ASN Kemenekraf Tewas Usai Heatstroke di Latsarmil Komcad: Panggilan Keras Evaluasi Standar Latihan
Baca dalam 60 detik
- Vanreko Varkas Bagaskara, ASN Kementerian Ekonomi Kreatif, meninggal dunia setelah mengalami heatstroke saat mengikuti Latsarmil Komcad Gelombang 2 di Lanud Halim Perdanakusuma.
- Insiden ini mencuatkan pertanyaan tentang protokol kesehatan dan manajemen risiko dalam latihan militer bagi pegawai sipil, terutama di tengah cuaca ekstrem.
- Pemerintah perlu mengevaluasi standar operasional Latsarmil Komcad agar tidak ada lagi korban jiwa, sambil memastikan transparansi penyelidikan.

Vanreko Varkas Bagaskara, aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif akibat heatstroke yang dialaminya saat Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) ASN K/L Gelombang 2 Tahun 2026 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Peristiwa nahas itu terjadi pada Jumat (25/9/2026), ketika pria yang akrab disapa Varkas tersebut tiba-tiba kehilangan kesadaran di tengah rangkaian latihan.
Kepala RSAU dr. Esnawan Antariksa, Kolonel Kes dr. Iman Fathurrohman, mengungkapkan bahwa Varkas mengeluh pandangan gelap dan pusing sekitar pukul 09.30 WIB, tak lama setelah menyelesaikan sesi pertama penutupan Latsarmil. Tim kesehatan Pusdikkes yang bersiaga di lokasi segera memberikan pertolongan pertama. Pemeriksaan awal menunjukkan hipotensi dan peningkatan suhu tubuh yang mengarah pada heatstroke—kondisi gawat darurat akibat paparan panas berlebih dan kelelahan fisik.
Upaya penyelamatan pun dilakukan secara maksimal. Petugas memberikan kompres dingin, infus, dan terapi oksigen sebelum Varkas dilarikan ke IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa. Di rumah sakit, tim dokter spesialis memantau kondisi hemodinamik dan fungsi organnya, bahkan sempat memberikan stabilisasi pernapasan. Hingga Jumat malam pukul 19.00 WIB, kondisi Varkas sempat membaik—ia sadar kembali dan tanda-tanda vitalnya stabil. Namun, pada Sabtu (26/9/2026) dini hari, ia mengalami kejang berulang dan penurunan kesadaran. Komplikasi sistemik dari heatstroke telah memengaruhi organ vitalnya.
Tim medis RSAU dr. Esnawan kemudian merujuk Varkas ke RSPAD Gatot Soebroto untuk penanganan neuro-intensive care. Ia tiba di IGD sekitar pukul 11.30 WIB dan langsung menjalani CT scan kepala serta perawatan intensif di ICU. Meski seluruh upaya medis terbaik telah dikerahkan oleh tim gabungan dari Pusdikkes, RSAU dr. Esnawan, dan RSPAD Gatot Soebroto, nyawa Varkas tidak tertolong. "Tuhan Yang Maha Esa berkehendak lain. Saudara Vanreko Varkas Bagaskara, S.Pd. dinyatakan meninggal dunia," ujar Iman dalam keterangan tertulis, Minggu (27/9/2026).
Almarhum merupakan sosok patriot muda yang berdedikasi, berintegritas, dan menunjukkan semangat bela negara yang luar biasa. Seluruh proses pemulasaraan, penghormatan terakhir, pendorongan jenazah ke rumah duka, hingga pendampingan fasilitas bagi keluarga sepenuhnya difasilitasi oleh Kementerian Pertahanan, Kementerian Ekonomi Kreatif dan instansi terkait.
— Kolonel Kes dr. Iman Fathurrohman, Kepala RSAU dr. Esnawan Antariksa
Insiden ini bukan sekadar kabar duka. Ia menyoroti sisi rentan dari program Latsarmil Komcad yang diikuti oleh ASN dari berbagai kementerian. Latihan fisik berat di bawah terik matahari, dengan perlengkapan lengkap, menuntut kesiapan fisik prima. Sayangnya, tidak semua peserta memiliki kondisi yang sama. Pertanyaan pun muncul: seberapa ketatkah skrining kesehatan sebelum latihan? Apakah protokol pendinginan dan hidrasi sudah memadai? Dan yang tak kalah penting, apakah ada evaluasi berkala terhadap intensitas latihan, terutama saat cuaca ekstrem?
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya para profesional dan investor, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tata kelola sumber daya manusia di sektor publik juga menyangkut keselamatan jiwa. Program pembinaan komponen cadangan adalah bagian dari pertahanan negara, tetapi pelaksanaannya harus mengedepankan standar keselamatan kerja. Kementerian Pertahanan dan Kemenekraf perlu memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang. Transparansi dalam investigasi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik.
Ke depan, desakan untuk merevisi prosedur Latsarmil Komcad akan semakin menguat. Apakah pemerintah akan mengaudit menyeluruh aspek kesehatan dan keselamatan dalam latihan militer bagi ASN? Ataukah kita hanya menunggu korban berikutnya sebelum bertindak? Publik berhak mendapatkan jawaban yang jelas, bukan sekadar janji evaluasi tanpa tindakan nyata.



