Kanker Kambuh, Gitaris Def Leppard Vivian Campbell Tetap Melaju: 'Hidup untuk yang Hidup'
Baca dalam 60 detik
- Vivian Campbell, gitaris Def Leppard, mengonfirmasi kanker Hodgkin limfoma yang dideritanya kambuh setelah transplantasi sumsum tulang donor pada Januari 2025.
- Meski harus menjalani perawatan lanjutan dan kemungkinan transplantasi kedua, musisi 63 tahun itu menolak berhenti berkarya dan justru memperbanyak aktivitas, termasuk reli mobil.
- Campbell mengajak sesama pejuang kanker untuk tidak larut dalam ketakutan, melainkan fokus pada hal-hal yang memberi semangat hidup, sebuah pesan yang relevan bagi pasien di Indonesia.

Gitaris Def Leppard, Vivian Campbell, kembali berhadapan dengan kankernya. Setelah sempat dinyatakan remisi pada pertengahan 2025, penyakit Hodgkin limfoma yang dideritanya sejak 2013 itu kambuh. Namun, di usia 63 tahun, ia menegaskan tidak akan membiarkan penyakit tersebut menghentikan langkahnya.
Campbell mengungkapkan kabar ini dalam wawancara dengan Radio YSKL FM di El Salvador. Ia menceritakan bahwa pada Januari 2025 ia menjalani transplantasi sumsum tulang dari donor, sebuah prosedur yang dijalaninya setelah merasa takut pada musim dingin 2023. Saat itu, ia menyadari transplantasi adalah satu-satunya harapan untuk bertahan. Sayangnya, transplantasi tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
"Kanker saya kembali. Saya akan terus menjalani perawatan untuk mengendalikannya. Kemungkinan saya harus menjalani transplantasi lagi dalam beberapa tahun ke depan dengan donor lain," ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan tidak akan memperlambat aktivitasnya. Ia tetap tampil bersama Def Leppard, proyek sampingannya Last In Line, dan bahkan semakin serius menekuni hobi lamanya, reli mobil.
Bagi Campbell, bekerja dan melakukan hal yang disukai adalah kunci untuk tetap bertahan. "Fakta bahwa saya masih bisa terus bekerja memberi saya sesuatu untuk hidup, sesuatu yang Anda nikmati, yang Anda sukai, yang membuat Anda bangun pagi dan menantikannya. Itu mengalihkan fokus dari kanker," katanya. Ia juga mengkritik sikap sebagian pasien yang justru mengurung diri setelah diagnosis. "Saya pernah bertemu orang yang hanya fokus pada penyakitnya. Mereka berpikir, 'Oh, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya harus di tempat tidur.' Saya tidak pernah merasa seperti itu," tegasnya.
Kisah Campbell menyoroti perjalanan panjang seorang musisi yang telah berkarier puluhan tahun. Ia bergabung dengan Def Leppard pada 1992, menggantikan Steve Clark, dan telah menjadi bagian dari album-album ikonik seperti Hysteria dan Adrenalize. Perjuangannya melawan kanker bukanlah hal baru; ia pertama kali didiagnosis pada 2013 dan sempat menjalani perawatan. Kini, dengan kekambuhan ini, ia kembali menjadi simbol ketangguhan di tengah industri musik yang kerap menuntut performa panggung prima.
Di Indonesia, perjuangan Campbell menggemakan realitas banyak pasien kanker. Data Globocan 2020 mencatat lebih dari 396.000 kasus baru kanker di Indonesia, dengan limfoma Hodgkin menjadi salah satu jenis yang cukup umum. Akses terhadap transplantasi sumsum tulang masih terbatas, dan biaya perawatan sering menjadi kendala. Namun, semangat Campbell untuk tetap produktif bisa menjadi inspirasi bagi pasien di Tanah Air, bahwa diagnosis bukanlah akhir dari segalanya.
Psikolog kesehatan dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, menilai sikap positif seperti yang ditunjukkan Campbell dapat memengaruhi kualitas hidup pasien. "Dukungan sosial dan aktivitas yang bermakna terbukti membantu pasien menghadapi pengobatan yang berat. Ini sejalan dengan pendekatan psiko-onkologi yang kini mulai dikembangkan di Indonesia," ujarnya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda, dan penting untuk tetap berkonsultasi dengan tim medis.
Di tengah kabar duka ini, Campbell menutup wawancaranya dengan pesan yang menggugah: "Hidup adalah untuk yang hidup. Jaga kesehatan Anda. Jika Anda terkena kanker, atasi ketakutan. Ketakutan itu wajar, tetapi jangan menyerah." Pertanyaannya, akankah semangat juangnya mampu menginspirasi lebih banyak orang untuk tidak menyerah pada keadaan, baik di atas panggung maupun di ruang perawatan?



