Tottenham di Ambang Krisis: De Zerbi Tertekan, Nagelsmann Jadi Solusi Jangka Panjang?
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur terpuruk di dasar klasemen Premier League setelah lima pertandingan, menempatkan Roberto De Zerbi di bawah tekanan besar.
- Manajemen Spurs menghadapi dilema setelah belanja besar musim panas senilai lebih dari ยฃ350 juta belum membuahkan hasil, dengan pemain baru kesulitan beradaptasi.
- Julian Nagelsmann disebut sebagai kandidat ideal untuk membangun proyek jangka panjang, meniru kesuksesan Mikel Arteta di Arsenal.

Krisis melanda Tottenham Hotspur. Setelah lima pertandingan Premier League, klub London utara itu terbenam di posisi juru kunci, dan tekanan terhadap manajer Roberto De Zerbi semakin tak terbendung. Kekalahan demi kekalahan, ditambah performa pemain baru yang jauh dari ekspektasi, membuat masa depan De Zerbi di kursi panas menjadi tanda tanya besar.
Musim panas lalu, Tottenham menggelontorkan dana lebih dari ยฃ350 juta untuk mendatangkan pemain anyar. Namun, strategi belanja yang terkesan sporadis justru menuai kritik. Pemain seperti Omar Marmoush, Sandro Tonali, Savio, dan Mateus Fernandes belum menunjukkan tanda-tanda adaptasi yang mulus. Dominic Solanke masih tumpul di lini depan, sementara lini pertahanan yang dirombak belum menemukan chemistry yang tepat.
Yang lebih mengkhawatirkan, semangat juang dan kekompakan tim mulai luntur. Para pemain tampak ragu dan tidak percaya diri. Mantan gelandang Tottenham, Jamie Redknapp, dalam analisisnya untuk Sky Sports, menyoroti keraguan yang melanda skuad Spurs. "Banyak pemain Tottenham Hotspur yang meragukan diri mereka sendiri," ujarnya. Jika tren negatif ini berlanjut, atmosfer di ruang ganti bisa memanas dan memaksa manajemen untuk kembali melakukan pergantian manajer.
Sejarah menunjukkan Tottenham kerap salah langkah dalam memilih manajer. Kegagalan Thomas Frank dan Igor Tudor menjadi pelajaran pahit. Kini, mereka tidak bisa lagi terjebak dalam siklus yang sama. De Zerbi, yang dikenal memiliki masa jabatan singkat di klub-klub sebelumnya, bukanlah sosok yang cocok untuk proyek jangka panjang. Tottenham membutuhkan figur yang bisa membangun fondasi stabil, seperti yang dilakukan Mikel Arteta di Arsenal.
"Tottenham membutuhkan manajer proyek. Seseorang yang bisa diandalkan untuk memperjuangkan stabilitas dan kesuksesan jangka panjang," tulis analis Football FanCast.
Nama Julian Nagelsmann muncul sebagai kandidat ideal. Pelatih asal Jerman itu pernah dikaitkan dengan Tottenham pada 2023, meski spekulasi pertemuan kedua pihak dibantah. Nagelsmann, yang dijuluki sebagai "pelatih muda terbaik di Eropa" oleh jurnalis Josh Bunting, memiliki kombinasi menarik antara gaya gegenpressing khas Jerman dan filosofi ball-playing yang ia adopsi dari Pep Guardiola. Kedekatannya dengan Guardiola, yang ia sebut sebagai "panutan" pada 2019, membuatnya mirip dengan Arteta yang belajar di bawah asuhan Guardiola sebelum sukses di Arsenal.
Nagelsmann meninggalkan timnas Jerman setelah tersingkir dari Piala Dunia via adu penalti melawan Paraguay. Meski demikian, reputasinya sebagai pelatih elit tidak perlu diragukan. Proyek jangka panjang di Tottenham bisa menjadi batu loncatan untuk membuktikan kemampuannya dan mengukuhkan diri sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Seperti Arteta, yang perlahan membangun Arsenal menjadi penantang gelar, Nagelsmann berpotensi melakukan hal serupa di London utara.
Bagi penggemar Tottenham, keputusan manajemen dalam beberapa pekan ke depan akan sangat krusial. Apakah mereka akan bertahan dengan De Zerbi dan berharap keajaiban, atau berani mengambil langkah besar dengan mendatangkan Nagelsmann? Sementara itu, bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika di Premier League selalu menjadi tontonan menarik, terutama karena liga ini memiliki basis penggemar besar di tanah air. Kisah Tottenham bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dan visi jangka panjang dalam membangun klub, sesuatu yang juga relevan dengan perkembangan sepak bola nasional.
Ke depan, jika Tottenham terus gagal meraih hasil positif, tekanan akan semakin besar. Nagelsmann mungkin bukan solusi instan, tetapi ia bisa menjadi fondasi untuk kebangkitan. Apakah manajemen Spurs berani mengambil risiko? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Tottenham tidak bisa terus berada di zona degradasi tanpa perubahan besar.



