Kebakaran Trans Home Sleman: Dua Karyawan Tewas, Ratusan Motor Ludes
Baca dalam 60 detik
- Dua pekerja perempuan ditemukan tak bernyawa di dekat tangga lantai tiga Trans Home Berbah, Sleman, setelah kebakaran hebat melanda bangunan komersial tersebut.
- Api yang diduga berasal dari sisi belakang gedung menghanguskan sekitar seratus kendaraan di area parkir dan memaksa pengerahan puluhan armada pemadam dari berbagai daerah.
- Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan pemicu insiden, sementara tim gabungan menyisir gudang basement yang menyimpan bahan kimia guna mencegah ledakan susulan.

Dua orang karyawan perempuan tewas dalam kebakaran besar yang melanda Trans Home, pusat perbelanjaan bahan bangunan dan elektronik di Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis (1/10). Korban ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di sekitar tangga lantai tiga setelah petugas pemadam berhasil menembus bangunan yang terbakar sejak siang.
Koordinator Unit Siaga Basarnas Sleman, Dhedi Prasetya, mengungkapkan bahwa kedua korban berada dalam posisi berdekatan saat dievakuasi. "Keduanya kami temukan sudah henti napas, henti nadi," ujarnya. Jasad korban langsung dibawa ke RS Bhayangkara Polda DIY untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Kapolsek Berbah, AKP Fitrianto Heri Nugroho, memastikan kedua korban merupakan pekerja di tempat tersebut. Menurutnya, hingga pukul 17.37 WIB, operasi pemadaman dan pendinginan masih berlangsung. Petugas juga menyisir gudang di basement yang menyimpan material cair berbahan dasar kimia, guna mengantisipasi potensi ledakan atau reaksi berbahaya.
"Kedua korban berdekatan berada di sekitar dekat tangga," kata Dhedi, Kamis.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab kebakaran belum dapat dipastikan. Namun, dugaan awal mengarah pada titik api di sisi belakang bangunan. Polisi belum bisa memperkirakan total kerugian materiil, tetapi menyebut sekitar seratus unit kendaraan bermotor di area parkir hangus terbakar.
Insiden ini menyoroti aspek keselamatan bangunan komersial bertingkat, terutama yang menyimpan bahan kimia dan material mudah terbakar. Keberadaan gudang basement dengan zat kimia menambah kompleksitas penanganan, karena petugas harus bekerja ekstra hati-hati untuk menghindari kontaminasi atau ledakan susulan. Selain itu, jumlah kendaraan yang terbakar mengindikasikan api menyebar cepat, kemungkinan karena material bangunan atau ventilasi yang memicu jalur api.
Dari sisi respons darurat, kebakaran ini menunjukkan koordinasi lintas wilayah yang cukup masif. Selain BPBD Sleman, kepolisian, dan Dinas Sosial, bantuan datang dari Bantul, Kulon Progo, Klaten, bahkan Magelang. Namun, waktu tempuh dan ketersediaan air di lokasi menjadi tantangan tersendiri, terlebih saat api masih berkobar di lantai atas dan basement.
Bagi warga sekitar dan pelaku usaha di kawasan Berbah, peristiwa ini menjadi pukulan ganda: kehilangan nyawa dan kerugian ekonomi akibat ratusan kendaraan yang ludes. Trans Home sendiri merupakan salah satu pusat perbelanjaan material bangunan yang cukup ramai di jalur YogyakartaโKlaten, sehingga gangguan operasional berpotensi berdampak pada rantai pasok lokal dalam jangka pendek.
Ke depan, publik menanti hasil investigasi resmi mengenai penyebab kebakaran, termasuk audit kepatuhan terhadap standar keselamatan kebakaran. Jika ditemukan kelalaian, bukan tidak mungkin akan ada sanksi hukum atau rekomendasi perbaikan sistem proteksi kebakaran di bangunan sejenis. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan mendorong pengetatan pengawasan bangunan komersial di DIY, atau kembali tenggelam setelah api padam?



