Warga Nepal Tewas di Sungai Fukuoka: Polisi Jepang Bongkar Jejak Darah di Rumah Korban
Baca dalam 60 detik
- Polisi Fukuoka menetapkan kasus kematian Rajbanshi Laxmi sebagai pembunuhan setelah otopsi menemukan luka benda tumpul di kepala dan wajah.
- Jejak darah di kediaman korban mengindikasikan perjuangan fisik sebelum jenazahnya ditemukan mengambang di Sungai Naka.
- Kasus ini menyoroti kerentanan pelajar asing di Jepang, termasuk WNI, yang kerap bekerja paruh waktu tanpa perlindungan memadai.

Fukuoka, Jepang โ Geger penemuan jenazah perempuan muda di Sungai Naka, kawasan Tenjin, Fukuoka, pada 19 Agustus lalu, kini memasuki babak baru. Polisi Prefektur Fukuoka resmi menetapkan kasus ini sebagai pembunuhan setelah otopsi mengungkap luka-luka serius di kepala dan wajah korban, yang diduga akibat hantaman benda tumpul. Korban adalah Rajbanshi Laxmi, 25 tahun, warga negara Nepal yang tengah menempuh pendidikan di sekolah vokasi setempat.
Peristiwa bermula saat seorang pejalan kaki melaporkan melihat sesosok tubuh mengambang di sungai sekitar pukul 05.45 waktu setempat. Petugas kepolisian dan pemadam kebakaran yang tiba di lokasi segera mengevakuasi korban, namun nyawanya tak tertolong. Saat ditemukan, korban mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Polisi awalnya menduga kecelakaan, tetapi temuan luka di dahi korban mengubah arah penyelidikan.
Otopsi yang diumumkan pada 20 Agustus menunjukkan adanya beberapa luka akibat benda tumpul di kepala dan wajah, serta luka sayat di tubuh dan tangan. Tim investigasi khusus pun dibentuk di Kantor Polisi Chuo untuk mengusut tuntas kasus ini. Hingga kini, penyebab pasti kematian korban masih belum diumumkan, namun polisi meyakini ada unsur kekerasan yang kuat.
Kronologi yang terungkap menunjukkan korban terakhir terlihat meninggalkan tempat kerja paruh waktunya pada pukul 22.30 malam 18 Agustus. Seorang kenalan perempuan melaporkan korban tidak pulang ke rumah pada pukul 03.15 dini hari keesokannya. Yang lebih mencemaskan, polisi menemukan bercak darah di kediaman korban, memunculkan dugaan kuat bahwa korban sempat terlibat perkelahian atau perlawanan sebelum akhirnya ditemukan tewas di sungai.
Rajbanshi tiba di Jepang pada Mei 2023 dengan visa pelajar. Ia bekerja paruh waktu sambil menempuh pendidikan. Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut keselamatan pelajar asing di Jepang, yang kerap tinggal sendirian dan bekerja di sektor informal. Bagi pekerja migran Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan dan dukungan komunitas.
Menurut data Kementerian Kehakiman Jepang, jumlah pelajar asing di Jepang mencapai lebih dari 280 ribu orang, dengan sebagian besar berasal dari Asia Tenggara dan Asia Selatan. Mereka sering menghadapi tantangan bahasa, isolasi sosial, dan jam kerja panjang yang meningkatkan risiko menjadi korban kejahatan. Kasus Rajbanshi menunjukkan celah dalam sistem perlindungan bagi warga asing, terutama yang bekerja paruh waktu di luar jam sekolah.
Polisi Fukuoka kini tengah memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi dan rumah korban, serta meminta keterangan dari rekan kerja dan tetangga. Mereka juga menyelidiki apakah ada motif pribadi atau kriminalitas jalanan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tersangka yang ditahan. Pihak kedutaan Nepal di Tokyo telah dihubungi untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban.
Kasus ini juga memicu diskusi tentang keamanan di kawasan Tenjin, pusat bisnis dan hiburan yang ramai. Pemerintah kota Fukuoka diharapkan meningkatkan patroli dan penerangan di area sungai, yang sering menjadi jalur pejalan kaki pada malam hari. Sementara itu, komunitas Nepal di Jepang menggelar aksi solidaritas dan mendesak polisi untuk mengusut tuntas kasus ini.
Pertanyaan yang menggantung: apakah ini kasus pembunuhan acak atau terencana? Dan bagaimana nasib pelajar asing lain yang rentan? Kasus Rajbanshi menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap kota besar, ada nyawa yang harus dilindungi. Polisi diharapkan segera menangkap pelaku agar keadilan bisa ditegakkan.



