Florence Pugh Ungkap Peran Cathy Ames di 'East of Eden' Jadi Titik Balik Kariernya
Baca dalam 60 detik
- Florence Pugh membintangi serial terbatas 'East of Eden' sebagai Cathy Ames, karakter yang dinilainya menantang dan memperluas kapasitas aktingnya.
- Aktris 30 tahun itu menyebut kolaborasi dengan penulis sekaligus produser eksekutif Zoe Kazan sebagai katalis pertumbuhan kreatifnya selama enam tahun terakhir.
- Adaptasi novel John Steinbeck ini menjadi penanda kedewasaan Pugh sebagai performer sekaligus kreator di balik layar, dengan proses penggarapan yang disebutnya intens dan penuh keraguan.

Florence Pugh mengaku menemukan pengalaman akting yang mengubah cara pandangnya terhadap karier lewat serial terbatas East of Eden. Dalam wawancara dengan Tudum, aktris 30 tahun itu menyatakan bahwa peran Cathy Ames—tokoh sentral dalam adaptasi novel John Steinbeck—bukan sekadar pekerjaan biasa, melainkan ruang untuk memperbesar kapasitas dirinya sebagai pemain.
Pugh menerima tawaran proyek ini pada 2020, masa ketika ia mulai selektif memilih peran yang menuntut pendewasaan, bukan sekadar eksposur. Kesempatan itu datang melalui surel dari Zoe Kazan, yang menulis sekaligus menjabat produser eksekutif serial tersebut. Kazan mengajak Pugh tidak hanya untuk berakting, tetapi juga terlibat dalam proses kreatif sejak awal.
"Itu semacam undangan untuk menjadi lebih besar dan lebih baik, dilibatkan dalam percakapan menciptakan sesuatu dari nol," ujar Pugh, seraya menyebut pengalaman tersebut sebagai suntikan kepercayaan diri yang signifikan. Ia menilai kombinasi antara memerankan karakter kompleks dan tampil sebagai kreator di balik layar menjadi alasan utama ia menerima proyek ini.
Bagi Pugh, daya tarik Cathy Ames terletak pada kompleksitas psikologisnya. Ia menggambarkan proses mengurai lapisan karakter tersebut—alasan di balik keputusan dan transformasinya—sebagai pekerjaan yang menggairahkan sekaligus melelahkan. "Anda mulai mengupas lapisan Cathy, siapa dirinya, mengapa ia menjadi seperti itu, mengapa ia mengambil keputusan tersebut. Semuanya sangat, sangat menarik dan tentu saja menakutkan," tuturnya.
"Saya, seperti halnya Cathy, telah tumbuh sangat pesat, dan itu memberi kedalaman serta kerendahan hati yang luar biasa pada peran ini karena saya menua bersamanya." — Florence Pugh
Pernyataan itu merujuk pada rentang waktu enam tahun sejak diskusi awal hingga proses syuting. Pugh mengaku heran ketika mengingat kembali sosok dirinya yang dulu menyetujui proyek ini, lalu menjalani persiapan, hingga akhirnya berada di lokasi syuting. Perjalanan panjang itu, menurutnya, memperkaya interpretasinya terhadap Cathy karena ia dan karakter tersebut melewati fase pertumbuhan yang sejajar.
Dari perspektif industri, keterlibatan Pugh dalam East of Eden memperkuat pola karier aktris yang kerap memilih proyek berbasis sastra dan karakter gelap. Setelah nama besarnya melambung lewat Little Women, Midsommar, dan Oppenheimer, langkah ini menegaskan posisinya sebagai pemain yang tidak sekadar mengejar blockbuster, tetapi juga mencari tantangan artistik. Adaptasi Steinbeck sendiri dikenal menyimpan tema berat tentang moralitas, ambisi, dan kehancuran keluarga—bahan yang menuntut kedalaman akting.
Kolaborasi dengan Kazan menjadi faktor lain yang membuat proyek ini istimewa. Kazan bukan nama baru di dunia adaptasi sastra; ia sebelumnya menulis naskah untuk film The Kindness of Strangers dan memiliki latar belakang teater yang kuat. Bagi Pugh, bekerja dengan penulis yang juga produser eksekutif memberi ruang dialog kreatif yang jarang ditemui di produksi besar. Ia menyebut pengalaman itu sebagai bentuk dukungan terhadap identitasnya sebagai performer sekaligus kreator.
Meski demikian, Pugh tidak menampik adanya tekanan. Menggarap karakter yang sudah melekat dalam kanon sastra Amerika menuntut tanggung jawab ekstra. Namun, ia memilih melihatnya sebagai peluang untuk menunjukkan pertumbuhan, bukan beban. "Itu semua elemen—memerankan karakter fantastis dan juga menunjukkan diri saya sebagai performer serta kreator di balik layar. Itulah mengapa saya ingin melakukannya," ujarnya.
Ke depan, publik menanti bagaimana interpretasi Pugh atas Cathy Ames akan diterima, terutama oleh pembaca setia Steinbeck yang memiliki bayangan sendiri tentang tokoh tersebut. Apakah pendekatan personal dan pengalaman enam tahun itu cukup meyakinkan, atau justru memicu perdebatan baru tentang adaptasi sastra di layar kaca? Yang jelas, bagi Pugh, proyek ini bukan sekadar tontonan, melainkan cermin perjalanan kedewasaannya sebagai aktris.



