Hujan Redam Kebakaran Terbesar Belgia, Eropa Masih Terancam Musim Api Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Curah hujan di Belgia timur membantu menjinakkan api yang telah menghanguskan 3.000 hektare lahan, memecahkan rekor nasional.
- Kebakaran hutan di Eropa tahun ini telah membakar 576.000 hektare, dua kali luas Luksemburg, dengan pemicu utama aktivitas manusia.
- Belgia mengerahkan 500 personel dan bantuan udara Uni Eropa, sementara warga yang dievakuasi belum diizinkan kembali ke rumah.

Hujan yang turun di kawasan timur Belgia pada Senin pagi (17/8) memberikan secercah harapan bagi petugas pemadam yang berjuang keras menjinakkan kebakaran hutan terbesar dalam sejarah negara itu, yang sebelumnya sempat mengancam merembet hingga perbatasan Jerman. Setelah berhari-hari dilanda gelombang panas dengan suhu menembus 30 derajat Celsius, bahkan mencapai 37 derajat di beberapa titik, guyuran air yang disertai peningkatan kelembapan menjadi momentum krusial dalam upaya pengendalian api.
Menurut badan meteorologi Belgia, IRM, curah hujan antara 5 hingga 9 milimeter diperkirakan turun di kawasan High Fens, sebuah cagar alam di timur Belgia yang telah terbakar sejak Jumat. Suhu lokal pun diprediksi turun ke kisaran 20 derajat Celsius, jauh dari teriknya pekan lalu. "Ini akan mengubah segalanya; selain air dari hujan, kelembapan udara juga akan meningkat," ujar Kapten pemadam kebakaran Olivier Guist kepada radio RTBF, menggambarkan bagaimana perubahan cuaca ini menjadi sekutu baru bagi para petugas di lapangan.
Kebakaran di Belgia hanyalah satu dari rangkaian bencana serupa yang melanda Eropa musim panas ini. Data dari Sistem Informasi Kebakaran Hutan Eropa (EFFIS) mencatat total area yang terbakar telah mencapai 576.000 hektare, dua kali lipat luas Luksemburg. Gelombang panas ekstrem yang dipicu perubahan iklim telah mengeringkan vegetasi, menjadikannya bahan bakar siap terbakar. Akhir pekan lalu, seorang pasangan lanjut usia tewas dalam kebakaran di pulau Salamina, Yunani, sementara 500 warga dievakuasi menggunakan feri setelah angin kencang mendorong api mendekati permukiman. Di Spanyol, kebakaran di Aragon menghanguskan 16.600 hektare, dan di Kroasia, 1.000 orang terpaksa mengungsi dari kota wisata Omis.
Skala kebakaran Belgia kali ini memang belum pernah terjadi sebelumnya. Area seluas 3.000 hektare di cagar alam yang terdiri dari lahan gambut, semak, dan hutan telah hangus, jauh melampaui rekor kebakaran terbesar sebelumnya pada 2011 yang hanya menghabiskan sekitar 1.400 hektare. Untuk memadamkan api, sekitar 500 petugas pemadam dari seluruh Belgia, dibantu rekan-rekan dari Jerman dan Luksemburg, serta para petani dan personel militer, dikerahkan. Uni Eropa pun turun tangan dengan mengirim tiga helikopter dan dua pesawat pembom air sejak Sabtu, setelah Belgia meminta bantuan darurat.
Meski hujan membawa kelegaan, risiko kebakaran ekstrem masih membayangi sebagian besar Eropa barat, selatan, dan tengah, menurut data EFFIS. Pola ini semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir, diperparah oleh kombinasi cuaca yang lebih panas dan kering akibat perubahan iklim, serta pengabaian lahan pedesaan yang membuat vegetasi kering menumpuk. Yang lebih memprihatinkan, sekitar 90 persen kebakaran hutan dipicu oleh ulah manusia, seperti api unggun atau puntung rokok yang dibuang sembarangan. Eropa sendiri baru saja melewati musim kebakaran terburuknya tahun lalu, dengan lebih dari satu juta hektare lahan terbakar, dan tahun ini beberapa negara seperti Prancis telah memecahkan rekor tahunan mereka, padahal musim kebakaran tradisional JuniโSeptember belum berakhir.
Ketegangan sosial pun muncul di tengah bencana. Di desa Le Porge, barat daya Prancis, puluhan warga mencemooh Perdana Menteri Sebastien Lecornu saat ia mengunjungi area yang ratusan rumahnya hancur akibat kebakaran besar bulan lalu. Warga mengkritik respons pemerintah dan menuduh otoritas lebih mengutamakan penyelamatan kawasan yang lebih kaya. Sementara itu, di Belgia, pejabat setempat menyatakan api tidak lagi menjalar ke arah Jerman dan sebagian sudah terkendali, namun warga yang dievakuasi belum diizinkan kembali ke rumah mereka.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan, yang kerap melanda negeri ini pada musim kemarau. Meskipun konteks geografis dan iklim berbeda, akar masalahnya serupa: perubahan iklim, pengelolaan lahan yang kurang baik, dan faktor manusia. Pertanyaannya, apakah negara-negara, termasuk Indonesia, akan belajar dari pengalaman Eropa untuk memperkuat sistem deteksi dini dan respons cepat, atau justru terus terjebak dalam siklus bencana yang sama?



