Polri Kerahkan 9.242 Personel Kawal Demo BEM SI, Larang Keras Gunakan Senjata Api
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 9.242 personel gabungan dikerahkan untuk mengamankan aksi unjuk rasa di Jakarta, dengan fokus pada demonstrasi BEM SI di Bundaran HI.
- Polda Metro Jaya menegaskan larangan penggunaan senjata api dan mengedepankan tindakan persuasif untuk menjaga keselamatan semua pihak.
- Polisi mengimbau massa untuk menggunakan lokasi alternatif karena Bundaran HI merupakan pusat aktivitas ekonomi dan transportasi yang rawan gangguan.

Jakarta โ Kepolisian Daerah Metro Jaya mengerahkan 9.242 personel gabungan untuk mengawal gelombang demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung hari ini, Selasa (18/8/2026). Langkah ini diambil sebagai respons atas rencana aksi yang melibatkan puluhan elemen masyarakat, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia Universitas Indonesia (BEM SI-UI) yang akan berkumpul di Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Dalam apel gelar pasukan di Lapangan Presisi Polda Metro Jaya, Kepala Operasi (Karo Ops) Kombes Laode Aries menegaskan bahwa seluruh personel harus bergerak dalam satu komando dan dilarang keras menggunakan senjata api dalam bentuk apa pun. "Para Padal harus mengedepankan tindakan persuasif. Tidak ada penggunaan senjata api, termasuk bagi personel berpakaian reserse, baik di Satgas Intel maupun Satgas Gakkum," ujarnya. Instruksi ini menegaskan komitmen Polri untuk mengedepankan pendekatan humanis dalam mengelola aksi unjuk rasa.
Aries juga memerintahkan agar setiap petugas bersikap tegas terhadap peserta yang membawa benda berbahaya, dengan melakukan penangkapan langsung. Selain itu, seluruh orasi dan materi tulisan yang dibawa peserta wajib didokumentasikan dalam bentuk video atau foto untuk kemudian dilaporkan kepada pimpinan. "Keselamatan warga adalah prioritas utama, baik peserta maupun masyarakat sekitar, termasuk personel yang bertugas. Tunjukkan profesionalisme, jaga marwah institusi, dan buktikan bahwa TNI-Polri mampu melayani aksi unjuk rasa dengan sebaik-baiknya," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyatakan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi 30 elemen masyarakat yang akan melaksanakan aksi di berbagai titik. Meski demikian, ia memastikan tidak ada pengalihan arus lalu lintas secara permanen; rekayasa lalu lintas akan bersifat situasional sesuai kondisi di lapangan. Budi menjelaskan bahwa kepolisian telah menganjurkan sejumlah alternatif lokasi demonstrasi, mengingat Bundaran HI, Patung Kuda, Semanggi, dan Sudirman merupakan pusat gravitasi Jakarta. "Pusat perekonomian, perhotelan internasional, pusat kegiatan masyarakat, pusat perbelanjaan, dan moda transportasi. Apabila tempat-tempat ini dijadikan lokasi penyampaian aspirasi, akan mengganggu aktivitas masyarakat lainnya," jelas Budi.
Adapun aksi BEM SI-UI yang digelar siang nanti membawa sejumlah tuntutan, antara lain penghentian penjajahan negara atas rakyat sendiri, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta reformasi agraria. Massa juga menuntut penurunan harga bahan pokok dan BBM, evaluasi total Proyek Strategis Nasional (PSN), penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan KDMP, serta penghentian pemangkasan Tunjangan Kinerja (TKD). Selain itu, mereka mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk daerah Flores dan Sumatra serta percepatan pemulihan, menghentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil, serta membubarkan YON TP.
Langkah pengamanan yang melibatkan ribuan personel ini menunjukkan keseriusan aparat dalam menjaga ketertiban sekaligus menghormati hak konstitusional warga untuk menyampaikan pendapat. Namun, larangan tegas penggunaan senjata api menjadi sinyal bahwa Polri berupaya menghindari eskalasi konflik di lapangan. Meski demikian, efektivitas pendekatan persuasif ini akan diuji ketika berhadapan dengan massa yang membawa tuntutan kompleks dan beragam.
Ke depan, publik akan mencermati apakah aksi ini berjalan damai dan tuntutan mahasiswa mendapat respons nyata dari pemerintah. Pertanyaan yang mengemuka: akankah aparat mampu menjaga keseimbangan antara keamanan dan kebebasan berpendapat, atau justru terjadi gesekan yang memicu ketegangan baru? Semua mata tertuju pada jalannya demonstrasi hari ini.



