Inggris Kewalahan Hadapi Kebakaran Hutan: Investigasi Lemah, Peta Bahan Bakar Api Belum Ada
Baca dalam 60 detik
- Inggris mencatat musim panas terpanas dan kekeringan ekstrem, memicu lonjakan kebakaran vegetasi yang melampaui total sepanjang 2025.
- Ketiadaan investigator spesialis kebakaran hutan membuat penyebab pasti sulit dipastikan, sehingga strategi pencegahan berisiko salah sasaran.
- Sistem prediksi FireInSite dan pemetaan bahan bakar tengah dikembangkan, tetapi cakupan nasional masih jauh dari memadai.

Kemampuan Inggris dalam menangani kebakaran hutan dan lahan tengah diuji seperti belum pernah terjadi sebelumnya. Sepanjang pertengahan Agustus 2026, dinas pemadam kebakaran di Inggris dan Wales sudah menangani lebih banyak insiden kebakaran vegetasi dibandingkan total sepanjang tahun 2025, menurut data yang dihimpun kalangan peneliti. Musim panas tahun ini tercatat sebagai yang terpanas, diperparah kekeringan berkepanjangan yang mengubah lanskap hijau menjadi bahan bakar kering.
Namun di balik angka-angka itu, ada persoalan struktural yang jarang disorot: Inggris tidak memiliki cukup personel yang terlatih membaca jejak kebakaran. Andy Elliott, satu-satunya perwira pemadam kebakaran aktif di Inggris yang memiliki kualifikasi investigasi asal-usul kebakaran hutan, menyatakan bahwa kapasitas investigasi kebakaran vegetasi di negaranya praktis nol. "Saat ini tidak ada kemampuan investigasi kebakaran hutan di Inggris, titik," ujarnya.
Kesenjangan ini bukan sekadar soal keterampilan teknis. Laporan Forestry Commission tahun 2023 memperingatkan bahwa penentuan penyebab kebakaran sering dilakukan oleh petugas tanpa pelatihan khusus, sehingga akurasinya patut dipertanyakan. Tanpa investigasi yang mumpuni, asumsi keliru tentang pemicu kebakaran dapat menyesatkan upaya pencegahan. Contohnya, puntung rokok yang selama ini gencar dikampanyekan sebagai biang keladi justru dianggap sangat tidak mungkin oleh para ilmuwan kebakaran. Hal serupa berlaku untuk barbekyu sekali pakai—berbagai organisasi menyerukan pelarangan, tetapi data yang ada belum cukup untuk memastikan seberapa sering alat itu benar-benar memicu kebakaran.
Perubahan iklim memperparah kerentanan ini. Prof Stefan Doerr dari Swansea University menyebut Inggris telah berubah menjadi "kotak sumbu" raksasa. Ia dan timnya meneliti bagaimana bahan bakar lokal—dari rumput kering hingga pakis—bereaksi terhadap panas. Eksperimen di laboratorium menggunakan kalorimeter kerucut mengukur seberapa mudah vegetasi tersulut dan berapa energi yang dilepaskan pada musim yang berbeda. Hasilnya menjadi fondasi bagi FireInSite, sistem prediksi perilaku kebakaran yang mulai digunakan petugas untuk memperkirakan kecepatan rambat api dan tinggi nyala, berdasarkan jenis vegetasi, musim, dan cuaca terkini.
FireInSite mampu memberikan proyeksi hingga lima hari ke depan, membantu petugas menentukan jendela waktu yang tepat untuk menyerang api atau memutuskan mundur. "Jika model mengatakan panjang nyala mencapai enam hingga delapan meter, menyerang dengan pemukul api tidak akan berhasil—Anda butuh helikopter," kata Elliott. Meski demikian, Doerr menggarisbawahi keterbatasan sistem itu: model hanya menjelaskan bagaimana api membakar, bukan ke mana api akan bergerak.
"Di Inggris, banyak hal bisa terjadi dalam jarak 30 meter," ujar Prof Tom Smith dari London School of Economics, yang tengah mengadaptasi model penyebaran api untuk lanskap Inggris.
Untuk memprediksi arah penyebaran, dibutuhkan peta bahan bakar yang detail—sesuatu yang belum dimiliki Inggris secara nasional. FireInSite mengandalkan input manual pengguna tentang vegetasi di depan mereka, sementara model penyebaran memerlukan informasi tentang vegetasi apa yang akan ditemui api saat bergerak melintasi lanskap, termasuk kemiringan dan arah lereng. Smith menekankan bahwa perbedaan jalur selebar satu meter versus dua meter dapat menentukan apakah api melompat dari satu petak vegetasi ke petak lain.
Para peneliti tengah mengembangkan simulasi yang dapat menjalankan ribuan skenario kebakaran dari berbagai titik awal, menghitung probabilitas api mencapai lokasi tertentu. Pendekatan ini dapat mengidentifikasi komunitas berisiko tinggi dan titik-titik sempit yang berulang kali dilalui api, sehingga intervensi seperti pengurangan vegetasi bisa ditargetkan lebih tepat. Simulasi juga membantu menyusun rencana evakuasi, menghindari tragedi seperti kebakaran Pedrógão Grande di Portugal pada 2017 yang menewaskan puluhan orang saat mencoba melarikan diri.
Bagi Indonesia, dinamika ini menyimpan pelajaran penting. Sebagai negara dengan hutan gambut luas dan musim kemarau yang kian tak menentu, Indonesia menghadapi tantangan serupa: keterbatasan data penyebab kebakaran, peta bahan bakar yang belum terintegrasi, dan kapasitas investigasi yang timpang antara pusat dan daerah. Pendekatan Inggris yang tengah membangun sistem prediksi berbasis karakter vegetasi lokal bisa menjadi cermin—bahwa pencegahan kebakaran hutan tidak cukup mengandalkan pemadaman reaktif, melainkan membutuhkan pemahaman mendalam tentang perilaku api di lanskap spesifik.
Forestry Commission sendiri berencana membuka dua kursus pelatihan investigasi kebakaran hutan, namun keduanya masih menunggu pendanaan. Tanpa percepatan, celah pengetahuan ini akan terus melebar seiring musim panas yang semakin panas. Pertanyaannya kini: apakah Inggris—dan negara-negara rentan lainnya—akan berinvestasi pada pencegahan sebelum lebih banyak rumah dan ekosistem menjadi abu?



