Serangan Beruang di AS Melonjak, 15 Negara Bagian Kewalahan
Baca dalam 60 detik
- Setidaknya 15 negara bagian AS melaporkan peningkatan interaksi manusia dengan beruang sepanjang tahun ini, dipicu cuaca ekstrem dan pemulihan populasi.
- Otoritas satwa liar terpaksa melakukan eutanasia massal, seperti di Colorado yang memusnahkan 294 beruang—tiga kali lipat dari tahun lalu.
- Para ahli mendesak masyarakat tidak meninggalkan makanan di luar dan membawa semprotan beruang saat beraktivitas di alam liar.

Interaksi antara manusia dan beruang di Amerika Serikat melonjak tajam tahun ini, memaksa petugas satwa liar di sedikitnya 15 negara bagian mengambil keputusan sulit, termasuk melakukan eutanasia terhadap hewan yang masuk ke permukiman. Fenomena ini mencuat akibat kombinasi cuaca ekstrem yang merusak sumber pangan alami dan pemulihan populasi beruang setelah puluhan tahun dilindungi.
Dan Thompson, pengawas seksi karnivora besar di Departemen Perikanan dan Satwa Liar Wyoming, mengaku tahun ini merupakan salah satu periode terberat dalam kariernya. Ia memperkirakan jumlah beruang yang harus dimusnahkan oleh otoritas negara bagian akan mendekati rekor tertinggi. “Tidak ada dari kami yang memilih pekerjaan ini untuk membunuh hewan yang kami cintai,” ujarnya, menggambarkan dilema etis yang dihadapi petugas lapangan.
Pemicu utamanya adalah musim dingin yang lebih hangat dan kekeringan parah di wilayah barat AS, yang mengurangi ketersediaan buah beri dan biji ek—sumber makanan utama beruang untuk mengembalikan lemak setelah hibernasi. Menurut Nate Bowersock, biolog dari Departemen Konservasi Missouri yang juga memimpin organisasi BearWise, kondisi ini memaksa beruang mencari alternatif pangan hingga ke kawasan pemukiman. “Seluruh hidup mereka berputar pada pemulihan dan persiapan hibernasi, sehingga kebutuhan kalori sangat tinggi. Ketika makanan alami hilang, mereka harus mencari opsi lain,” jelasnya.
Selain faktor iklim, populasi beruang hitam, cokelat, dan grizzly di Amerika Utara terus bertambah dalam 50 tahun terakhir berkat pembatasan perburuan dan praktik penebangan hutan yang lebih lestari. Di sisi lain, pembangunan permukiman dan kunjungan ke taman nasional meningkat—dari 268 juta orang pada 1994 menjadi 331 juta pada 2024. “Kami melihat lebih banyak orang pindah ke area yang menjadi habitat beruang, dan itu memicu lebih banyak pertemuan,” kata Bowersock.
Di Colorado, 10 serangan beruang terkonfirmasi tahun ini merupakan angka tertinggi dalam sejarah. Bulan ini, seekor beruang hitam menggigit lengan seorang wanita melalui tenda, dan beruang lain masuk ke kondominium melalui jendela kamar tidur pada malam hari. Di New Mexico, seorang petugas pemadam kebakaran hutan berusia 67 tahun tewas diserang beruang di dalam rumahnya pada Agustus lalu.
Meski demikian, para ahli menegaskan serangan beruang masih tergolong jarang. Wes Larson, biolog beruang dan pembawa podcast Tooth & Claw, menekankan pentingnya edukasi. “Jika masyarakat tahu cara merespons beruang, mereka bisa menikmati pertemuan itu alih-alih takut,” katanya. Ia menyarankan agar masyarakat tidak meninggalkan makanan manusia atau hewan peliharaan di luar, menyimpan sampah dalam wadah tahan beruang, dan tidak memberi makan beruang. Saat berada di alam liar, bawa semprotan beruang dan simpan makanan di wadah khusus, bukan di tenda. Jika beruang mendekat, tetap berdiri, lambaikan tangan, dan berteriak “hey bear” hingga hewan itu pergi.
“Begitu beruang mendapatkan makanan yang mereka asosiasikan dengan manusia, kami menyebutnya human-food conditioning. Pada tahap itu, kami harus memusnahkan beruang tersebut,” tegas Thompson.
Langkah pencegahan tidak hanya melindungi manusia, tetapi juga menyelamatkan beruang dari kematian akibat konflik. Thompson, yang telah hampir dua dekade bertugas di Wyoming, meyakini lonjakan tahun ini hanyalah anomali. “Saya melihat naik-turun selama bertahun-tahun. Tingginya angka hewan yang disingkirkan karena konflik akan mengurangi populasi, jadi saya tidak berharap ini menjadi norma,” ujarnya.
Meski demikian, proyeksi krisis iklim yang akan memicu kekeringan lebih parah menimbulkan pertanyaan besar: apakah lonjakan interaksi manusia-beruang ini benar-benar sementara, atau justru awal dari pola baru yang harus diantisipasi oleh negara-negara bagian di AS—dan mungkin juga wilayah lain di dunia yang menghadapi tekanan serupa terhadap satwa liar?



