PSG Bidik Sextuple Bersejarah: Bisakah Kalahkan Rekor Real Madrid?
Baca dalam 60 detik
- PSG berpeluang menjadi tim kedua yang meraih tiga gelar Liga Champions beruntun, menyamai catatan Real Madrid 2016-2018.
- Klub asuhan Luis Enrique itu menargetkan enam trofi dalam satu musim, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi di sepak bola Eropa modern.
- Jadwal padat pasca-Piala Dunia dan potensi hengkangnya Bradley Barcola menjadi tantangan utama sebelum laga Piala Super UEFA melawan Aston Villa.

Paris Saint-Germain (PSG) mengawali musim 2026/27 dengan ambisi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya: menyapu bersih seluruh enam kompetisi yang diikuti sekaligus mencetak sejarah sebagai tim kedua yang menjuarai Liga Champions tiga kali beruntun. Target itu bukan sekadar mimpi, melainkan kelanjutan dari dominasi mereka di Eropa setelah dua musim terakhir tampil sempurna di pentas tertinggi antarklub.
Pencapaian back-to-back juara Liga Champions yang diraih PSG—mengalahkan Inter Milan 5-0 di Munich pada 2025 dan menaklukkan Arsenal lewat adu penalti di Budapest tahun ini—menempatkan mereka di posisi istimewa. Sebelumnya, hanya Real Madrid yang mampu mempertahankan gelar juara Eropa secara beruntun, tepatnya pada periode 2016-2018. Bahkan tim-tim legendaris seperti Barcelona era Pep Guardiola, Manchester United arahan Alex Ferguson, atau Bayern Munich di berbagai generasi tak pernah melakukannya.
Jika berhasil meraih hattrick Liga Champions, PSG akan bergabung dengan jajaran elite: Real Madrid (1956-1960), Ajax (1971-1973), dan Bayern Munich (1974-1976) sebagai klub yang memenangkan tiga Piala Eropa berturut-turut. Namun, jalan menuju sejarah itu tidak mudah. Musim ini, skuad asuhan Luis Enrique akan bertarung di enam ajang: Piala Super UEFA, Trophée des Champions, Liga Champions, Ligue 1, Piala Prancis, dan Piala Interkontinental FIFA. Dari keenamnya, tiga di antaranya merupakan laga final tunggal yang menuntut konsistensi tinggi.
Musim lalu, PSG nyaris menyapu bersih semua gelar dengan memenangkan lima trofi—menyamai rekor klub—dan hanya gagal di Piala Prancis setelah kalah dari Paris FC pada Januari. Catatan tersebut menjadi modal berharga, tetapi belum ada satu pun klub besar yang pernah meraih enam trofi dalam satu musim. Rekor sebelumnya dipegang Celtic dengan lima gelar pada 1966-67, sementara Barcelona, Real Madrid, Bayern Munich, Manchester United, dan Manchester City masing-masing pernah mengoleksi empat trofi dalam semusim.
Kendati ambisius, PSG menghadapi tantangan signifikan di awal musim. Sebanyak 16 pemain mereka tampil di Piala Dunia 2026, dengan lima di antaranya membela Prancis hingga partai final dan Fabian Ruiz mengangkat trofi bersama Spanyol. Delapan pemain PSG mencetak gol di turnamen tersebut—sebuah rekor untuk satu klub. Namun, jeda hanya 24 hari antara final Piala Dunia dan Piala Super UEFA melawan Aston Villa di Salzburg membuat kebugaran pemain menjadi sorotan. Musim lalu, situasi serupa terjadi ketika mereka harus bermain imbang 2-2 melawan Tottenham sebelum menang adu penalti di Piala Super setelah tertinggal dua gol lebih dulu.
Konsistensi menjadi kekuatan utama PSG. Dalam dua final Liga Champions terakhir, mereka menurunkan susunan pemain yang sama untuk 10 pemain outfield, hanya pergantian kiper. Kesebelas pemain itu masih bertahan di klub, memberikan stabilitas yang jarang dimiliki tim lain. Namun, bursa transfer musim panas ini menunjukkan beberapa perubahan: Maghnes Akliouche dari Monaco, Lucas Digne dari Aston Villa, dan kiper muda Alessandro Longoni dari Milan telah direkrut, sementara Lee Kang-in dan Goncalo Ramos hengkang ke Atletico Madrid dan AC Milan. Yang paling mencolok, Bradley Barcola—yang menjadi pemain pengganti di final Liga Champions—dikabarkan akan bergabung dengan Liverpool dengan nilai sekitar £100 juta.
Upaya PSG mendatangkan penyerang sayap Yan Diomande dari Leipzig gagal setelah tawaran £102,5 juta ditolak; pemain asal Pantai Gading itu akhirnya memilih Real Madrid dengan banderol hingga £120 juta. Kini, fokus utama mereka adalah Ferran Torres dari Barcelona, yang mencetak satu-satunya gol kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia. Kehadiran Torres diharapkan dapat memperkuat lini serang yang sudah tajam, meski persaingan di posisi tersebut semakin ketat.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, dominasi PSG di Eropa memberikan gambaran bagaimana investasi jangka panjang dan perencanaan matang dapat mengubah nasib klub. Di tengah gencarnya pembahasan pengembangan sepak bola nasional, kisah PSG yang bangkit dari kegagalan demi kegagalan menjadi pelajaran berharga: kesabaran dan konsistensi adalah kunci, bukan sekadar belanja pemain mahal. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah PSG mampu menjaga ritme di tengah jadwal padat dan potensi kepergian pemain kunci? Atau justru tekanan untuk meraih sextuple akan menjadi bumerang bagi ambisi mereka di Liga Champions? Musim ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi warisan Luis Enrique di Paris.



