PSS Sleman Genjot Fisik di Jeda Kompetisi: Modal Bangkit atau Sekadar Bertahan?
Baca dalam 60 detik
- PSS Sleman memanfaatkan jeda tiga pekan untuk menggelar latihan intensitas tinggi dengan fokus daya tahan dan kebugaran pemain.
- Tanpa poin dari tiga laga awal, Super Elang Jawa terpuruk di peringkat 15 dan butuh percepatan fisik sebelum melawan PSM Makassar.
- Pelatih Pieter Huistra menilai kemajuan signifikan, tetapi efektivitas program baru teruji saat kompetisi bergulir kembali 11 Oktober.

PSS Sleman mengubah jeda kompetisi selama tiga pekan menjadi ajang pembenahan fisik menyeluruh. Super Elang Jawa menjalani latihan intensitas tinggi sejak 23 September 2026, dengan fokus utama meningkatkan daya tahan pemain sebelum kembali berlaga di BRI Super League 2026/2027.
Keputusan itu diambil setelah PSS menorehkan start buruk: tiga kekalahan beruntun dari Bali United (1-2), Madura United (1-3), dan Dewa United (1-2). Hasil tersebut menempatkan mereka di posisi ke-15 klasemen sementara, tanpa satu pun poin. Jeda kompetisi pun dimanfaatkan pelatih Pieter Huistra untuk membenahi aspek yang paling mendesak—kondisi fisik.
Huistra tidak menampik bahwa pekan latihan kali ini terasa berat. "Kami berlatih sangat keras. Kebugaran menjadi prioritas sekarang agar tim bisa tampil lebih baik," ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi klub. Latihan puncak digelar pada 26 September 2026 melalui simulasi pertandingan penuh 11 lawan 11, dengan target menambah menit bermain sekaligus mengasah daya tahan setiap pemain.
Menurut Huistra, kemajuan terlihat dari sisi kebugaran. "Mereka harus banyak berlari, dan itu yang terpenting. Kami harus terus menjadi lebih bugar, lebih bugar, dan lebih bugar lagi," tegasnya. Ia juga mengapresiasi kerja keras pemain meski masih ada sejumlah aspek yang perlu diperbaiki. "Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan latihan minggu ini," tambahnya.
"Kami sebagian besar bermain 11 lawan 11 dengan target daya tahan sebanyak mungkin menit bermain untuk setiap pemain." — Pieter Huistra
Bagi PSS, jeda ini bukan sekadar mengembalikan kebugaran, melainkan juga momentum evaluasi menyeluruh. Tiga kekalahan awal menunjukkan masalah tak hanya di fisik, tetapi juga organisasi permainan dan ketajaman lini depan. Huistra dan staf pelatih dituntut menemukan formula yang tepat agar tim tidak semakin terbenam di papan bawah.
Di sisi lain, kompetisi BRI Super League musim ini menuntut intensitas tinggi. Tim-tim papan atas seperti Bali United dan Madura United sudah menunjukkan kualitasnya, sementara PSS harus berjuang keluar dari tekanan. Kebugaran menjadi fondasi untuk menerapkan taktik menekan dan bertahan secara disiplin—dua hal yang absen dalam tiga laga pembuka.
Laga melawan PSM Makassar pada 11 Oktober mendatang di Stadion Maguwoharjo akan menjadi ujian sesungguhnya. PSM dikenal sebagai tim dengan transisi cepat dan lini tengah agresif. Jika program kebugaran berjalan sesuai rencana, PSS setidaknya punya modal untuk bersaing selama 90 menit. Namun, tanpa perbaikan dalam penyelesaian akhir dan konsistensi pertahanan, tambahan tiga poin tetap sulit diraih.
Pertanyaannya, apakah peningkatan fisik semata cukup untuk mengangkat performa PSS? Ataukah diperlukan perubahan strategi yang lebih mendasar? Publik Sleman menanti jawabannya di lapangan.



