NTU dan OUE Healthcare Perkuat Riset Integrasi Kedokteran Barat dan TCM: Dampaknya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Kolaborasi NTU-OUEH akan memformalkan riset bersama, pelatihan klinis, dan publikasi ilmiah yang memadukan pengobatan modern dengan TCM, fokus pada gangguan tidur, penyakit kronis, dan kesehatan wanita.
- Kemitraan ini sejalan dengan inisiatif Healthier SG Singapura dan melibatkan pendanaan US$3 juta untuk kursi profesor baru di bidang healthcare-teknologi, menandai langkah maju dalam pengobatan presisi dan preventif.
- Bagi Indonesia, model integratif ini bisa menjadi referensi kebijakan dan peluang kolaborasi riset, terutama dalam mengatasi beban penyakit kronis dan mengembangkan kurikulum pendidikan tenaga kesehatan.

Singapura, 18 Agustus 2026 โ Nanyang Technological University (NTU) dan penyedia layanan kesehatan OUE Healthcare (OUEH) resmi menjalin kolaborasi strategis untuk memperkuat penelitian yang mengintegrasikan pengobatan Barat dengan pengobatan tradisional Tiongkok (TCM). Kemitraan yang ditandatangani pada 17 Agustus di Nanyang Lake Pavilion ini akan memprioritaskan tiga area utama: gangguan tidur, penyakit kronis, dan kesehatan wanita.
Kerja sama ini bukan sekadar nota kesepahaman. Kedua institusi akan membangun kerangka formal untuk proyek riset ilmiah bersama, publikasi akademik, serta program pelatihan klinis, pendampingan, dan pertukaran bagi praktisi TCM. Para praktisi juga akan dilibatkan dalam konferensi kesehatan internasional, seminar, dan lokakarya akademik kolaboratif. Langkah ini dinilai sebagai upaya serius untuk menjembatani dua paradigma pengobatan yang selama ini sering berjalan paralel.
Menurut Swee Yong Peng, Chief Commercial Officer OUEH yang juga seorang dokter keluarga dan spesialis TCM, pihaknya telah mengoperasikan dua klinik dengan model "pengobatan integratif" di Hougang dan Aljunied melalui perusahaan asosiasinya, Healthway Medical. Klinik-klinik ini menggabungkan layanan medis konvensional dengan terapi TCM, dan rencananya akan diperluas ke lebih banyak lokasi dalam waktu dekat. "Kami bertujuan mengembangkan jalur klinis terstruktur untuk mengevaluasi hasil, dan menerjemahkan riset ini menjadi model perawatan praktis di seluruh jaringan klinik integratif kami," ujarnya.
Kolaborasi ini dinilai tepat waktu, mengingat Kementerian Kesehatan Singapura sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk mengintegrasikan TCM ke dalam inisiatif kesehatan preventif Healthier SG. Ini menandakan perubahan paradigma dalam kebijakan kesehatan publik, dari pendekatan kuratif menuju preventif yang lebih holistik. Di sisi akademik, NTU telah memperkenalkan program magister baru di bidang pengobatan Tiongkok pada tahun 2026, menjadikannya program pascasarjana pertama dari universitas lokal Singapura.
Acara penandatanganan juga menjadi ajang peluncuran Stephen Riady Professorship in Healthcare and Technology, yang didanai oleh kelompok properti OUE dengan endowment sebesar US$3 juta. Kursi profesor ini dirancang untuk mempercepat intervensi medis dini, meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan, dan mendukung penuaan yang lebih sehat melalui riset interdisipliner. Christian Wolfrum, Wakil Presiden dan Provost NTU yang juga ahli metabolisme dan Ketua Eksekutif AI Singapore, ditunjuk sebagai pemegang kursi pertama. Sementara itu, Stephen Riady, Ketua Eksekutif OUE, menekankan harapannya untuk membangun koneksi antara teknologi, kedokteran, riset, dan praktik klinis, serta mengintegrasikan pengobatan modern dan tradisional untuk memberikan perawatan pasien yang holistik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi yang signifikan. Indonesia menghadapi beban ganda penyakit menular dan tidak menular, dengan prevalensi penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi yang terus meningkat. Model integratif yang dikembangkan NTU-OUEH dapat menjadi referensi bagi pengembangan kebijakan kesehatan di dalam negeri, terutama dalam mengintegrasikan pengobatan tradisional seperti jamu ke dalam sistem layanan kesehatan formal. Selain itu, kolaborasi riset antara institusi Indonesia dan NTU dapat membuka peluang untuk penelitian bersama, transfer pengetahuan, dan pengembangan kurikulum pendidikan tenaga kesehatan yang lebih komprehensif.
Linda Zhong, Direktur Biomedical Sciences and Chinese Medicine di NTU, menegaskan bahwa kemitraan ini akan menggabungkan keahlian NTU dalam ilmu biomedis dan pengobatan Tiongkok dengan pengalaman klinis OUEH yang berharga. "Dengan mempertemukan peneliti dan klinisi, kami dapat memastikan bahwa riset menjawab kebutuhan klinis nyata sambil menghasilkan pengetahuan yang berkontribusi pada perawatan pasien yang lebih baik," katanya. Sementara itu, Presiden NTU Ho Teck Hua menyatakan bahwa masa depan kesehatan bersifat interdisipliner, dan kemitraan ini akan membantu mengubah ambisi menjadi aksi nyata.
Ke depan, keberhasilan kolaborasi ini akan diukur dari sejauh mana hasil riset dapat diterjemahkan menjadi praktik klinis yang berdampak. Pertanyaan yang muncul: apakah model integratif ini akan menjadi standar baru dalam sistem kesehatan Asia Tenggara, dan bagaimana Indonesia dapat memposisikan diri untuk mengambil manfaat dari tren ini? Dengan meningkatnya minat global terhadap pengobatan komplementer, kolaborasi semacam ini dapat menjadi katalis bagi transformasi layanan kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.



