9 Juli.
Pengawas tersebut bahkan menyebut kemiripan dengan situasi pengatur lalu lintas udara di Washington DC, yang menjadi sorotan setelah tabrakan fatal pada Januari 2025. Saat itu, staf telah memohon perubahan kepada manajemen setempat berbulan-bulan sebelum kecelakaan terjadi. Namun, Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil Australia (CASA) yang menyelidiki laporan tersebut menyimpulkan bahwa Airservices Australia, badan pemerintah yang mempekerjakan pengawas, telah menerapkan pelatihan, prosedur, dan dukungan operasional yang memadai.
Bagi Indonesia, insiden beruntun ini menjadi pengingat pentingnya investasi dalam pelatihan pengatur lalu lintas udara dan manajemen perubahan, terutama saat bandara baru beroperasi. Dengan rencana pembangunan bandara baru di berbagai daerah, otoritas penerbangan Indonesia perlu memastikan transisi yang mulus dan kesiapan sumber daya manusia agar kejadian serupa tidak terulang. Pertanyaan yang menggantung: apakah investigasi ATSB akan mengungkap kelemahan sistemik yang lebih dalam, atau hanya sekadar rangkaian kebetulan yang tidak berhubungan?



