PSG Dapat Ruang Ganti Tambahan di Piala Super usai Protes ke UEFA
Baca dalam 60 detik
- PSG mengeluhkan ruang ganti yang terlalu sempit di Red Bull Arena, lalu UEFA menyediakan ruang ekstra untuk menyamakan fasilitas dengan Aston Villa.
- Insiden ini menyoroti standar fasilitas turnamen yang kerap menjadi perhatian klub besar Eropa, terutama saat bertanding di luar markas.
- Pertandingan Piala Super UEFA antara PSG dan Aston Villa akan menjadi ujian bagi kedua tim, dengan Villa yang berambisi mengulang kejayaan 1982.

Paris Saint-Germain (PSG) akhirnya mendapatkan ruang ganti tambahan untuk laga Piala Super UEFA melawan Aston Villa, setelah pihak klub secara terbuka menyampaikan ketidakpuasan terhadap fasilitas yang disediakan di Red Bull Arena, Austria. Keputusan UEFA ini diambil hanya dua hari sebelum pertandingan yang dijadwalkan berlangsung Rabu malam, menyusul protes yang dilayangkan perwakilan PSG dalam pertemuan pra-pertandingan pada Senin.
Menurut sumber yang dikutip BBC Sport, manajemen PSG menilai ruang ganti yang diberikan untuk tim tamu terlalu kecil, terutama jika dibandingkan dengan fasilitas yang dinikmati Aston Villa. Villa, yang berstatus juara Liga Europa, menggunakan ruang ganti utama kandang Red Bull Salzburg, sementara PSG harus puas dengan ruang ganti tandang yang lebih sempit. Padahal, PSG adalah juara bertahan Piala Super setelah mengalahkan Tottenham Hotspur melalui adu penalti musim lalu.
UEFA pun bergerak cepat dengan mengalokasikan ruang ganti cadangan yang biasanya digunakan untuk ofisial pertandingan. Langkah ini diambil tanpa menggeser posisi wasit atau ofisial lainnya, sehingga tidak mengganggu kelancaran laga. Keputusan ini dianggap sebagai bentuk kompromi untuk menjaga netralitas dan kenyamanan kedua tim, meski beberapa pihak menilai protes PSG berlebihan.
Insiden ini menjadi sorotan karena menyoroti bagaimana fasilitas turnamen kerap menjadi isu sensitif bagi klub-klub besar Eropa. PSG, yang dikenal dengan standar tinggi dalam hal fasilitas, tampaknya ingin memastikan para pemainnya mendapatkan kondisi terbaik untuk tampil maksimal. Pelatih Luis Enrique, yang membawa PSG meraih gelar Liga Champions musim lalu, tentu tidak ingin faktor non-teknis mengganggu persiapan timnya.
Di sisi lain, Aston Villa datang dengan motivasi tinggi setelah mengakhiri paceklik gelar selama 30 tahun lewat kemenangan di Liga Europa atas Freiburg di Istanbul. Pelatih Unai Emery, yang pernah menukangi PSG pada 2016-2018, kini berhadapan dengan mantan klubnya. Ini menjadi narasi menarik, mengingat Emery pernah dipecat dari PSG setelah gagal membawa tim juara Liga Champions.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, laga ini juga menarik untuk disimak karena menampilkan dua tim dengan gaya bermain berbeda. PSG yang bertumpu pada penguasaan bola dan serangan cepat akan diuji oleh Aston Villa yang solid di bawah arahan Emery. Selain itu, kehadiran pemain seperti Lucas Digne yang baru pindah ke PSG menambah bumbu persaingan, karena ia akan langsung berhadapan dengan mantan rekan setimnya.
Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi PSG yang musim lalu sukses meraih treble winner (Liga Champions, Ligue 1, dan Piala Super). Namun, dengan kepergian beberapa pemain kunci dan kedatangan wajah baru, konsistensi mereka akan diuji. Sementara itu, Aston Villa berambisi menunjukkan bahwa keberhasilan mereka di Eropa bukan kebetulan.
Dengan adanya penambahan ruang ganti, PSG diharapkan bisa lebih fokus menghadapi laga. Namun, pertanyaan yang muncul adalah apakah protes semacam ini akan menjadi preseden bagi klub-klub lain di masa depan? Atau justru UEFA akan lebih ketat dalam menstandarkan fasilitas di setiap turnamen? Yang jelas, laga ini akan menjadi pertarungan sengit antara dua kandidat kuat juara.



