Parade Kontroversial di Irlandia Utara Ditunda, DUP: Kami Bisa Menunggu Berbulan-bulan
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin DUP Gavin Robinson menegaskan peserta parade Orde Oranye siap menunggu berjam-jam hingga berbulan-bulan untuk melewati Garvaghy Road.
- Robinson menuduh Menteri Utama Michelle O'Neill memberikan 'salam dua jari' terhadap supremasi hukum, memicu ketegangan politik di Stormont.
- Penundaan parade memunculkan pertanyaan tentang stabilitas pemerintahan bagi-bagi kekuasaan dan potensi gesekan antar komunitas di Irlandia Utara.

Parade kontroversial Orde Oranye di Drumcree, Irlandia Utara, kembali menjadi sorotan setelah pemimpin Partai Unionis Demokrat (DUP) Gavin Robinson menyatakan bahwa peserta parade siap menunggu selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan untuk dapat melewati Garvaghy Road. Pernyataan itu disampaikan Robinson dalam konferensi pers di Belfast pada Minggu (27/9), setelah ratusan anggota Orde Oranye berkumpul di Gereja Drumcree sejak pukul 08.00 pagi waktu setempat.
Robinson menegaskan bahwa penundaan bukanlah tanda kelemahan. "Jika perlu 28 jam lagi, jika perlu 28 hari lagi, mereka akan menunjukkan keteguhan, kesabaran, dan kesediaan menjunjung hukum yang telah terbukti selama 28 tahun terakhir," ujarnya, seperti dikutip media Inggris. Ia menekankan bahwa sikap tersebut merupakan cerminan dari komitmen komunitas unionis terhadap proses hukum, meskipun parade tersebut hingga kini belum diizinkan melintas.
Dalam pernyataannya, Robinson juga melontarkan kritik tajam kepada Menteri Utama Irlandia Utara, Michelle O'Neill. Ia menuduh O'Neill memberikan "salam dua jari" terhadap aturan hukum. "Orang-orang di rumah tahu betapa sulitnya situasi ini. Mereka memiliki seseorang yang menyebut dirinya Menteri Utama untuk semua, tetapi justru melanggar hukum dan siap memberikan sikap meremehkan terhadap supremasi hukum dan ketertiban di negeri ini," kata Robinson. Tudingan ini menambah panas suhu politik di Stormont, pusat pemerintahan bagi-bagi kekuasaan Irlandia Utara.
Parade Drumcree merupakan salah satu isu paling sensitif dalam sejarah konflik Irlandia Utara. Setiap tahun, Orde Oranye—kelompok persaudaraan Protestan—berusaha melewati Garvaghy Road, kawasan yang mayoritas dihuni warga Katolik. Otoritas setempat kerap melarang atau mengalihkan rute parade untuk mencegah bentrokan. Penundaan tahun ini terjadi di tengah protes besar dari komunitas nasionalis yang menolak kehadiran parade tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari kantor O'Neill mengenai tuduhan Robinson.
"Jika perlu 28 jam lagi, jika perlu 28 hari lagi, mereka akan menunjukkan keteguhan, kesabaran, dan kesediaan menjunjung hukum yang telah terbukti selama 28 tahun terakhir." — Gavin Robinson, Pemimpin DUP
Bagi Indonesia, dinamika di Irlandia Utara ini menawarkan pelajaran tentang bagaimana negara dengan masyarakat majemuk mengelola ketegangan identitas dan supremasi hukum. Sebagai negara dengan beragam suku, agama, dan kelompok kepentingan, Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam menjaga stabilitas sosial. Kasus Drumcree menunjukkan bahwa penegakan hukum yang konsisten dan dialog antar komunitas menjadi kunci mencegah eskalasi konflik. Selain itu, ketegangan di Irlandia Utara dapat memengaruhi stabilitas politik di kawasan Eropa, yang berdampak pada hubungan dagang dan investasi global, termasuk dengan Indonesia.
Pemerintahan bagi-bagi kekuasaan di Irlandia Utara, yang dibentuk berdasarkan Perjanjian Jumat Agung 1998, mensyaratkan kerja sama antara partai unionis dan nasionalis. Konflik terbuka antara DUP dan Sinn Féin—partai O'Neill—berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan. Jika ketegangan berlanjut, bukan tidak mungkin akan memicu krisis politik baru yang dapat menghambat pengambilan keputusan penting, termasuk anggaran dan kebijakan publik. Pengamat menilai bahwa penundaan parade kali ini adalah ujian bagi kepemimpinan O'Neill dalam menyeimbangkan tuntutan hukum, keamanan, dan sensitivitas komunitas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah penundaan ini akan berujung pada kompromi atau justru memperbesar jurang pemisah. Akankah Orde Oranye tetap bertahan hingga otoritas mengizinkan parade, atau akan ada mediasi yang menghasilkan solusi damai? Yang jelas, peristiwa di Drumcree kembali mengingatkan bahwa luka lama konflik Irlandia Utara belum sepenuhnya sembuh, dan supremasi hukum tetap menjadi medan pertarungan politik yang panas.



