Amy Hunt Raih Emas 100m Eropa, Tanda Peralihan Generasi Sprint Inggris
Baca dalam 60 detik
- Amy Hunt mempersembahkan emas pertama Inggris di Kejuaraan Atletik Eropa 2025 setelah finis 11.00 detik di nomor 100m putri.
- Kemenangan di Birmingham ini menegaskan pergeseran kekuatan di sprint putri Inggris, menggeser dominasi Dina Asher-Smith yang hanya finis kelima.
- Hunt berpeluang menambah koleksi medali di nomor 200m dan dua estafet 4x100m yang digelar pekan ini.

Amy Hunt memastikan namanya masuk dalam jajaran pelari cepat elite Eropa setelah merebut medali emas nomor 100 meter putri pada Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham, Minggu (10/8). Kemenangan ini sekaligus menjadi emas pertama bagi Inggris di ajang tersebut dan menandai babak baru dalam persaingan sprint putri Negeri Ratu Elizabeth.
Pelari berusia 24 tahun itu mencatatkan waktu 11.00 detik, mengungguli Ewa Swoboda dari Polandia (11.02) dan Delphine Nkansa asal Belgia (11.06). Kemenangan ini terasa istimewa karena terjadi di hadapan pendukung sendiri di Alexander Stadium, hanya dua pekan setelah Hunt meraih perak di Commonwealth Games. Dengan percaya diri yang tengah memuncak—setelah musim ini menembus batas 11 detik untuk pertama kalinya—Hunt tampil agresif di paruh kedua balapan, melesat dari posisi kelima menjadi pertama.
Kemenangan ini bukan sekadar prestasi pribadi. Ia menjadi sinyal peralihan generasi di sprint putri Inggris, di mana Dina Asher-Smith—pemegang rekor nasional dan peraih enam emas Eropa—hanya mampu finis kelima dengan catatan 11.10 detik. Asher-Smith, yang tampil sebagai juara bertahan, gagal bersaing untuk medali di usia 30 tahun. Analis olahraga menilai regenerasi ini adalah proses alami, tetapi kecepatan Hunt menunjukkan bahwa masa depan sprint Inggris berada di tangan yang tepat.
Perjalanan Hunt menuju puncak tidaklah mulus. Setelah memecahkan rekor dunia U-18 untuk 200 meter pada 2019, karier seniornya sempat terhambat cedera, termasuk robeknya otot paha depan pada 2022. Ia juga harus membagi waktu antara latihan intensif dan kuliah Sastra Inggris di Cambridge. Kini, di bawah bimbingan pelatih Marco Airale di Padova, Italia, Hunt mampu tampil konsisten dan memecahkan rekor pribadi. "Saya sangat bangga bisa tampil di depan publik sendiri dan memberikan yang terbaik," ujarnya usai balapan, seperti dikutip media setempat.
Bagi Indonesia, prestasi Hunt menjadi pengingat bahwa investasi jangka panjang pada pembinaan atlet muda—dengan dukungan pelatih berkualitas dan keseimbangan pendidikan—adalah kunci melahirkan juara. Federasi Atletik Indonesia dapat menjadikan kisah Hunt sebagai studi kasus dalam pengembangan sprinter seperti Lalu Muhammad Zohri, yang juga menanjak dari level junior. Namun, tanpa infrastruktur dan kompetisi rutin, potensi besar atlet muda seringkali gagal berkembang.
Kesuksesan Hunt di kandang sendiri membuka peluang besar untuk menambah koleksi medali. Ia dijadwalkan tampil di nomor 200 meter serta estafet 4x100m putri dan campuran. Jika konsisten, bukan tidak mungkin ia menjadi bintang utama kejuaraan ini. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa di tengah padatnya jadwal? Atau justru tekanan ekspektasi publik akan menjadi ujian berikutnya bagi pelari yang baru saja menemukan puncak performanya?



