Guardian Buka Sayembara 'Young Country Diary' untuk Anak 8-14 Tahun, Hadiah Uang Tunai
Baca dalam 60 detik
- The Guardian kembali membuka kompetisi menulis alam liar untuk anak usia 8-14 tahun, dengan batas waktu pengumpulan 2 November 2021 pukul 12.00 siang.
- Empat karya terbaik akan dimuat di surat kabar dan situs web, dan setiap anak yang tulisannya terbit akan menerima pembayaran.
- Penyelenggara menekankan orisinalitas tulisan anak, melarang penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT atau Claude untuk menulis, meskipun boleh untuk riset.

Anak-anak di Inggris berusia 8 hingga 14 tahun kembali mendapat kesempatan menembus halaman media internasional melalui sayembara menulis bertema alam, Young Country Diary, yang digelar The Guardian. Ajang ini menantang peserta untuk mendokumentasikan perjumpaan mereka dengan alam sekitar dalam tulisan pendek 200-250 kata, dengan tenggat pengumpulan pada Senin, 2 November, pukul 12.00 siang waktu setempat.
Berbeda dari lomba menulis pada umumnya, kompetisi ini tidak mensyaratkan peserta sebagai pakar lingkungan. Justru, penyelenggara menyasar anak-anak yang baru mulai mengamati alam, termasuk melalui jalur sekolah. Guru didorong untuk mengajak murid keluar kelas dan merekam apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Bagi yang karyanya terpilih, hadiah uang tunai menanti—sebuah insentif yang jarang diberikan pada kompetisi anak.
Mekanisme seleksi berlangsung ketat. Dari seluruh kiriman, hanya empat tulisan yang akan dimuat di edisi cetak dan daring, dua di antaranya pada Oktober dan dua lainnya pada November. Mereka yang mengirim sebelum tanggal 15 berpeluang lebih besar tampil lebih awal. Bagi yang belum beruntung, pintu pendaftaran akan dibuka lagi pada 1 Januari untuk periode musim dingin, setelah jeda Desember.
Dalam panduan yang dirilis, tim redaksi menyarankan agar anak-anak menajamkan indra saat berada di alam—mencatat apa yang terlihat, terdengar, tercium, dan tersentuh. Mereka juga diajak menggali informasi tambahan, misalnya nama spesies kupu-kupu atau kumbang yang ditemui, untuk memperkaya cerita. Pendekatan ini sejalan dengan praktik jurnalisme lingkungan yang menekankan observasi langsung dan detail sensorik.
"Kami ingin mendengar apa yang ingin anak Anda katakan, dan bagaimana mereka ingin mengatakannya. Karena itu, setiap kalimat harus ditulis oleh anak, bukan oleh model bahasa besar seperti ChatGPT atau Claude," ujar Paul, editor Young Country Diary dan Country Diary, seperti dikutip dari pengumuman resmi.
Larangan penggunaan kecerdasan buatan untuk menulis menjadi catatan penting di tengah maraknya konten hasil AI. Meski demikian, penyelenggara tidak melarang pemanfaatan AI untuk riset, perencanaan, atau pemeriksaan ejaan, dengan catatan hasilnya harus diverifikasi ulang. Kebijakan ini mencerminkan upaya menjaga integritas suara anak sekaligus merespons perkembangan teknologi yang kian merasuk ke ruang kreatif.
Bagi orang tua atau wali yang ingin mendaftarkan anaknya, prosesnya dilakukan melalui formulir daring yang terenkripsi. Pihak Guardian menegaskan bahwa data pribadi hanya diakses oleh redaksi dan akan digunakan untuk keperluan verifikasi sebelum publikasi. Foto atau gambar pendukung boleh disertakan, tetapi tidak menjadi syarat wajib. Semua kiriman akan melalui kurasi jurnalistik sebelum diputuskan layak terbit.
Di Indonesia, gagasan serupa sebenarnya memiliki relevansi kuat. Kekayaan biodiversitas Nusantara—dari hutan hujan Kalimantan hingga terumbu karang Raja Ampat—menyediakan bahan tak terbatas bagi literasi alam anak. Namun, ruang publikasi untuk tulisan lingkungan anak masih terbatas. Inisiatif seperti Young Country Diary dapat menjadi cermin bagi media dan lembaga pendidikan di dalam negeri untuk membangun program serupa, sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang akan menang, melainkan bagaimana pengalaman menulis ini membentuk cara anak memandang alam. Apakah ajang semacam ini cukup untuk menumbuhkan generasi yang peduli lingkungan, atau perlu didukung kebijakan pendidikan yang lebih sistemik? Yang jelas, tenggat 2 November menjadi momen bagi anak-anak Inggris untuk mengangkat suara mereka tentang alam—dan mungkin menginspirasi anak-anak di belahan dunia lain untuk melakukan hal yang sama.



