Ambulans Pengantar Jenazah Korban KM Virgo Kecelakaan Beruntun di Jombang, Peti Dialihkan di Tengah Jalan
Baca dalam 60 detik
- Rombongan pengantar jenazah korban KM Virgo Transport 8 terlibat tabrakan beruntun di Jalan KH Wahab Chasbulloh, Jombang, Kamis (1/10) pagi.
- Insiden dipicu manuver mendadak seorang pengendara motor yang memaksa relawan pengawal mengerem, memicu benturan berantai yang merusak ambulans dan sejumlah mobil dinas.
- Polisi belum menyimpulkan kronologi final; peti jenazah terpaksa dipindahkan ke ambulans BPBD di lokasi kejadian agar prosesi pemakaman tetap berjalan.

Iring-iringan pengantar jenazah korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan beruntun di Jalan KH Wahab Chasbulloh, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Jombang, Kamis (1/10) sekitar pukul 09.00 WIB. Lima mobil dan dua sepeda motor terlibat dalam insiden yang terjadi saat rombongan membawa peti dari Bandara Juanda, Surabaya, menuju rumah duka di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek.
Rombongan terdiri dari mobil Dinas Sosial Jombang, ambulans Toyota Avanza bernopol L 1765 KG, Mitsubishi Pajero Sport L 1062 BAR, Toyota Kijang Innova L 1948 DAG, serta satu unit lain. Pengawalan dilakukan relawan bermotor yang bergerak dari Exit Tol Tembelang. Di jalur padat itu, seorang pengendara motor di depan iring-iringan mendadak berbelok ke kanan. Relawan terdepan terkejut dan mengerem mendadak. Jarak antarkendaraan yang rapat membuat kendaraan di belakangnya tak sempat menghindar, memicu tabrakan beruntun.
"Ada mbak-mbak mau nyeberang. Di belakangnya ada relawan dan mobil Dinsos. Relawannya tidak bisa banting setir, terus kendaraan yang di belakangnya menabrak dari belakang," ujar Fajar (32), sopir ambulans.
Fajar menjelaskan ambulansnya berada di tengah iring-iringan, tepat di belakang mobil Dinas Sosial dan di depan mobil keluarga jenazah. Ambulans itu mengangkut jenazah Gondham Prakoso, salah satu korban tragedi KM Virgo Transport 8. Benturan keras merusak mesin ambulans hingga sempat memunculkan api dari radiator. Peti jenazah kemudian dipindahkan ke ambulans milik BPBD Jombang agar perjalanan ke rumah duka bisa dilanjutkan.
Peristiwa ini memperlihatkan risiko operasional pengawalan jenazah di jalur padat. Iring-iringan darurat kerap mengandalkan relawan bermotor yang tidak selalu terlatih menghadapi manuver mendadak pengguna jalan lain. Ketika jarak antarkendaraan terlalu dekat, satu pengereman keras bisa memicu efek domino yang mengancam keselamatan rombongan maupun pengguna jalan sekitar.
Pasca kejadian, Unit Gakkum Satlantas Polres Jombang diterjunkan untuk evakuasi, mengurai kemacetan, dan olah tempat kejadian perkara. Polisi masih mengumpulkan keterangan saksi untuk memastikan kronologi detail. "Laporan belum lengkap, anggota masih di TKP pendalaman," kata Kanit Gakkum Satlantas Polres Jombang Ipda M Nurul Iman.
Insiden ini juga menyoroti pentingnya protokol keselamatan dalam prosesi pengantaran jenazah, terutama saat melintasi jalur ramai. Pengaturan jarak aman, koordinasi dengan petugas lalu lintas, dan pelatihan bagi relawan pengawal menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Tanpa itu, risiko serupa bisa terulang di kemudian hari, terutama di wilayah dengan mobilitas tinggi seperti Jombang dan sekitarnya.
Ke depan, publik menanti hasil investigasi polisi untuk mengetahui apakah ada kelalaian dalam pengawalan atau faktor lain yang memperparah benturan. Yang jelas, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan di jalan tidak bisa dikompromikan, bahkan dalam misi kemanusiaan sekalipun.



