Ronaldo Tinggalkan Skuad Portugal, Jorge Jesus Tegaskan Siapa yang Berkuasa
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo meninggalkan hotel tim Portugal setelah tidak dimainkan saat melawan Norwegia, memicu perpecahan opini publik.
- Pelatih Jorge Jesus menegaskan tidak ada pemain yang bisa mengubah keputusan taktisnya, termasuk Ronaldo.
- Ronaldo terancam sanksi larangan bermain 1-6 bulan dari federasi, sementara masa depannya di timnas dipertanyakan.

Keputusan pelatih kepala Portugal, Jorge Jesus, untuk tidak menurunkan Cristiano Ronaldo saat melawan Norwegia berujung pada krisis yang mengguncang tim nasional. Ronaldo meninggalkan hotel tim secara mendadak, naik pesawat, dan bersumpah akan mengungkap kebenaran. Insiden ini tidak hanya memicu perdebatan sengit di Portugal, tetapi juga menempatkan karier internasionalnya yang gemilang di ujung tanduk.
Menurut Jesus, ia dan Ronaldo memiliki kesepakatan lisan bahwa pemain berusia 41 tahun itu tidak akan menjadi starter melawan Norwegia, tiga hari setelah bermain 67 menit melawan Wales, tetapi akan dimasukkan sebagai pemain pengganti. Namun, dalam pertandingan yang dimenangkan Portugal 2-1, rencana berubah. Jesus memutuskan untuk tidak memainkannya sama sekali dengan alasan taktis. Ronaldo dilaporkan menganggapnya sebagai penghinaan.
Ketegangan memuncak pada konferensi pers Jesus hari Rabu. Dengan tegas, pelatih berusia 72 tahun itu menyatakan bahwa tidak ada pemain—termasuk Ronaldo—yang bisa mengubah ide-idenya sebagai pelatih. "Saya bisa berjanji apa pun," ujarnya. "Saya pelatih dan saya katakan kepadanya bahwa dia tidak akan bermain. Saya bilang akan membawanya ke bangku cadangan dan jika saya membutuhkannya selama 30 menit, dia akan bermain. Tapi saya melihat pertandingan secara berbeda, jadi dia tidak masuk. Bukan Cristiano, atau pemain lain, yang akan mengubah ide saya sebagai pelatih. Tidak pernah. Bukan dia atau siapa pun. Bahkan seorang presiden. Tidak. Nol."
Pernyataan itu menjadi pesan jelas tidak hanya kepada Ronaldo, tetapi juga kepada Federasi Sepak Bola Portugal (FPF): pelatih adalah pemegang kendali. Jesus juga menyatakan niatnya untuk memulai Gonçalo Ramos alih-alih Ronaldo pada pertandingan berikutnya melawan Denmark.
Reaksi publik Portugal pun terbelah. Penggemar berat Ronaldo membelanya di media sosial, sementara banyak pihak menilai ia telah berkhianat pada tim nasional. Surat kabar terkemuka O Jogo menampilkan pesan tersebut di halaman depan. Sebagian besar media dan komentator menyayangkan sikap egois Ronaldo. Namun, beberapa media yang dimiliki atau terafiliasi dengan Ronaldo justru menyalahkan Jesus, menuduhnya tidak tahu terima kasih dan mengingkari janji.
Krisis ini bukan yang pertama. Polemik serupa pernah terjadi pada Piala Dunia musim panas lalu, ketika Roberto Martínez tetap memainkan Ronaldo selama 90 menit penuh di hampir semua pertandingan, meski tanpa alasan taktis atau fisik yang jelas. Bahkan saat Ronaldo ditarik keluar melawan Kroasia, itu terjadi baru pada menit ke-81. Perdebatan tentang tempat otomatis Ronaldo di starting XI seakan tak pernah usai.
Sejumlah pengamat menilai komunikasi Ronaldo memburuk sejak ia berpisah dengan agen Jorge Mendes hampir empat tahun lalu, setelah wawancara dengan Piers Morgan yang memicu kepergiannya dari Manchester United. Hubungan pribadi mereka dikabarkan tetap baik, tetapi Ronaldo kini dikelola oleh tim yang ia bentuk sendiri. Ada kekhawatiran ia dikelilingi terlalu banyak penjilat, tanpa cukup orang yang berani mengingatkannya saat citranya mulai ternoda.
Di tengah absennya penjelasan resmi dari kedua belah pihak, rumor menyebar liar. Beberapa media mengklaim Ronaldo tidak akan pernah kembali ke tim nasional. Setelah 23 tahun, 234 penampilan, dan 146 gol, apakah ini cara Ronaldo mengucapkan selamat tinggal kepada negaranya? Publik Portugal menunggu jawaban, sementara federasi mempertimbangkan sanksi. Yang jelas, era kejayaan Ronaldo di panggung internasional kini berada di persimpangan paling kritis.



